ASSALAAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH ►►SELAMAT DATANG DI BLOG WADAH SUFIYAH AN-NAQSYABANDI PASIR PANGARAIAN KABUPATEN ROKAN HULU PROVINSI RIAU

Minggu, 30 Oktober 2016

ANTARA TAKUT DAN BERHARAP BAIK ADALAH SIFATNYA ORANG MUKMIN

Apabila kamu ingin di bukakan oleh Allah pintu harapan, maka perhatikan apa yang di berikan Allah kepadamu yang berupa nikmat-nikmat dan rahmat Allah dan apabila kamu ingin di bukakan bagimu pintu-pintu kekhawatiran, maka perhatikanlah sejauh apa amal perbuatanmu terhadap Allah.
Jika selalu memperhatikan kebesaran dan padatnya nikmat, kasih sayang Allah yang di limpahkan kepadamu, pasti engkau akan selalu optimis dan berharap baik kepada-Nya, sebaliknya bila selalu memperhatikan kecurangan dan kecurangan kewajiban-kewajibanmu terhadap Allah, pasti timbullah rasa takut dan khawatir di hadapan Allah untuk di adzab-Nya kelak. Dua perasaan itu yaitu takut dan berharap baik kepada Allah itu adalah sifat-sifatnya orang-orang mukmin dan memang ini harus di punyai oleh setiap hamba Allah.

BAHAYA PERTENGKARAN DAN PERBANTAHAN



Perbantahan dan pertengkaran itu adalah terlarang, Rasulullah bersabda,”Jangan kamu berbantah-bantahan dengan saudaramu, jangan kamu bersenda gurau dan menjanjikan dia dengan suatu janji. Lalu engkau menyalahi janji itu.” (H.R. At-Tirmidzi). “Tinggalkanlah perbantahan, karena dengan perbantahan tidak akan di pahami hikmah dan tidak akaan aman dari fitnah.” (H.R. Ath-Thabrani). “Barang siapa meninggalkan perbantahan dan dia itu benar, niscaya di bangun baginyya suatu rumah di tengah-tengah syurga.” (H.R. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Sabtu, 29 Oktober 2016

MAHABBAH



Mahabbah menurut arti bahasa adalah saling cinta mencintai. dalam kajian tasawuf, mahabbah berarti mencintai Allah dan mengandung arti patuh kepada-Nya dan membenci sikap yang melawan kepada-Nya, mengosongkan hati dari segala-galanya kecuali Allah serta menyerahkan seluruh diri kepada-Nya. Mahabbah juga dapat di artikan sebagai luapan hati dan gejolaknya ketika di rundung keinginan untuk bertemu dengan kekasih yang sebenarnya, yaitu Allah. Oleh karena itu, cinta sering di artikan sebagai berikut :
  1. Menyukai kepatuhan kepada Tuhan dan membenci sikap yang melawan-Nya;
  2. Menyerahkan seluruh diri (jiwa dan raga) kepada yang di kasihi, dan
  3. Mengosongkan hati daripada segala-galanya, kecuali dari yang di kasihi.
Cinta sering mendatangkan kebutaan dan kesengsaraan, cinta membutakan segala sesuatu, kecuali terhadap yang di cintai orang itu tidak melihat apa pun kecuali Dia.

IHSAN...SEBAGIAN DARI HASIL RENUNGAN ATAS CIPTAAN ALLAH


Allah telah memerintahkan kamu selama kamu hidup di dunia ini untuk memperhatikan semua ciptaan Allah dan kelak di akhirat Allah memperlihatkan kepadamu kesempurnaan dzat-Nya. Semua hamba yang hidup di dunia ini telah di perintahkan oleh Allah agar pandai memikirkan serta merenungkan tentang kejadian yang ada di alam ini, sebab orang yang selalu memikirkan ciptaan Allah, tentu ia akan mengetahui hakikat Allah dengan penglihatan mata hatinya, kalau sudah demikian, orang tersebut selalu berbuat kebaikan, sebab di mana saja tempatnya selalu di awasi dan di lindungi-Nya, sehingga enggan untuk berbuat kemaksiatan, Allah berfirman,”Katakanlah, perhatikan apa yang ada di langit dan di bumi.” (Q.S. Yunus : 101). Juga Allah berfirman,”Wajah-wajah orang-orang mu’min pada hari itu berseri-seri, kepada Tuhannyalah mereka melihat.” (Q.S. Al-Qiyamah : 22-23).

Kamis, 27 Oktober 2016

JAUH BERBEDA AMAL YANG DI PIMPIN NAFSU DENGAN AMAL DARI KARUNIA-NYA DENGAN BERSANDAR PADA SIFAT ALLAH

“Laa nihayata limadzaammika in arja’aka ilaika walaa tafraghu madaa fihaka adhhara wujuudahu ‘alaika.” (Tidak ada batas akhirnya dan tidak ada selesainya keburukanmu jika Allah mengembalikan kamu kepada kepada kekuatan usaha dan daya upayamu sendiri. Dan tidak akan ada habisnya kebaikanmu, jika Allah memperlihatkan kemurahan-Nya kepadamu).  Tidak akan ada pangkal ujungnya atau batas akhirnya seseorang yang mengerjakan kejahatan, jika amal itu di setir oleh nafsunya yang buruk, sebab amal itu di kuasai dan di dasari oleh nafsu yang buruk secara terselubung, karena identik nafsu adalah keburukan. Sebaliknya orang yang tidak merasa bosan atau tidak henti-hentinya untuk mengerjakan amal kebaikan jika Allah memberikan sifat kemurahan-Nya kepadanya, oleh sebab itu tiada jalan lain bagi seseorang hamba untuk memohon kepada Allah supaya di selamatkan dari rongrongan nafsu yang buruk dan selalu mohon pertolongan dan senantiasa bersandar kepada-Nya.

Rabu, 26 Oktober 2016

KEWAJIBAN "GURU" ADALAH KEBIASAAN SEMU TARIKAN ALLAH LEBIH BERNILAI



Perpegangan yang teguh kepada Allah adalah suatu keharusan untuk mengikuti dan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, bukanlah suatu keharusan bahwa untuk sampai kepada Allah harus dengan wasilah, wasithah, rabithah atau perantaraan guru, syeikh, kyai dan lain sebagainya, sebagaimana yang di sangkakan oleh sebagian dari kalangan ulama sufi itu sendiri, mereka ini hanya sekedar pembimbing, pengarah dan penyampai tentang cara-cara ibadah ketuhanan, hal inilah yang mendorong blog ini menyampaikan semua kerangka kurikulum pembelajaran tata cara ibadah ketuhanannya para sufi melalui Thariqat An-Naqsyabandi ini, tentang wasilah, wasithah dan rabithah ini hanyalah suatu kebiasaan di kalangan jama’ah para sufi tersebut yang terlalu mengagungkan manusia terhadap Tuhannya, sementara sufi itu sendiri paada dasarnya tidak mempedulikan hal ini dan sebisanya mereka malah meluruskan, bahwasanya di hadapan Allah itu semua sama, yang membedakan hanya iman dan ketaqwaan saja. Allah sampaikan seseorang hamba kepada-Nya atas kehendak-Nya jua dengan beberapa macam tarikan (jadzabaat) berdasarkan perjuangan hamba tersebut dalam mendaki dan menempuh jalan untuk menuju kepada-Nya.

Selasa, 25 Oktober 2016

TENTANG NAFSU DIRI DAN TINGKATANNYA


Setelah fanafillah,
Jadilah apa yang di mau,
Ilmu itu tiada kebodohan,
Laku tingkah jaga tiada dosa….
Mengenal atau menyadari diri itu adalah suatu hal yang amat penting bagi tiap individu atau perorangan, karena siapa sajayang mengerti terhadap dirinya pasti pula dia bisa mengerti akan tentang Tuhannya, tegasnya siapa yang mengerti, mengenali, menyadari tentang dirinya yang rendah di hadapan Allah, penuh kekurangan dan bersifat fana, bila ia mengerti dan telah menyadari terhadap Allah yang memiliki kemuliaan, kekuasaan dan keabadian, begitu pula sebaliknya, siapa yang tidak mengerti tentang dirinya, berarti ia lebih-lebih lagi tak akan mengenal akan Tuhannya.
Sudah seharusnyalah orang yang benar-benar berakal menyingsingkan lengan bajunya untuk menuntut ilmu syari’at, thariqat, hakikat dan makrifat dengan penuh kesungguhan tanpa putus asa dan rasa lemah untuk menuntut ilmu, agar jangan sampai terjadi padanya datang penyakit buta hati karena kebodohan akan ilmu agama, sebab manusia dan makhluk hidup lainnya pasti akan mati, hanya selama hidup dapat untuk beramal ibadah dan mengenal-Nya, Allah berfirman,”Siapapun selagi masih hidup di dunia ini, tetap dalam kebutaan, maka di akhirat kelak dia akan lebih buta dan sesat jalan.” karena itu berusahalah dengan keras agar menghindarkan diri dari kebutaan mata hati dan sesat untuk menuju kejalan Allah. Selanjutnya hendaklah di ketahui bahwa nafsu diri itu adalah sesungguhnhya suatu Lathifah Rabbaniyah (cahaya ketuhanan yang amat halus) dan itulah yang di namakan ruh, sebelum ruh itu berhubungan dengan jasad, atau di tiupkan ke jasad (hidup), Allah memang telah menciptakan ruh-ruh itu sebelum di adakan jasad.

Senin, 24 Oktober 2016

KEWAJIBAN BERDZIKIR DAN BERSHALAWAT DI MANAPUN BERADA

Rasulullah bersabda : “Beberapa orang yang duduk-duduk di suatu tempat tanpa berdzikir dan membaca shalawat atas nabi mereka, pasti mereka akan tertimpa dosa. Allah bisa menyiksa atau mengampuni mereka.” Hadits ini di takhrij oleh Imam At-Tirmidzi (2/242), Imam Al-Hakim (1/496), Ismail Al-Qadhi di dalam Fadhlus-Shalati Alan-Nabi Sallallahu ‘Alaihi wassallam, Ibnu Sina di dalam Amalul Yaum Wal Lailat (hadits no.443), Imam Ahmad (2/446,453,481,484,495) dan Abu Na’im di dalam Al-Hilyah (8/130) dari Sufyan Ats-Tsauri dari Saleh Maula At-Tu’mah dari Abu Hurairah secara marfu’.

Minggu, 23 Oktober 2016

LARANGAN BERDIRI KARENA KEDATANGAN ORANG LAIN

"Seseorang tidak (boleh) berdiri karena (kedatangan orang lain, akan tetapi longgarkanlah, niscaya Allah akan memberi kelonggaran kepada kalian." Hadits ini di takhrij oleh Imam Ahmad di dalam Kitab Musnad-nya (2/438). ia berkata : Telah meriwayatkan kepada kami dari Suraih, ia berkata : "Telah meriwayatkan kepada kami Fulaih, dari Ayyub bin Abdirrahman bin Sha'sha'ah Al-Anshary, dari Ya'qub bin Abi Ya"qub dari Abu Hurairah secara marfu'." Nah, mengenai riwayat Ya'qub bin Abi Ya'qub, di dalam At-Tahdzib di jelaskan: "Abu Hatim menilainya bahwa Ia jujur (shaduq) dan di sebutkan oleh Ibnu Hibban di dalam Ats-Tsiqat (perawi-perawi tsiqah)." Ibnu Abi Hatim menulis biografinya di dalam Al-Jarh Wat-Ta'dil, tetapi ia tidak menyebutkan penilaian ayahnya yang mengatakan shaduq, sedangkan Ibnu Sha'sha'ah di sebutkan oleh Ibnu Hibban di dalam Ats-Tisiqat. Adapun yang meriwayatkan darinya adalah para jama’ah yang juga terdapat dalam Al-Khazraji ini yang juga terdapat di dalam Al-Khulashah dan Al-Hafizh yang tercantum di dalam Ai-Taqrib yang menyebutkan: "la seorang perawi shaduq." Sedang perawi-perawi lainnya juga termasuk para perawi yang di pakai oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, artinya adalah shahih.

MENGHIDUPKAN KEMBALI SUNNAH PENTING YANG TERBENGKALAI

Tidak sedikit hadits shahih yang memerintahkan kita agar meluruskan barisan ketika shalat. Hadits-Hadits itu bahkan telah di kenal di kalangan pencinta ilmu agama, lebih-lebih guru mereka, tetapi tidak sedikit di antara mereka yang belum menyadari bahwa apa yang di perintahkan Rasulullah adalah tidak semata-mata meluruskan barisan antara bahu dengan bahu, tetapi juga antar kaki dengan kaki, bahkan kita sering mendengar seorang imam masjid yang menyerukan untuk meluruskan barisan antar bahu saja, tidak sekalian dengan kaki, karena hal ini merupakan penyimpangan dari sunnah Rasulullah, maka dengan menyebutkan hadits-hadits yang berkenaan dengan perintah tersebut, maka hal ini di maksudkan agar menjadi peringatan bagi mereka yang ingin mengamalkan ajaran Rasulullah dari sumber yang benar-benar valid, bukan dengan cara mengikuti tradisi yang tidak sesuai, atau mengikuti mereka yang sedikit pengetahuannya tentang agama. Ada dua hadits shahih yang berkenaan dengan perintah itu, yaitu hadits dari Anas dan hadits dari Nu’man bin Basyir.

Sabtu, 22 Oktober 2016

RUH AMAL

Masalah amal terbagi kepada dua macam, yaitu amalan lahir dan amalan bathin, di kenal juga kajian jasad dan ruh yang mana uraiannya sangat luas dan mencakup kepada rangka dan nyawa. Mengenai amal ini menurut kajian pada tasawwuf bisa di katakan laksana buah, yakni ada kulit ada isi, bathin di sini maksudnya ruh dan nyawa, dalam beramal maka di kenal dengan Ruh Amal, yakni ruh ketika beramal, ruh ketika berpikir, ruh ketika melaksanakan sesuatu, ruh ketika berjuang dan berjihad menegakkan syari’at dan ruh pada segala usaha secara ikhtiar lahiriah dan secara bathin yang bekerja sama dengan jasmani ketika pelaksanaan secara luar atau dzahir. Ruh amal inilah yang mesti kita jaga dengan sungguh-sungguh, karena ia merupakan nyawa dari segala ibadah secara bathin atau rohani, di samping kita tidak juga menafikan amal lahir atau syari’at lahir, yakni perkara-perkara yang dapat di kerjakan dengan pelaksanaan lahir.

Selasa, 18 Oktober 2016

HIKMAH CINTA KEPADA ALLAH (MAHABBAH)


Cinta yang membuahkan kebahagiaan yang sejati kepada manusia ada tiga macam, sebagaimana yang di terangkan dalam hadist dari Anas Ra, “Barangsiapa yang terdapat padanya tiga perkara, maka dia akan merasakan kemanisannya iman, yang tiga perkara itu ialah : 1. Mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi cinta kepada yang lain, 2. Mencintai manusia karena berdasarkan cinta kepada Allah semata-mata, 3. Membenci kembali  kepada kufur (ingkar) laksana seorang yang benci untuk di lemparkan ke dalam api.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Kata cinta amat sukar untuk di definisikan dengan kalimat yang pendek dan ringkas, sebab kata cinta ini meliputi berbagai bidang dan keadaan. Secara umum dapat di definiskan sebagai suatu gejala emosi yang menggelora, yang timbul dalam jiwa dan hati manusia, di liputi oleh rasa keinginan dan hasrat yang memuncak karena sesuatu hal. Seperti di katakan cinta, maka tanggapan manusia secara umum lantau terus tertuju atau identik kepada muda mudi yang berpacaran, di mana kalau di telusuri cinta muda mudi ini di dahului dengan pandangan mata, terus di iringi senyuman malu-malu meong, yang akhirnya jantung berdebar, ingat siang dan malam, tak makan tak enak tidur, pokoknya semua bergelora, itulah cinta….”katanya”.

Minggu, 16 Oktober 2016

HIKMAH ADANYA NAFSU


Seumpama tidak ada berbagai medan nafsu, niscaya tidak akan nyata perjalanan orang-orang yang berjalan kepada Allah, jika tidak ada jarak antara kamu dengan Allah, di mana kendaraanmu dapat menempuhnya dan tidak ada pemutusan antara kamu dengan Allah, sehingga sesuatu hubungan yang menghapusnya.
Empat di antaranya yang menjadi musuh manusia yang termasuk juga di situ hawa nafsu, sampai-sampai di katakan Rasulullah bahwa perang yang paling besar adalah perang melawan hawa nafsu, tapi harus tahu di balik musuh itu ada suatu hikmah yang besar nan terkandung di dalamnya, sebab seandainya jika tidak ada hawa nafsu, pasti orang tidak akan ada gairah dan bersungguh-sungguh dalam menuju hadirat Allah dengan menjalankan berbagai amal ibadah.

Sabtu, 15 Oktober 2016

Al-HIRAH (TAKJUB, BINGUNG)

AL-Hirah merupakan ketakjuban dan puncak dari pengenalan akan Allah yang dalam hal ini di jelaskan: “’Uluhiyyat (ketuhanan) dapat di katakan karena ia merupakan tawajjuh (kehendak) Dzat untuk mewujudkan semua hal yang mungkin, adapun Dzat tidaklah dapat di katakan namun di saksikan.” Dzat Allah Esa dan Tunggal adanya namun tidaksatu makhlukpun dapat mengetahui hakikat Dzat tersebut serta segala potensi yang ada pada Dzat Allah. Penyaksian akan Dzat-Nya bisa terjadi pada orang tertentu dan penyaksian itu bukanlah meliputi akan keadaan Dzat-Nya, oleh sebab itu tidak bisa di katakan karena segalanya luluh dan fana ketika penyaksian itu terjadi.

KONSEP WIHDATUL WUJUD



Wihdatul Wujud adalah salah satu konsep pemahaman dalam beribadah secara bathiniah dalam ajaran Islam yang mengemukakan bahwa tidak ada sesuatu pun yang wujud kecuali Tuhan. Segala yang ada selain Tuhan adalah penampakan lahiriah dari sifat-sifat-Nya. Keberadaan makhluk tergantung pada keberadaan Tuhan yang Maha menciptakan segala bentuk isi alam, dari yang kasar sampai yang halus-halus yaitu pada hakikatnya berasal dari wujud illahiyyah jua. Faham Tauhid Wujudiyah bahkan merupakan jadi panutan dalam pemikiran golongan sufi. Pemikiran yang selalu menjadi sorotan tajam dari kaum fuqaha.

DASAR DZIKIR

Di dalam mentalqin dzikir, dapat melakukannya kepada siapapun atau kepada perorangan. Hal ini  di dasarkan pada riwayat Imam Ahmad dan Imam Ath-Thabrani yang menerangkan bahwa Rasulullah Saw telah men-talqin para sahabatnya, baik secara berjama’ah atau perorangan. Adapun talqin Nabi Saw kepada para sahabatnya secara jama’ah sebagaimana di riwayatkan dari Sidad bin Aus Ra, yaitu ”Ketika kami (para sahabat) berada di hadapan Nabi Saw, beliau bertanya : ”Adakah di antara kalian orang asing (maksud beliau adalah ahli kitab), aku menjawab : ”Tidak!” Maka beliau menyuruh menutup pintu, lalu berkata : ”Angkatlah tangan-tangan kalian dan ucapkanlah Laailaahaaillallaah!” Kemudian beliau melanjutkan : ”Alhamdulillah, ya Allah sesungguhnya Engkau mengutusku dengan kalimat ini ”Laailaahaaillallaah”, Engkau perintahkan aku dengannya dan Engkau janjikan aku Syurga karenanya. Dan Engkau sungguh tidak akan mengingkari janji.” Lalu beliau berkata : ”Ingat! Berbahagialah kalian, karena sesungguhnya Allah telah mengampuni kalian.”

Sabtu, 08 Oktober 2016

HAL-HAL YANG MEMBUAT GAGAL DALAM MENGGAPAI KERIDHAAN ALLAH



Peliharalah diri agar jangan sampai jatuh ke lembah maksiat dan kelalaian serta kemalasan, baik maksiat lahir maupun bathin, begitu juga hendaknya agar dapat melepaskan diri dari hal-hal yang dapat merusakkan perjalanan cita-cita menuju keridhaan Allah.

Jumat, 23 September 2016

PENGERTIAN QALB, AQL, NAFS DAN RUH

Pengertian Ruh, Qalb, Aql dan Nafs 
Menurut Imam Al-Ghazali istilah Ruh, Qalb, Aql dan Nafs sama-sama mempunyai dua makna. Kata qalb bermakna hati dalam bentuk fisik maupun hati dalam bentuk non fisik. hati dalam bentuk fisik adalah bagian tubuh manusia yang sangat penting karena penjadi pusat aliran darah ke seluruh tubuh, darah ini pula yang membawa kehidupan, oleh karena itu Rasulullah bersabda: ”Sesungguhnya dalam diri manusia terdapat segumpal daging, jika gumpalan daging itu bagus maka akan baguslah seluruh anggota tubuh, jika gumpalan daging itu rusak maka akan rusak pula seluruh anggota tubuh. ketahuilah, gumpalan daging itu adalah jantung (Qalb).” Berdasarkan hadits ini sebenarnya tidak tepat kalau Qalb itu di artikan dengan hati, tetapi yang tepat adalah jantung. Lalu muncul hati yang bisa sedih, suka menangis, atau suka tersinggung. Berikutnya di jelaskan bahwa hati kita inilah yang menentukan seluruh kepribadian kita. kalau hati kita bersih, akan bersihlah seluruh akhlak kita. Yang ini bukan hati dalam pengertian fisik, akan tetapi hati dalam pengertian ruhani. Oleh karena itu Kata Al-Ghazali, ada makna hati yang kedua, yaitu : Lathifah Rabbaniyah Ruhaniyyah. (sesuatu yang lembut yang berasal dari Tuhan dan bersifat ruhaniyah), lathifah itulah yang membuat kita mengetahui atau merasakan sesuatu kata Al-Qur’an, hati itu mengetahui merasakan, juga memahami, jadi hati adalah suatu bagian ruhaniyah yang kerjanya memahami sesuatu, itulah Qalb.