Jalan Kesehatan Fisik Dan Rohani Kaum Sufi

Melalui Maḥabbah dan Ma’rifah

Dalam kaitannya dengan terapi, maḥabbah dan ma‘rifah merupakan
healing yang paling mujarab, lustrasi sederhana mengenai hal ini dapat di simak melalui hadits qudsi berikut: “Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah berfirman: Barang siapa menyakiti kekasih-Ku, maka Aku mengizinkannya untuk diperangi dan hamba-Ku tidak mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih dicintai bagi-Ku, dari apa yang telah Ku-wajibkan kepadanya dan hamba-Ku yang selalu mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan ibadah sunnah, hingga Aku mencintainya. Maka ketika Aku mencintainya, niscaya Aku menjadi pendengarannya ketika ia mendengar dengannya; Aku menjadi penglihatannya ketika ia melihat dengannya; Aku menjadi tangannya ketika ia memukul dengannya; Aku menjadi kakinya ketika ia berjalan dengannya dan apabila ia meminta kepadaKu, maka Aku akan memberinya dan bila ia meminta perlindungan kepada-Ku, niscaya Aku akan melindunginya….” (H.R. Bukhari).


Hadits ini jelas tertuju kepada orang yang mencintai-Nya dan orang yang mengenal-Nya. Dengan kata lain, Allah akan menjaga, melindungi dan mendampingi kekasih-Nya setiap saat.

Secara prefentif terhadap penyakit, tentu saja mahabbah dan makrifah akan menjadi bentuk pencegahan yang luar biasa, sebab bisa langsung dari Yang Menciptakan penyakit.

Demikian juga dengan penyembuhan, maḥabbah dan ma‘rifah akan mampu menjadi penyembuh yang tidak tertandingi, hanya saja biasanya orang yang telah sampai pada taraf ini, kesembuhan dari penyakit, bisa menjadi hal yang bukan lagi sebagai tujuan.

Ekstrimnya, rasa sakit, bisa jadi justru di nikmati, sebab keinginan untuk selalu dekat kepada Tuhannya (muqarabah), bahkan justru ingin segera berada di pangkuan Tuhannya.

Bagi kaum sufi, tahapan kesehatan jasmani dan rohani para kaum sufi telah di lakukan sejak mereka memasuki tahap al-bidayah (permulaan), yaitu memasuki beberapa tahap kesufian, yakni takhalli (pengosongan jiwa dari segala sesuatu yang merusak), taḥalli (pengisian jiwa dengan segala sesuatu yang mulia), tajalli (menemukan apa yang di cari dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari).

Kemudian mujahadah dan riyaḍah, melalui maqamat dan aḥwal), lalu sampailah pada nihayah (akhir pencarian), para sufi menamai nihayah ini sebagai maqam terakhir, yaitu wuṣul (pencapaian), iḥsan (perbuatan yang baik) atau fana’ (ketidak kekalan).

Orang yang telah sampai pada manzilah ini di namakan ahl al-‘irfan, namun bagi orang awam, banyak jalan yang bisa di
tempuh untuk melakukan healing sufistik (kesehatan sufi).

Jalan-jalan tersebut antara lain sama dengan apa yang di lakukan oleh kaum sufi, yakni dengan melalui cara ber-dzikir, ṣhalat, membaca ṣhalawat dan mendengarkan musik, cara-cara ini terbukti sangat ampuh dalam mengatasi berbagai penyakit.

Tentu saja, dengan metode atau kaifiyah tertentu atau dengan bimbingan seorang guru, semua yang di lakukan tidak lain kecuali harus di dasari dengan mengingat dan merasakan, akan kehadiran Allah.

Hal ini di lakukan dalam rangka takhalli dan taḥalli demi mencapai tajalli, dalam fase-fase sufistik, inti ritual ini terletak pada dzikir-nya, baik dalam arti sempit maupun dalam arti yang lebih luas, oleh karena itu, segala kegiatan sufi healing, berpusat dan bertumpu pada dzikir kepada Allah dengan berbagai macam bentuknya, dalam psikologi transpersonal, hal ini dapat di ukur melalui teori kesadaran.

0 Response to "Jalan Kesehatan Fisik Dan Rohani Kaum Sufi"

Post a Comment

Terimakasih atas kunjungan anda...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel