Manfaat Khatam Tawajjuh Dalam Thariqat Di Kehidupan Dunia Dan Akhirat

Khatam Tawajjuh Thariqat Yang Mencerahkan Batin

Sekelompok orang duduk melingkari seorang mursyid ketika melaksanakan dzikir berbentuk "khatam tawajjuh berjama'ah", dengan ucapan yaitu 'dzikir nafi-isbat', berdasarkan pada suatu hitungan, lafadz tahlil di ucapkan bersama tarikan nafas dari pusar hingga ubun-ubun, bunyi ilaha bersama gerak turun kepala miring ke kanan hingga bahu.

Ucapan illa di sertai pemalingan kepala ke kiri hingga dada lalu di guncang ke arah jantung bersama ucapan "Allah." Lafadz ini di yakini menjalar ke seluruh tubuh melalui tujuh organ, yakni : qalb, ruh, sirr, khafi, akhfa, nafs (akal budi) dan qalab (titik-titik halus meliputi seluruh tubuh).

Khatam Tawajjuh di yakini bisa membuat murid mendapat nur ilahi, di jamin masuk syurga, berada di sisi Tuhan, di kasihi Allah dan Rasul, selamat saat bepergian, bebas wabah, saat mati di hormati nabi hingga liang kubur bertaman dengan buah dari syurga, di catat 70 malaikat, dosa orang-tua dan dirinya di ampuni, di hari kiamat berkumpul nabi dan keluarga, bebas kejahatan jin dan manusia serta bala dunia-akhirat, usahanya yang baik selalu berhasil.

Sejumlah lafadz dzikir yang di ucapkan berulang-ulang dalam suatu kelompok dengan gerak dan irama serta intonasi khas bisa membuat seseorang tak sadar diri (fana) dan atau dalam keadaan hal.

Ritual dzikir di bawah bimbingan guru sufi, sang mursyid atau di lakukan sendirian, ritual shalat akhir malam di tempat khusus dengan konsentrasi penuh di yakini bisa membawa seseorang dalam dunia batin menerobos segala batas fisik yang di sebut kasyaf.

Namun, batas kearifan pencerahan batin dan ketersesatan ruhaniah yang di sebut sosiolog sebagai alkoholisme amat tipis seperti tipisnya batas antara guru yang jujur dan ikhlas dengan guru culas.

Bukti yang bisa di lihat adalah perilaku empirik yang terukur, walaupun sering tak begitu penting dan di akui oleh pelaku sufi, kisah-kisah spiritual yang sering di kaitkan dengan kehidupan kaum sufi selalu merupakan cerita yang muncul sepanjang sejarah.

Nabi dan Rasul sendiri di percaya memiliki kemampuan ajaib yang tak bisa di lakukan orang lain di sebut mukjizat, yaitu kemampuan yang di peroleh bukan dari belajar, tetapi suatu pemberian Tuhan bagi mereka yang terpilih.

Berbagai keadaan mental dan posisi spiritual atau hal dan kasyaf lebih merupakan pengalaman pribadi yang super subyektif, ia bukan sesuatu yang buruk dan tidak benar, tapi hampir mustahil di komunikasikan dan di lakukan orang lain dengan hasil yang sama walaupun melalui cara serupa.

Bagai sesosok mayat, nasib manusia awam atau kebanyakan tergantung pada guru mursyid dengan ajaran yang tak di susun seformal aturan dalam syari'ah, hal ini membuat ajaran Sufi lebih populis dan terbuka bagi semua orang, apakah dari awam atau ulama, berpendidikan tinggi dan kaya atau rakyat kecil yang tak pernah bersekolah.

Namun ajaran sufi bisa lebih formal dan lebih beku di banding doktrin syari'ah jika mengalami teknologisasi dalam tradisi thariqat yang membuat seorang murid tanpa pilihan kecuali tunduk bagaikan mayat yang menyerahkan nasib pada sang guru mursyid melalui sumpah setia atau baiat.

Sang murid hanya mempunyai pilihan memenuhi seluruh perintah sang guru mursyid atau ia terancam penderitaan abadi di dunia ini atau pun di akhirat sesudah masa kematian nanti.

Setiap guru mursyid bisa membuat sendiri serangkaian langkah thariqat dengan bacaan dzikir yang perannya di sahkan oleh rantai geneologis pada garis hubungan biologis dengan diri Nabi Muhammad Saw.

Karena rantai geneologis itu sang guru mursyid memiliki segudang perlakuan istimewa dan di percayai memiliki sejumlah aura kharismatik yang membuat otoritasnya penuh rahasia yang tak boleh di ketahui sang murid.
Tuhan sendiri di konstruksi sebagai subyek sekaligus obyek di puncak struktur rahasia gaib dengan tampilan para nabi dan rasul penuh mukjizat, bersama orang-orang terpilih yang memperoleh hidayah karomah dengan kemampuan luar biasa yang tak mungkin di lakukan orang biasa yang tetap hanya seorang murid di dalam arti sesungguhnya, menempatkan mursyid atau wali sebagai penghantar bagi semua orang untuk bisa memasuki dan bercumbu dengan wilayah gaib dan maha sumbernya adalah Allah sendiri.
Siapa pun bisa menempatkan diri di dalam satu titik dari lingkaran mata-rantai kegaiban yang membuatnya seperti tersedot tanpa sadar ke dalam arus gelombang ruhaniah amat dahsyat mengasikkan dan memabukkan di sertai janji-janji kegaiban.

Hal ini membuka peluang setiap orang tanpa ilmu dengan atau tanpa guru mursyid melakukan praktik sufi dengan atau tanpa thariqat.

Sufi teoretis, thariqat atau praktik sufi merupakan gejala kehidupan muslim santri, karena itu praktik sufi dan thariqat membuatnya begitu populis tapi bisa juga elitis, terbuka bagi semua orang tapi bisa berubah amat tertutup.

Gejala sosial masyarakat sufi telah lama menarik perhatian ahli ilmu sosial saat ajaran sufi begitu populer bagi orang kebanyakan, kunci keberagamaan sufi atau pun syariah serta model lain sama-sama terpusat pada usaha memperoleh keridhaan Tuhan melalui takdir-Nya dengan tata laku yang bisa beragam dan berbeda di sana sini.

Keridlaan Tuhan adalah kunci sukses duniawi dan ukhrawi yang bisa menjadi pembuka peluang bagi orang-orang khusus menempati posisi sebagai mediator bagi hubungan orang awam dan Tuhan yang di sebut guru mursyid.

Persoalannya terletak pada konsep tauhid sebagai akar dan dasar kepercayaan, di mana Tuhan di percaya sebagai pelaku tunggal dan terlibat dalam semua peristiwa yang bisa menciptakan model mistik melalui "orang suci."

Popularitas sufi sebagai reaksi formalisasi tauhid dan syari'ah verbal yang kurang menghargai pengalaman religius, sementara sufi memberi ruang luas bagi pengembangan keshalehan batin, di saat Tuhan tak pernah bisa di rumuskan secara jelas.

Tuhan yang transenden dan abstrak itu telah membuka penafsiran lokal sesuai pengalaman personal yang bisa di manipulasi siapa saja yang berjubah Tuhan, lalu muncullah peran perantara hubungan manusia Tuhan yang seringkali menjadi inti praktik-praktik sufi atau thariqat.

Faktanya di lapangan, praktik syari'ah atau sufi memerlukan jasa orang-orang khusus yang di sebut guru mursyid, orang alim atau orang pintar di dalam beragam posisi; imam, guru ngaji atau khatib.

Pada tahap lanjut, fungsi sosial orang khusus ini terlembaga dalam organisasi Islam atau tempat dan kegiatan ibadah sebagai pimpinan, melalui "orang suci" itulah umat dan orang awam menghubungkan diri secara permanen dengan Tuhan dan berharap memperoleh kebaikan di dunia dan sesudah kematian.

Karena itulah mengapa ulama memiliki kedudukan istimewa sebagai pelanjut fungsi kenabian dan posisi sentral Muhammad yang menyatukan ekstrimitas Tuhan yang sakral dan suci dengan manusia yang profan.

Tuhan Satu itu sekaligus ada di semua tempat, keadaan, waktu dan meliputi segala hal, lahirlah ide mujassimah (panteis) sebagai akar gagasan wihdatul wujud dalam tradisi sufi.

Organisasi Islam dari yang paling sederhana hingga partai bukan sekedar lembaga sekuler tapi suatu praktik mistik hubungan dengan Tuhan sendiri.

Melalui partisipasi ke dan di dalam organisasi itu umat berharap memperoleh keridhaan Tuhan yang dengan itu mereka meyakini bisa memperoleh nasib dan rizqi yang lebih baik di dunia dan sesudah hari kematian dalam kehidupan akhirat nanti.

Terdapat beragam peristiwa mistik dalam praktik sufi (thariqat), termasuk teknik pembersihan jiwa, hasil yang di capai bisa merupakan perilaku yang oleh ahli ilmu sosial, di sebut dengan alkoholis atau refleksi pencerahan batin.

Alkoholis, semacam mabuk ruhaniah seperti "syetan berjubah guru sufi" atau kecerahan batin, keduanya bisa menimbulkan suatu kepuasan ruhaniah yang tiada tara, praktik keagamaan sufistik atau syariahistik bisa berfungsi seperti yang di sebut Karl Marx sebagai suatu candu atau semangat kerja duniawi yang di sebut MaxWeber dengan etika Protestan."

Kemahakuasaan Tuhan dan takdir-Nya sebagai rahasia abadi selalu membuka peluang bagi praktik mistik dan mediator yang menjual jasa spiritual bagi maksud ekonomis atau politik, mungkin pula di dasari tujuan-tujuan ideal keruhanian.

Pada saat yang sama keserba rahasiaanTuhan membuka peluang bagi siapa saja untuk memperoleh keridlaanTuhan dengan caranya sendiri, muncullah beragam tehnik penyucian jiwa yang dengan harapan memperoleh keridhaan Tuhan, sehingga semua menjad mudah bahkan serba boleh karena Tuhan telah menyatu dalam dirinya.

Seperti sebuah ideologi dan teori ilmiah, Tuhan pun seringkali di pakai sebagai topeng bagi sebuah kerakusan kepentingan kekuasaan hedonis yang kadang dengan menina bobokan rakyat, namun bisa juga bagi sebuah aksi kemanusiaan luar biasa di luar batas-batas rasional materialitik.

Orang pun bisa mengorbankan kepentingan diri, keluarga dan golongannya di dalam suatu kefakiran atau kefanaan bagi sebuah kehidupan ideal yang membuat manusia dengan beragam bangsa dan kepemelukan agama atau tanpa keagamaan sekali pun
menikmati kebahagiaan dan di perlakukan manusiawi, yang akhirnya terpulang kepada penganut setiap agama tentang apa yang sebenarnya yang di cari dan untuk apa setelah pencarian itu terpenuhi.

0 Response to "Manfaat Khatam Tawajjuh Dalam Thariqat Di Kehidupan Dunia Dan Akhirat"

Post a Comment

Terimakasih atas kunjungan anda...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel