Hukum Lazim Bagi Hewan

Adapun gambaran pelaksanaan hukum lazim yang dijalani binatang, secara simbolis Allah telah menyatakannya terhadap lebah madu dengan segala aturan hidup dan penerapan yang harus dijalaninya, sehingga disamping lebah madu itu mempunyai rumah tempat tinggal yang praktis, mampu menghasilkan obat bagi manusia, juga adalah salah satu hewan yang mempunyai pola hidup tertib dan disiplin.

Allah berfirman: “Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat manusia", kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu).

Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan”. (Q.S. An-Nahl (16) : 68-69).

Allah yang memberikan wahyu kepada lebah madu itu untuk membuat sarang di bukit-bukit, dipohon-pohon kayu, dan ditempat-tempat yang dibuat manusia, kemudian Allah juga yang memerintah lebah itu untuk makan dari bermacam-macam buah serta menempuh jalan kemudahan yang sudah ditetapkan bagi mereka, sehingga dari perut lebah itu kemudian keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, yang di dalamnya terdapat obat yang dapat menyembuhkan untuk manusia, itulah tanda-tanda kebesaran Tuhan bagi orang yang mau memikirkannya.

Seluruh binatang, seperti juga lebah ternyata hanya bagaikan perangkat alat mekanik yang dihidupi ruh kehidupan, seperti robot-robot yang canggih dan cerdas, menjalani fungsi hidupnya dengan menjalankan program yang sudah ditetapkan secara khusus baginya.

Bagaimana cara mereka menjalankan roda kehidupan, mempertahankan hidup, berkembang biak dan pengatur populasi, semuanya itu berjalan dengan perencanaan yang cerdas dan canggih, jauh lebih canggih daripada robot-robot buatan manusia.

Dengan batas usia hidup yang ditentukan, mereka membawa fungsi kemanfaatan yang berbeda, yang pasti semua itu hanya untuk umat manusia, bukan untuk kemanfaatan makhluk lain, bukan untuk malaikat dan bukan untuk jin, bahkan bukan untuk hewan itu sendiri sekalipun.

Hewan-hewan itu semua tunduk dengan aturan Allah, sedikitpun mereka tidak pernah membangkang dan mengkhianati aturan yang sudah ditetapkan bagi mereka, sehingga asal hewan itu ayam misalnya, apabila jenisnya sama, mereka hidup dimana saja, meski yang satu hidup dibelahan bumi sebelah timur dan satunya di belahan barat, cara hidup mereka pasti sama.

Bahkan konon seekor kerbau tidak pernah terpeleset dua kali dalam lubang yang sama, yang demikian itu, karena mereka tidak mempunyai pilihan hidup selain yang sudah ditetapkan itu.

Selanjutnya Allah bertanya kepada manusia: “Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nyalah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan, katakanlah: "Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma`il, Ishaq, Ya`qub dan anak-anaknya dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan para nabi dari Tuhan mereka.

Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri”, barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Q.S. Ali-Imran (3) : 83-85).

Manusia yang semestinya ditakdirkan menjadi makhluk yang lebih mulia dari binatang ternak, mempunyai akal, nafsu dan hati, ternyata sebagian besar mereka malah menjadi lebih hina daripada binatang ternak itu, padahal Allah sudah menurunkan para Rasul dan para Nabi dengan membawa kitab dari langit untuk menjadi uswah (qudwah Uswah artinya teladan, Qudwah artinya panutan), seperti Ibrahim, Isma`il, Ishaq, Ya`qub dan anak-anaknya, juga Musa dan Isa, terlebih panutan seluruh manusia yaitu Rasul Muhammad Saw dengan kitabnya yang abadi dan terjaga sepanjang zaman.

Yang demikian itu, karena manusia hanya membanggakan akalnya tapi tidak mampu menggunakan fungsi akal itu dengan semestinya, akal yang semestinya dapat menyiasati nafsu, malah menjadi sebaliknya disebabkan karena manusia tidak dapat menggunakan hatinya untuk beriman kepada Tuhan yang menciptakannya.

Mereka tidak mampu menyelamatkan nasibnya sendiri dari ancaman api neraka, bahkan akal itu yang malah menjerumuskan banyak orang di dalam penderitaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat, sebabnya karena manusia memilih agama (jalan hidup) lain selain agama yang dipilihkan Allah untuknya.

Padahal langit dan bumi tempat manusia hidup dan berteduh telah tunduk dan patuh kepada Allah: “Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang dilangit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya diwaktu pagi dan petang hari.

Katakanlah: "Siapakah Tuhan langit dan bumi?". Jawabnya: "Allah." Katakanlah: "Maka patutkah kamu mengambil pelindung pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?". Katakanlah: "Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat atau samakah gelap gulita dan terang benderang.” (Q.S. Ar-Ara'd (13) : 15-16).

Bahkan jasad manusia sendiri dan bayangbayangnya ternyata patuh kepada aturan Allah, semua itu menjalankan sunnah hukum lazim bukan sunnah hukum ikhtiari, sehingga sedikitpun bayang-bayang itu tidak dapat berpisah dengan jasadnya.

Demikian pula jasad manusia, tulang dibungkus daging itu tidak punya pemilihan lain lagi, ketika cara bernafasnya sudah ditentukan oleh takdir, yaitu harus bernafas dengan paru-paru dan menghirup Co2 dan mengeluarkan Co3, kemudian jasad itu memilih sebaliknya karena ketiadaan Co2 misalnya.

Jasad juga tidak dapat memilih jenis minumannya, ketika sunnah sudah menentukan dengan air, kemudian memilih minyak misalnya karena saat itu sedang langka air. Oleh karena itu, seandainya ajaran agama Islam ini diturunkan kepada gunung-gunung, sedangkan mereka mempunyai pilihan hidup seperti manusia, maka manusia akan melihat bahwa gunung-gunung itu lebih patuh kepada Tuhannya daripada manusia.

Akan tetapi sunnah sudah menetapkan demikian, bahwa manusia dan gunung-gunung harus menjalankan fungsi hidupnya sendiri-sendiri, hanya manusia yang disiapkan untuk menjadi khalifah bumi, bukan gunung-gunung dan bukan makhluk yang lainnya, dan bukan pula malaikat sekalipun.

Allah berfirman: “Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir”. (Q.S. Al-Hasyr (59) : 21).

Padahal gunung juga adalah makhluk Allah, meskipun kehidupannya sudah ditentukan harus menjalani hukum lazim, jasadnya dari batu dan tanah, hanya diam dan menancap diatas tanah pula, tapi sejatinya seperti juga makhluk lain, gunung itu mempunyai ruh kehidupan, bahkan berjalan layaknya awan di langit, mampu mengenal, bersujud dan bertasbih kepada Tuhannya.

Disamping hal tersebut, ternyata keberadaan gunung itu dapat memberikan kemanfaatan untuk manusia. Allah berfirman: “Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. An-Naml (27) : 88).

0 Response to "Hukum Lazim Bagi Hewan"

Post a Comment

Terimakasih atas kunjungan anda...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel