Amal Perbuatan Orang Kafir Itu Seperti Fatamorgana Di Tanah Datar

Amal Perbuatan Orang Kafir Itu Seperti Fatamorgana Di Tanah Datar, maksudnya adalah amal perbuatan yang tidak di dasari keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya itu, bagaimanapun baiknya, menurut syari‘at agama tidak akan di terima di sisi Allah.

Orang kafir itu mengira, dengan kebajikan yang mereka perbuat di dunia, nantinya mereka mendapatkan kemanfaatan, namun ternyata yang akan mereka jumpai hanyalah kekecewaan belaka, bahkan amal itu bagaikan debu yang bertebaran di tiup angin kencang, sehingga sedikitpun tidak membekas kepada pemiliknya.

Demikian Allah memberikan sinyalemen dengan firman-Nya : “Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang di tiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang, mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan di dunia, yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.” (Q.S. Ibrahim 14 : 18).

Dan juga firman-Nya: “Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk di terima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (Q.S. At-Taubah 9 : 54).

Walaupun amal kebajikan itu berbentuk pemberian (infak) misalnya, namun oleh karena di lakukan oleh orang yang tidak beriman, pemberian itu di tolak di sisi Allah meski di terima oleh manusia.

Hal tersebut manakala amal baik itu hanya di bangun atas dasar hati kafir, artinya di laksanakan antara sesama orang yang kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, terlebih dengan terpaksa karena takut kepada manusia.

Adakalanya pemberian itu di berikan oleh orang yang secara lahir belum menampakkan Islam tapi sesungguhnya secara batin hatinya sudah di penuhi rasa simpatik kepada orang beriman.

Kebajikan seperti ini bisa jadi akan membuahkan kemanfaatan bagi orang tersebut, namun itu jika Allah berkehendak menampakkan iman yang masih tersembunyi itu dengan hidayah-Nya, sehingga orang tersebut sempat mengucapkan dua kalimat syahadat, meski rukun Islam itu di ucapkan satu detik menjelang ajal kematian tiba.

Orang yang hatinya simpatik kepada keimanan itu sejatinya adalah orang beriman namun imannya masih di rahasiakan, hal itu bisa terjadi, karena kedudukan iman di dalam hati, sedangkan amal kebajikan itu adalah bukti adanya iman.

Demikian yang di sabdakan Rasululllah Saw di dalam sebuah haditsnya, yang artinya: “Iman itu adalah yang menduduki hati yang di buktikan dengan amal perbuatan”. Oleh karena itu, meski secara syar‘i nafkah-nafkah itu di tolak karena amal kebajikan itu di kerjakan oleh orang yang belum pernah mengucapkan dua kalimah syahadat di hadapan orang, namun bisa jadi di terima di sisi Allah karena kafirnya itu sesungguhnya di sebabkan karena di paksa oleh keadaan: “Kecuali orang yang di paksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman.” (Q.S. An-Nahl : 106).

Konon di suatu Negeri orang-orang beriman, setiap bulan warganya mendapatkan jatah kiriman beras dalam jumlah cukup besar, hal tersebut berjalan dalam waktu cukup lama, namun tidak ada seorang pun dari orang-orang yang setiap bulan menikmati kiriman itu mengetahui siapa sesungguhnya dermawan rahasia yang telah membantu meringankan beban hidup mereka itu.

Suatu saat salah seorang ulama terkemuka di Negeri itu bermimpi berjumpa Rasulullah Saw, dalam mimpi itu Rasulullah Saw berkirim salam kepada orang kafir yang bertempat tinggal di pojok kota Negeri itu, padahal orang tersebut tidak di sukai oleh orang-orang beriman di situ karena dia tidak mau beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan beribadah bersama-sama dengan mereka.

Ulama yang di segani itu heran, mengapa Nabi Saw sampai berkirim salam kepada orang tersebut, padahal orang itu bukan dari golongan orang beriman, ada rahasia apa dibalik salam Nabi itu, bukankah orang beriman haram mengucapkan salam kepada orang kafir, pikirnya.

Setelah di timbang-timbang dalam waktu cukup lama, meski dengan hati berat akhirnya salam Nabi itu di sampaikan juga, karena ulama itu yakin, orang yang bertemu Nabi Saw di dalam mimpi, berarti sama saja bertemu beliau di saat masih hidup, maka perintahnya di dalam mimpi berarti sama dengan perintahnya di saat beliau masih hidup.

Dengan agak terkejut, orang kafir itu serta merta menjawab salam ulama itu, sambil mempersilakan tamunya masuk dan duduk di kursi tamu, sejenak dia termenung dengan pikiran yang menerawang jauh, kemudian berkata: "Ternyata Nabimu yang sudah lama meninggal dunia mengetahui apa yang selama ini tidak di ketahui oleh orang-orang yang masih hidup, maka saksikanlah bahwa aku bersaksi tidak ada Tuhan yang berhak di sembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad Saw adalah utusan Allah."

Namun apa yang terjadi, setelah mengucapkan dua kalimat syahadat itu, orang yang mendapatkan hidayah itu tidak sempat berkata apa-apa lagi, dia terdiam dan menahan nafas dalam-dalam kemudian menghembuskan nafasnya yang terakhir dalam keadaan duduk di kursi tamu, dia meninggalkan dunia yang fana ini untuk selamanya dalam keadaaan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dengan di saksikan ulama terkemuka penduduk negeri tersebut.
Gemparlah penduduk negeri orang-orang beriman itu, dengan perasaan bersyukur dan suka cita mereka berbondong-bondong ikut membantu proses penguburan jenazah teman barunya yang mati dalam keadaan husnul khatimah itu, mereka sangat menghargai jalan kematian yang sangat mulia itu, derajat kematian yang belum tentu mereka semua dapat mencapainya.

Namun, di samping hal tersebut, setelah kejadian itu orang-orang beriman di negeri itu baru menjadi tahu, bahwa dermawan rahasia yang mereka cintai itu ternyata adalah orang yang selama ini mereka benci.

Sebab, semenjak kematian teman barunya yang beruntung itu, ternyata tidak ada lagi kiriman beras seperti yang selama ini setiap bulan mereka nantikan, demikianlah kejadian seperti itu bisa saja
terjadi di mana-mana.

Orang yang selama hidupnya belum pernah mengucapkan dua kalimat syahadat, tapi oleh karena perbuatan lahirnya menunjukkan sifat batin yang mulia, menjelang matinya mereka mendapatkan hidayah dari-Nya.

Sesaat sebelum malaikat mencabut nyawa, lisannya mendapatkan pertolongan untuk melafalkan dua kalimat syahadat dengan hati penuh keyakinan, sehingga mati dalam keadaan husnul khatimah, karena hanya Allah yang mampu memberi pertolongan kepada para kekasih-Nya, baik yang di samarkan maupun yang di terangkan.

Namun di dalam diri kedua hamba yang di cintai itu, meski secara lahir berbeda, yang satunya menjadi ulama yang di cintai umatnya, yang satunya menjadi orang kafir yang di benci tetangganya, tapi secara batin ada tanda-tanda yang sama, yaitu kebaikan hati yang mampu di aktualkan di dalam kebajikan yang hakiki.

Semoga kita selalu mendapatkan petunjuk dan pertolongan untuk selalu dapat berbuat amal kebajikan kepada siapa saja, sebabnya: “Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. At-Taubah : 120).

0 Response to "Amal Perbuatan Orang Kafir Itu Seperti Fatamorgana Di Tanah Datar"

Post a Comment

Terimakasih atas kunjungan anda...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel