Allah berfirman : "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang di beri ilmu pengetahuan beberapa derajat." (Q.S. Al-Mujadalah : 11). Rasulullah bersabda : "Barang siapa yang menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan dunia, wajiblah ia memiliki ilmu, barang siapa yang ingin selamat dan berbahagia di akhirat, wajiblah ia mengetahui ilmu dan barangsiapa yang menginginkan kedua-duanya, wajiblah ia memiliki ilmu kedua-duanya pula." (H.R. Bukhari dan Muslim).

MENUJU KELUARGA BERBAHAGIA

Mewujudkan keluarga "sakinah mawaddah warrahmah" itu adalah sangat perlu melalui proses yang panjang dan pengorbanan yang besar bagi masing-masing pasangan kedua belah pihak, di antaranya adalah :
1. Pilih pasangan yang shalih atau shalihah yang taat dan yang berilmu dalam menjalankan perintah Allah dan sunnah Rasulullah;
2. Pilihlah pasangan dengan mengutamakan keimanan dan ketaqwaannya dari pada
kecantikannya, kekayaannya, kedudukannya dan berakhlakul karimah;

HAL-HAL KEMUNAFIKAN

Sifat-sifat mereka yang merasa diri sendiri sebagai orang yang berakal, pandai dan cerdas dan yang suka cari perhatian, sementara orang-orang yang beriman mereka anggap sebagai orang-orang yang bodoh, dungu, sok alim, sok pintar, berpikiran sederhana dan sebagainya. Oleh karena itu, ketika di katakan kepada mereka apa sebab kalian memisahkan diri dari individu-individu, barisan dan kelompok masyarakat serta yang kurang atau bahkan tidak beriman sebagaimana mereka? dalam menjawabnya, mereka mengecap jiwa yang selalu turut berjuang dan membela agama serta saudara-saudara mereka baik di masa senang maupun di masa susah sampai kapan dan di manapun, sebagai orang-orang yang bodoh, sedangkan sikap mereka ini suka mendua, artinya lain di dalam (hati) lain pula di luar (bibir) dan inilah suatu ciri kemunafikan, mereka anggap sebagai kecerdasan dan kepandaian adalah baik semua, padahal belum tentu.

BIASAKANLAH DZIKIR (INGAT) KEPADA ALLAH SETIAP SAAT

Dzikir itu di maknakan dan diterapkan ada 4, yaitu :
1. Dzikir, di mana engkau mengingat dzikir (menyengaja).
2. Dzikir yang kamu lakukan atau diingatkan melalui dzikir (rutinitas).
3. Dzikir yang spontan mengingatkan dirimu.
4. Dzikir yang kamu lakukan yang di ingatkan oleh Allah (dzikir bersama Allah).
Yang pertama adalah dzikirnya kalangan biasa yang mulai melatih diri, yaitu dzikir untuk mengingatkan kelalaian, kealpaan atau mengingatkan dari kekhawatiran akan kelalaian, kelupaan atau kealpaan.
Kedua adalah dzikir, di mana kamu di ingatkan, baik berupa karena ujian, cobaan, nikmat, taqarrub ataupun karena telah sadar jauh dari Allah dan sebagainya, ataupun yang memang karena ketaatan, yaitu karena Allah.

TENTANG SAHABAT YANG BAIK

Dari Nu’man bin Basyir, Rasulullah bersabda,“Perumpamaan persaudaraan kaum muslimin dalam cinta dan kasih sayang di antara mereka adalah seumpama satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit maka mengakibatkan seluruh tubuh menjadi demam dan tidak bisa tidur.”  (H.R. Muslim). “Seorang Muslim adalah saudara muslim lainnya, ia tidak menzaliminya, merendahkannya, menyerahkan (kepada musuh) dan tidak menghinakannya.”  (H.R. Muslim).  
“Teman yang paling baik adalah apabila kamu melihat wajahnya, kamu teringat akan Allah, mendengar kata-katanya menambahkan ilmu agama, melihat gerak-gerinya teringat mati.”