Amalan Dzikir Thariqat Naqsyabandiyah Menurut Syaikh Amin Al-Kurdi

Untuk mendapatkan kualitas dzikir yang tinggi dan dampak yang
maksimal, seseorang yang berdzikir itu harus melaksanakan adab dzikir kala melakukan dzikir ini, Syaikh Amin Al-Kurdi mengatakan ada 11 adab dzikir, yaitu :

a. Suci dari hadas kecil atau seseorang itu dalam keadaan berwudlu'. Sabda Rasulullah Saw : "Wudlu' itu menghapus dosa-dosa." ( H.R. Imam 
Ahmad).

b. Shalat sunat dua raka'at.

c. Menghadap kiblat di tempat yang sunyi.

d. Duduk tawarruk, namun cara duduknya kebalikan dari duduk tawarruk dalam shalat. Sebagaimana duduk para sahabat di hadapan Rasulullah Saw. Duduk tawarruk seperti itu memudahkan seseorang untuk mendapatkan tawanduk dan konsentrasi.

e. Istighfar atau minta ampun dari semua maksiat dan kesalahan yang telah lalu, dalam mengucapkan istighfar itu, dia membayangkan semua maksiat dan kesalahan-kesalahannya secara keseluruhan, sambil dia percaya dan membayangkan Allah melihatnya sekarang ini, karena dia meninggalkan semua kesibukan dan fikiran duniawiah yang di bayangkannya, hanyalah kebesaran dan keagungan Allah yang hadir pada saat ini, yang bersifat Maha Pemurah lagi Maha Pengampun, setelah itu dia mengucapkan Astaghfirullah 5 kali atau 15 kali atau 25 kali, yang terbaik adalah 25 kali.
Sabda Rasulullah Saw : "Barang siapa yang lestari terus menerus mengucapkan istighfar, niscaya allah memberikan jalan keluar baginya dari segala kesempitan dan menghilangkan segala yang menggelisahkan dan memberikan rizqi dari sumber yang tidak dia duga sebelumnya." ( H.R. Imam Ahmad dan Al-Hakim ).

f. Membaca surat Al-Fatihah satu kali dan surat Al-Ikhlas tiga kali dan menghadiahkan pahalanya kepada ruh Nabi Muhammad Saw dan kepada arwah sekalian Syaikh ahli silsilah Thariqat Naqsyabandiyah, terutama kepada Syaikh mursyid.

g. Memejamkan kedua mata dan menutup mulut dan menongkatkan lidah ke langit-langit, hal itu di lakukan untuk mendapatkan kekhusukan yang sempurna dan lebih memastikan lintasan-lintasan hati yang harus di perhatikan.

h. Rabithah kubur, artinya seseorang yang berdzikir itu membayangkan seolah-olah dirinya sudah mati, karena itu dia membayangkan dirinya di mandikan, di kafani, di shalatkan dan di usung ke kubur dan akhirnya di makamkan atau di kebumikan. Semua keluarga dan sahabat handai taulan meninggalkan kita sendiri dalam kubur. Pada waktu itu ingatlah kita bahwa segala sesuatu tidak berguna lagi kecuali amal shaleh. Sabda Rasulullah Saw : "Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau sedang dalam perjalanan dan karna itu persiapkanlah dirimu untuk pada suatu saat menjadi penghuni kubur." ( H.R. At-Tirmizi).

i. Rabithah Mursyid, artinya murid merabithahkan atau menghubungkan rohaniahnya kepada rohaniah mursyid yang akan membimbingnya atau bersama-sama menuju kehadirat Allah, ruhaniah mursyid itu dalam kajian orang tasawuf, ibarat corong atau pancuran untuk mendapatkan limpahan kurnia dan berkah dari Allah.

j. Mengkosentrasikan semua panca indra dan memutuskan hubungan dengan semua yang membimbangkan untuk ingat kepada Allah, konsentrasi hanya di tujukan kepada Allah saja lalu mengucapkan : "Ilahi anta maksudi waridlaka matlubi“, artinya : "Wahai Tuhanku, engkaulah yang kumaksud dan keridhaan-mulah yang aku tuntut." (di baca tiga kali).

Sesudah itu barulah mulai berdzikir ismu zat dalam hati dengan meresapkan perhatian ismu dzat itu yakni : dialah zat yang tiada sesuatu pun setara dengan dia. Dia hadir, memperhatikan semua hal.

k. Menunggu sebentar datangnya sesuatu yang akan muncul pada waktu berdzikir hampir berakhir sebelum membuka dua mata, apabila datang sesuatu yang ghaib, maka hendaklah waspada dan berhati-hati karena cahaya hati akan berpancar.
Amalan Dzikir
Pelaksanaan dzikrullah dalam Thariqat Naqsyabandiyah dzikir qalbi. "Dan sebutlah nama tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut dan dengan tidak mengeraskan suara di waktu pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai." ( Q.S. Al A'raf 7:205). 

Dzikir Qalbi terbagi menjadi dua, yaitu :Dzikir Ismu Dzat dan Dzikir Nafi Isbat, dalam Thariqat Naqsyabandiyah ada 17 mata pelajaran dzikir, yaitu :

1. Dzikir Ismu Dzat, yaitu dzikir yang menyebut nama dzat Allah, yaitu Allah, Allah, Allah…. Bagi yang baru masuk thariqat dzikir, ismu dzat ini di amalkan 5000 (lima ribu) kali dalam sehari semalam.
2. Dzikir Lathaif, yaitu dzikir ismu zat sebanyak 11000 (sebelas ribu) yang berhikmah menghancurkan sifat mazmumah yang ada pada batin diri manusia, yang sekaligus merupakan sarang iblis.

Tujuh tempat sifat madzmumah (keburukan) itu kalau telah di bersihkan dari sifat-sifat buruknya, tentu saja yang menjelma menggantikan tempat itu adalah sifat mahmudah (kebaikan).

Tujuh tempat itu adalah :
a). Lathifatul Qalbi, dzikir padanya 5000 kali.
b). Lathifatul Ruh, dzikir padanya 1000 kali.
c). Lathifatul Sirri, dzikir padanya 1000 kali.
d). Lathifatul Khafi, dzikir padanya 1000 kali.
e). Lathifatul Akhfa, dzikir padanya 1000 kali.
f). Lathifatul Natihah, dzikir padanya 1000 kali.
g).Lathifatul Kullu Jasad, dzikir padanya 1000 kali.

0 Response to "Amalan Dzikir Thariqat Naqsyabandiyah Menurut Syaikh Amin Al-Kurdi"

Post a Comment

Terimakasih atas kunjungan anda...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel