Hukum Lazim Bagi Manusia

Jalan hidup manusia yang harus ditempuh didunia, sebagaimana jalan hidup seluruh makhluk yang lain, sesungguhnya sudah ditetapkan Allah mengikuti hukum lazim.

Artinya manusia hanya dapat mengikuti suratan takdir yang sudah ditentukan baginya sejak zaman azali, sebagaimana yang sudah ditegaskan Allah dengan firman-Nya: “Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka”. (Q.S. Al-Isra' ( 17) : 13).


Akan tetapi hukum lazim yang harus dijalani manusia itu berbeda dengan hukum lazim yang harus dijalani makhluk lain, kalau selain manusia-malaikat dan hewan, secara mutlak tidak ada pilihan lain kecuali hanya melaksanakan suratan takdir yang ditentukan untuknya.

Manusia tidaklah demikian, meski secara garis besar manusia juga tidak mampu keluar dari suratan takdir itu, akan tetapi didalamnya, melalui iradah dan qudrahnya, manusia masih mendapatkan kesempatan untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri.

Garis besar takdir untuk manusia itu telah digambarkan Imam Malik di dalam kitabnya Al-Muwatha‘, beliau berkata: "Bahwa sesungguhnya ditanyakan kepada Umar Bin Khathab Ra tentang ayat ini: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (Kesaksian)”.

Sahabat Umar Ra berkata: "Aku mendengar telah ditanyakan kepada Rasulullah Saw tentang ayat itu, maka Rasulullah Saw bersabda: "Sesungguhnya Allah menciptakan Adam, kemudian Allah mengusap sulbinya dengan Tangan kanan-Nya, maka keluarlah dari sulbi itu keturunannya, kemudian Allah berfirman: "Aku menciptakan ini semua untuk (Penghuni) surga dan dengan amal ahli syurga mereka beramal. Kemudian Allah mengusap sulbinya lagi, maka keluarlah dari sulbi itu keturunannya, maka Allah berfirman: "Aku menciptakan ini semua untuk penghuni neraka dan dengan amal ahli neraka mereka beramal."

Kemudian seorang bertanya kepada Rasulullah Saw : "Dimana kedudukan amal? Rasulullah Saw bersabda: "Sesungguhnya apabila Allah menciptakan seorang hamba sebagai penduduk syurga, maka ia diperjalankan dengan amal ahli syurga sehingga ia mati dengan beramal dari amal ahli syurga, kemudian dimasukkan ke dalam syurga dan apabila Allah menciptakan seorang hamba untuk penghuni neraka, maka Allah memperjalankan dengan amal penduduk neraka, sehingga ia mati dengan beramal ahli neraka kemudian dimasukkan ke neraka." (Tafsir Qurthubi).

Secara garis besar, takdir Allah terhadap manusia itu dapat dilihat dari amal perbuatan manusia itu sendiri. Oleh karena itu, untuk mengetahui suratan takdirnya sendiri, manusia bisa melihat dari amal perbuatannya sendiri, amal ahli syurga atau amal ahli neraka.
Apabila amal itu ternyata amal ahli syurga, maka manusia boleh berlega hati dan bersyukur, kemudian tinggal meneruskan dan meningkatkan serta menjaganya supaya amal itu tetap dapat dilaksanakan sampai akhir hayatnya, sehingga akhirnya manusia dimasukkan syurga sebab amal perbuatannya sendiri.

Apabila amal itu ternyata amal neraka, manusia tinggal bertanya kepada hatinya sendiri, apakah ia sanggup menjalani siksa untuk selamanya? Tidak mati dan tidak hidup di dalam kobaran api dineraka? “Kemudian dia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup”. (Q.S. Al-A'laa : 13).

Kalau manusia siap dengan penderitaan itu, maka tinggal mereka menirukan amalnya itu sampai kemudian dimasukkan neraka sebab amal perbuatannya sendiri, apabila ternyata manusia tidak siap menanggung siksa neraka dan ingin dimasukkan syurga, maka sejak sekarang manusia harus mampu merubah amalnya sendiri: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Q.S. Ar-Ra'd : 11).

Karena saat ini manusia masih dapat merubahnya, dengan bertaubat dan menyesali kejelekan yang pernah dilakukan, menggantinya dengan amal kebajikan, sampai kemudian manusia dimasukkan syurga sebab amal perbuatannya sendiri.

Oleh karena itu, sejak sekarang manusia harus memulai dengan amalnya sendiri, memilih salah satu dari dua jalan, taat kepada Allah dan Rasul-Nya berarti menuju syurga, membangkang berarti menuju neraka, ketika manusia sudah menentukan pilihan hidupnya, akal dan ilmunya dijadikan landasan untuk menggerakkan iradah, maka manusia akan mendapatkan pahala.

Atau ajakan nafsu dan hawanya yang diperturutkan, berarti manusia akan mendapatkan dosa, maka ketetapan setelah itu, meskipun akhirnya manusia masuk neraka misalnya, itu bukannya Allah berbuat dzalim kepada hamba-Nya, karena takdir-Nya itu terlebih dahulu sudah dimulai dengan pilihan manusia sendiri.

Allah berfirman: "Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya”. (Q.S. An-Naaziat (79) : 40). Jadi, hukum lazim bagi manusia itu adalah hukum “huriyatul iradah”, artinya, manusia ditetapkan untuk dapat bebas melaksanakan pilihan hidupnya sendiri namun juga dengan segala dampak dan konsekwensi yang menyertai.

Dampak dari pilihan itu, disamping menyebabkan sebagian besar manusia akhirnya terjerumus di jurang neraka, menjadi makhluk yang lebih hina daripada binatang ternak, namun juga merupakan kesempatan dimana manusia dapat memasuki suatu potensi, yang tersedia khusus baginya, yang dapat menghantarkan dirinya menjadi khalifah bumi.

Menjadi makhluk yang mulia dengan segala fasilitas yang menyertai hidupnya bahkan menjadi lebih mulia daripada malaikat, mengapa demikian? jawabannya, karena malaikat tidak mempunyai pilihan hidup seperti yang diberikan kepada manusia.

0 Response to "Hukum Lazim Bagi Manusia"

Post a Comment

Terimakasih atas kunjungan anda...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel