MURAQABAH AHDIYATUL AF’AL

Dalam ajaran sufi di kenal muraqabah (mengintai atau mengawasi), tujuannya merupakan merenungkan akan kerendahan seseorang hamba terhadap khalik-Nya guna mengerti akan kebesaran dan ke-ESA-an Allah dalam penciptaan alam semesta berikut isinya secara keseluruhan untuk memahami sifat syukur dan ridha akan kehendakNya atas semua makhluk. Hal ini tercantum dalam firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Yunus Ayat : 61 yang berbunyi demikian : “Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al-Qur’an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).”

Muraqabah juga merupakan menjaga hati dari segala hal bermacam-macam rasa atau lintasan hati yang terlintas, seperti was-was dan khawatir walaupun hal baik atau buruknya suatu hal keadaan seseorang hamba saat bertafakkur kepada tuhannya, pengamalan muraqabah ini seseorang hamba tidaklah perlu mengerjakan dzikir, tetapi tertibnya hanya perlu mengheningkan akan keberadaan hati dan pikirannya serta berniat hanya tertuju kepada Allah saja, caranya duduk tafakkur dalam waktu yang tidak terbatas sambil mengintai bahwa i’tikad pada diri kita secara lahir dan bathin yakin bahwa di lihat oleh Allah dan segala yang kita tuju selalu di ketahui dan di ridhai-Nya.

Bila seseorang hamba berhasil dalam pelaksanaan ini maka akan merasakan dengan haqqul yakin bahwa Allah selalu memperhatikan dan bersama dengan kita di mana saja berada, jika sudah sedemikian maka akan terasalah ketenangan bathin yang tenang dan tentram, bahkan di sinilah timbul tetesan air mata pengakuan yang tulus akan kerendahan seseorang hamba di hadapan khalik-Nya dan menumbuhkan rasa takut kepada Allah. Jika seseorang hamba merasakan dalam bathinnya bahwa Allah senantiasa selalu memperhatikan dan melihat kita, maka sudah pasti hidayah akan selalu mengerjakan suruhan dan menjauhi larangan-Nya akan terlaksana dengan baik dan meningkatkan serta mempertebal tingkat ketaqwaan seseorang hamba.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Ali Imran Ayat : 191 yang berbunyi : "(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) : "Ya Tuhan kami, tiadalah engkau menciptakan ini dengan sia-sia, maha suci engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”
Rasulullah Saw juga bersabda : “Bertafakkur sesaat itu lebih baik daripada ibadah selama 60 tahun.”(H.R. Abu Dzar Al-Ghifari).
Do’anya seseorang hamba dalam bermuraqabah ini adalah : “Antaridzu wurudal faidli minallahi subhanahu wata’ala alfaidhli ‘alaa lathiifatil qalbiy syayyidina jibril alaihissalam wa’alaa lathifatiil syayyidina adam alaihissalam wa’alaa lathiifati qalbiy syayyidina muhammadin wa’alaa lathiifati qalbiy biwaa ashithati masya’ikhunal kiraami ridhwanullahi ta’ala ‘alahi ‘ajma’iin.” Artinya : Hamba mengharapkan turunnya limpahan dari Allah yang mengalir ke hati Jibril AS dan ke hati Adam As dan ke hati junjungan kami Muhammad Saw ke dalam hatiku, dengan perantaraan para orang shaleh terdahulu, semoga Allah ridha kepada beliau-beliau sekaliannya.”

Tertibnya adalah duduk tafakkur dalam keadaan hening dan konsentrasi penuh kepada mengingat Allah sambil mengintai bahwa sesungguhnya Allah adalah dzat yang maha kuasa atas segala sesuatu dan yang menggerakkan atau mendiamkan setiap segala sesuatu yang terkecil (dzarrah) pada seluruh alam ini.

Jika telah terasa dalam gerak diam tersebut pada jiwa, maka akan terasa bahwa ini semua adalah perbuatan Allah semata (Af’al Allah), dengan demikian maka seseorang hamba tersebut akan dapat hidayah sifat yang baik berupa jika seorang lawan maka di pandang sebagai kawan dan musuh sebagai sahabat, apapun yang di lakukan orang lain terhadapnya maka di terima dengan hati yang lapang walaupun buruk itu adanya dan merupakan bahwa itu datangnya hanyalah daripada Allah semata, sedangkan manusia tadi hanya sebagai majadzinya (bayangan) saja dan bukanlah sebagai wujud hakikat yang sebenarnya. Nah, barangsiapa yang mencapai derajad maqam ini akan tentu ia bersikap segala sesuatu di pandangnya baik, karena pada dasarnya adalah perbuatan Allah semata yang di sandarkan kepada makhluk-Nya, segala gerak gerik pada alam ini adalah merupakan madzhar akan perbuatan (af’al) Allah.

Seseorang yang telah mengerjakan dan merasakan akan hasil Muraqabah Mutlak dan Muraqabah Ahdiyatul Af’al ini biasanya telah mencapai tingkatan Chalifah Mursyid dan Chalifah Pembantu Mursyidin, akan tetapi harus memenuhi persyaratan yang mutlak dalam Thariqat An-Naqsyabandi, yaitu harus menyelesaikan atau menamatkan Tahlil Lisan (jihar) sebanyak 7 (tujuh) khatam yang masing-masing sekhatamnya adalah 70.000 dzikir tahlil, jadi bila di jumlahkan adalah sebanyak 490.000 dzikir tahlil lisan atau jihar berikut dengan syarat-syarat pelaksanaan tahlil tersebut. Ini merupakan inti gabungan dzikir tahlil lisan pada muraqabah yang lain dan merupakan saling terhubung dengan 7 (tujuh) macam muraqabah pada tingkatan ajaran An-Naqsyabandi.

0 Response to "MURAQABAH AHDIYATUL AF’AL"

Post a Comment

Terimakasih atas kunjungan anda...