Dua Kegembiraan Dalam Satu Amal

Rasulullah Saw telah bersabda:
ؾٔؾصٖوئٔمًِػَِٖحَمَقِنًَِػَِٖحَيًٌعٔـًَِٔإِػْطَورِهًٔوَػَِٖحَيًٌعٔـًَِٔؾٔؼَوءًٔرَبٚهًًٔ.(ؿمػقًعؾقي)ً
“Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, bergembira di saat berbuka dan bergembira di saat bertemu dengan Tuhannya.”

Orang berpuasa di bulan Ramadhan berarti siap menderita lapar dan haus sepanjang hari, bahkan hal itu mereka lakukan selama sebulan penuh, mereka sabar menjalaninya, hal itu disebabkan karena mereka percaya (iman) bahwa dengan puasa itu mereka akan mendapatkan pahala dari Allah.


Bahkan mereka menjalani puasa tersebut dengan hati gembira, terlebih ketika waktunya berbuka telah tiba, itulah bukti nyata bahwa apa yang disabdakan Rasulullah Saw tersebut di atas benar.

Lapar dan haus yang menyakitkan tersebut, yang tidak semua manusia mampu menjalaninya, dengan dasar iman yang kuat, ternyata orang beriman mampu melaksanakannya dengan sabar, bahkan dapat menerbitkan kegembiraan dalam hati mereka.

Manakala urusan di dunia (kegembiraan pertama di saat berbuka) ternyata benar, maka urusan di akhirat (kegembiraan di saat bertemu dengan Allah), pasti juga akan benar, karena dunia ini adalah miniatur akhirat.

Seperti itu pula keadaannya, apabila orang beriman mampu bersabar menghadapi musibahmusibah yang datang, termasuk kesulitan dalam berpuasa, ketika musibah itu telah habis masa baktinya, maka orang beriman itu akan merasa bergembira dengan musibahnya sebagaimana orang yang berpuasa bergembira dengan puasanya di saat waktu berbuka tiba.

Gembira karena lulus dalam menjalani masa ujian dan juga dengan manisnya pahala yang dirasakan. Rasulullah Saw bersabda: الصوم ( ًصف الصبر puasa adalah separuh dari sabar) Musabab datangnya kegembiraan itu, karena Allah telah membalas kesabaran orang beriman itu dengan pahala yang tidak terhingga: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka dengan tanpa batas.” (Q.S. Az-Zumar : 39/10).

Namun ada lagi keadaan yang derajatnya lebih tinggi dari itu, yaitu apabila orang beriman mampu ridha terhadap musibah yang datang tersebut, mereka akan merasakan nikmat dengan musibah itu bahkan di saat musibah itu sedang menimpa dirinya, hal itu disebabkan, karena orang beriman itu tersebut benar-benar telah mencintai yang memberi musibah.

Seperti calon pengantin pria misalnya, betapa marah dan kecewa hatinya, ketika ia tahu baju pengantin yang akan digunakan upacara resepsi pernikahan itu dikotori orang lain, barangkali itu adalah musibah yang sangat menyakitkan yang tidak dapat dilupakan seumur hidupnya, namun urusannya jadi berbeda, ketika yang mengotori itu ternyata calon istrinya yang sangat dicintai, pasti ia tidak jadi marah, malah merasa senang dan ridha dengan itu, bahkan boleh jadi peristiwa itu diabadikan sepanjang zaman.

Baju yang dikotori itu malah dijadikan kenang-kenangan, sehingga yang mestinya menyakitkan itu justru menjadi kebahagiaan, itulah keajaiban cinta, kekuatannya akan mampu merubah apa saja, meski terkadang tidak masuk dalam hitungan akal normal.

Seperti itulah, ketika Husain Al-Hallaj menghadapi detik-detik terakhir menjelang eksekusi hukuman pancung dari penguasa setempat, beliau mampu menghadapi kenyataan itu dengan hati tenang dan sedikitpun tidak tergambar sakit dan takut, padahal saat itu, sehari sebelum eksekusi itu kedua tangan dan kakinya sudah dipotong. Salah satu muridnya datang kepadanya dan bertanya: "Wahai guru, apakah arti ilmu tasawuf yang engkau ajarkan kepada kami?, beliau menjawab: "Apa yang kamu lihat ini hanyalah bagian yang paling ringan dari ilmu yang kamu tanyakan itu."

Tasawuf itu adalah kecintaan yang kuat kepada Allah, meski seorang hamba sedang terancam dengan kematian, sebab ia mengetahui bahwa dengan mati itu akan berjumpa dengan yang dicintai, maka bentuk apapun jalan kematian itu, pasti itu adalah jalan yang menyenangkan baginya.

Hal itu terjadi tatkala pahala sabar sudah diturunkan Allah didunia, maka yang semestinya dirasakan orang lain sakit, tetapi karena berkah pahala yang tidak terhingga itu baginya, kesakitan telah reda menjadi rasa nyaman tak terperikan.

Dalam kaitan dengan puasa Ramadhan, Rasulullah Saw telah bersabda:
عَنًِابِنًِعَلٖوسًٍرَضٔىًَآًُعَـِفُؿَوًأَـٖهًُؼَولًَ:ًدَؿٔعًًُِرَدُوِلًَآًٔصَؾُىًآًُعَؾَقِهًٔ
وَدَؾُمًَقَؼُوِلًُ:ًؾَوًِتَعِؾَمًُأُؿٖمٔيًؿَوًػٔيًرَؿَضَونًَؾَمَؿَـٖوِاًأَنًِتَؽُوِنًَاؾيٖـَيًُؽُؾِفَوً
رَؿَضَونًَ.ً
“Dari Ibnu Abbas Ra sesungguhnya ia berkata, aku mendengar Rasulullah Saw bersabda : “Kalau seandainya umatku mengetahui apa-apa yang ada di dalam bulan Ramadhan, pasti mereka berharap seluruh tahun adalah Ramadhan.”

Orang-orang beriman rela lapar dan haus selama satu bulan penuh, bahkan kalau bisa untuk selamanya, dengan itu mereka bahkan merasa nikmat, hal itu disebabkan, karena mereka yakin dan merasakan bahwa dengan lapar dan haus tersebut dapat menyebabkan mereka bertemu dengan kekasih yang dirindukan.

Untuk mencapai hal tersebut, orang beriman harus memulai dari diri sendiri, mereka harus bersungguh-sungguh mengabdi kepada Allah, balasannya, seorang hamba akan mendapatkan hidayah dari-Nya, yaitu berupa kegembiraan hakiki yang memancar dari dalam hati hingga relung dada mereka menjadi lapang, itu bisa terjadi, karena sesungguhnya saat itu mata hati mereka sedang melihat syurga yang akan mereka tempati di hari akhirat.

0 Response to "Dua Kegembiraan Dalam Satu Amal"

Post a Comment

Terimakasih atas kunjungan anda...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel