Pandangan Hidup Orang Kafir Bak Orang Tenggelam Di Dasar Lautan Dalam Bergelombang


Pandangan Hidup Orang Kafir Itu Seperti Keadaan Orang Yang Tenggelam Di Dasar Lautan Yang Dalam Dan Bergelombang

“Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang di liputi ombak, yang di atasnya ada ombak, di atasnya lagi ada awan, gelap gulita yang tindih-menindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, seakan tidak dapat melihatnya.” (Q.S. An-Nur (24) : 40).

Hal itu bisa terjadi, karena mata hati sebagai sarana yang semestinya dapat di gunakan untuk melihat hal yang batin ternyata menjadi buta, karena indera utama itu di tutupi lapisan karakter bentukan yang di timbulkan kesombongan hati yang menyelimuti kehidupan.

Pendengaran, penglihatan dan perasaan adalah instrumen kehidupan yang di ciptakan Allah bagi manusia guna menjalani kehidupannya dengan sempurna: “Dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, tetapi kamu sedikit sekali bersyukur.” (Q.S. As-Sajdah : 9)

Dengan sarana-sarana itu supaya mereka mampu melaksanakan pengabdian yang hakiki lahir batin, kepada Allah, dalam arti supaya kehidupan ruh nismatul 'adamiyah mampu di aktualkan dalam bentuk karya nyata untuk mencapai ridha Tuhannya, namun oleh karena kehidupan nismah itu terlanjur terkungkung rapat dalam gravitasi alam jasad kasar, maka aktifitas kehidupan manusia yang hakiki itu terpenjara di dalam wadak kasar dengan segala urusannya.

Untuk mengaktualkan kinerja instrumen yang lahir itu, yaitu pendengaran, penglihatan dan pemikiran, yang juga di sebut rasional atau “bashara”, manusia mempunyai alat mekanik lahir yaitu telinga, mata dan otak, maka seperti itu pula di dalam kehidupan manusia yang batin.

Di dalam instrumen ruhani manusia itu, yang juga di sebut dengan spiritul atau “bashirah”, manusia juga mempunyai alat mekanik yang batin pula, yakni yang di sebut dengan istilah “mata hati”, maka dengan telinga, mata dan otak manusia menjalankan kehidupan rasionalitas dan dengan mata hati manusia menyelami kehidupan spiritualitas.

Itulah manusia yang sempurna, adapun orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu adalah orang-orang yang mampu mengelola fungsi kedua alat mekanik tersebut, baik yang lahir maupun yang batin dengan benar, sehingga kehidupan kedua instrumen itu menjadi sehat dan sempurna.

Sedangkan orang kafir adalah orang yang hanya mempunyai instrumen yang lahir saja tetapi yang batin dalam keadaan rusak atau mati: Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka di tutup.” (Q.S. (2) : 6-7).

Oleh karena salah satu alat kehidupan orang kafir itu merana, maka jalan hidup mereka menjadi limbung tidak terarah, hanya lahirnya yang bergairah tapi batinnya sengsara dan gelisah, akibatnya meski mereka mampu mengatur kehidupan lahir dengan sempurna, menjalankan roda ekonomi dengan baik, sehingga perniagaan duniawi menjadi maju pesat dan mendapatkan keuntungan yang banyak, namun oleh karena mata hatinya buta, masih saja mereka mampu berbuat tamak.

Hanya memperturutkan kehendak hawa nafsu untuk menumpuk dan menghitung-hitung harta benda, padahal yang di nikmati sehari paling banyak tiga piring nasi yang kadang-kadang hanya mampu menumbuhkan daging tipis pembungkus tulang yang penuh dengan penyakit bawaan karena dimakan pikiran yang tidak terkendalikan.

Demikian itu, karena mereka tidak pernah mengerti untuk apa harta benda itu seharusnya di pergunakan, sehingga harta benda itu malah menjadikan bangga-banggaan dengan tetangga dan sesama teman.

Mereka tidak pernah puas dengan yang sudah di dapatkan, sehingga saling menjatuhkan saingan, meski yang di jatuhkan itu anak keponakan, bahkan dengan menyalah gunakan jabatan dan kepercayaan, nguntit uang dari sana sini karena masih ada kesempatan, merekayasa perjalanan dinas padahal untuk menghabiskan anggaran tahunan, mereka tidak perduli meski rakyat di landa kemiskinan dan umat sedang kelaparan karena di landa musibah yang datang bergantian.

Itulah potret kehidupan masa kini, gambar orang-orang yang tidak juga mau berhenti mendzalimi diri sendiri, baik dari golongan orang kafir maupun orang munafik yang lupa diri, mereka menyalah gunakan amanat untuk memperkaya diri sendiri, bahkan dengan membawa panji agama padahal untuk mendapatkan popularitas pribadi, sebagai pimpinan umat yang seharusnya menjadi panutan, memegang “rahmat ilahiyat” yang seharusnya di sampaikan: “Dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia.” (Q.S. Al-An'am : 122).

Kecuali ketika mereka sudah di istirahatkan di dalam sel penjara dengan penuh penyesalan, mendapatkan cuti panjang karena harus mempertanggungjawabkan perbuatan, di sebabkan ada orang yang belum kebagian ingin mendapatkan giliran, orang tersebut kemudian menjatuhkan teman yang terlanjur menjadi pesakitan, sehingga vonis pengadilan dapat di pesan di depan, bahkan membeli dukungan dari orang-orang yang sedang butuh uang, karena masing-masing orang sedang memanfaatkan kesempatan, mereka berpesta pora minum darah dan makan bangkai pesakitan yang sedang frustasi dan ketakutan.

Allah membuat perumpamaan lain tentang keadaan orang kafir dengan firman-Nya: “Dan perumpamaan (orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja, mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.” (Q.S. Al-Baqarah (2) : 171).
Tuli, bisu dan buta itu bukan instrumen yang lahir, tapi yang batin, yaitu mata hati, sehingga kenikmatan spiritual yang hakiki yang seharusnya bisa lebih di nikmati seseorang daripada kenikmatan rasional dan emosional yang sementara, menjadi terhalang dapat di rasakan.

Akibatnya, kenikmatan hidup yang dapat dirasakan orang kafir itu hanya kenikmatan duniawi, padahal semakin orang mengejarnya, orang tersebut akan menjadi semakin kecewa, mengejar kenikmatan duniawi itu ibarat mengejar air di tanah datar yang tandus.

Dari kejauhan terlihat ada air, tapi ketika didekati ternyata hanya fatamorgana, oleh karena itu, mengajak orang yang hatinya kafir di jalan Allah itu tidak ubahnya seperti memanggil binatang gembala di padang rumput, binatang gembala itu dapat mendengar tapi tidak mengerti arti panggilan itu.

Hal itu terbukti, meski orang kafir itu setiap hari mendengarkan suara adzan di masjid-masjid dan musalla, tetapi tetap saja panggilan itu tidak mampu menggugah hati mereka untuk segera melaksanakan sholat, karena mereka hanya dapat mendengar dengan telinga tapi matahatinya terlanjur menjadi tuli dan buta.

Orang yang demikian itu di sisi Allah tidak ubahnya seperti binatang melata yang paling buruk, Allah berfirman: “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah adalah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman.” (Q.S. Al-Anfal (8) : 55).

Demikian itu, karena hidup mereka hanya untuk makan, bukan makan untuk hidup, bahkan tanda-tanda kekafiran hati itu dapat di baca dari raut muka mereka, yaitu di saat mereka mendengarkan ajakan suci itu, oleh karena hati mereka terlebih dahulu ingkar, maka ajakan suci itu malah di benci.

Orang-orang seperti itu sering kita jumpai di tengah masyarakat kita, mereka suka mengusik kegiatan agama yang dilaksanakan orang beriman di masjid-masjid yang di kumandangkan dengan pengeras suara misalnya, padahal apabila ada kegiatan maksiat semalam suntuk, mereka diam saja dan bahkan malah mengikutinya.

Hal itu di sebabkan, karena hati mereka memang terasa sakit saat mendengar jalan syurga di perdengarkan di telinga, Allah telah memberikan sinyalemen dengan firman-Nya: “Dan apabila di bacakan di hadapan mereka ayat-ayat Kami yang terang, niscaya kamu melihat tanda-tanda keingkaran pada muka orang-orang yang kafir itu, hampir-hampir mereka menyerang orang-orang yang membacakan ayat-ayat Kami di hadapan mereka. Katakanlah: "Apakah akan aku kabarkan kepadamu yang lebih buruk dari pada itu, yaitu neraka? Allah telah mengancamkannya kepada orang-orang yang kafir dan neraka itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali.” (Q.S. Al-Hajj (22) : 72).

Itulah pertanda orang-orang yang darah dan dagingnya memang di siapkan untuk menjadi makanan api neraka jahannam: "Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak di pergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak di pergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak di pergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah), mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi, mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Q.S. Al-A'raaf : 179).

Oleh karena secara hakiki daging orang kafir itu memang di persiapkan untuk menjadi makanan api neraka, maka bagian dari daging itu, yaitu hati yang berada di rongga dada, terlebih dahulu menjadi benci kepada jalan syurga.

Itu di sebabkan, karena Allah menciptakan hati manusia hanya satu dan dalam hati itu itu hanya dapat di tempati untuk yang satu pula: “Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya.” (Q.S. Al-Ahzab : 4).

Untuk merubah ketetapan itu, oleh karena di dunia ini manusia masih mempunyai kesempatan merubah nasibnya sendiri, maka manusia terlebih dahulu harus mampu merubah apa yang dicintai hatinya itu.

Untuk itu, peran ilmu pengetahuan menjadi sangat penting, karena tidak mungkin orang mencintai sesuatu kecuali yang sudah di kenali dan tidak mungkin mengenal sesuatu kecuali yang di perhatikan dan tidak mungkin memperhatikan sesuatu kecuali yang di ketahui.

Solusinya, maka dengan berteman dan berkumpul orang-orang yang shaleh merupakan jalan yang termudah untuk merubah tanda-tanda tersebut, karena dengan lingkungan yang baik itu, manusia akan lebih terarah menuju perbaikan yang hakiki.

Kalau tidak demikian, oleh karena orientasi hidup orang kafir itu hanya mencari kesenangan duniawi yang sesaat, hanya sebatas usia hidupnya yang terbatas, maka setelah jatah kesenangan hidupnya itu di habiskan di dunia, menjelang dan sesudah matinya, yang tersisa kemudian hanya tinggal penderitaan hari tua yang berkepanjangan yang akan menghantarkannya kepada penderitaan yang abadi di neraka.

Allah menegaskan hal itu dengan firmanNya: “Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir di hadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan): "Kamu telah menghabiskan rizqimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya, maka pada hari ini kamu di balas dengan adzab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah berbuat fasik.” (Q.S. Al-Ahqaf (46) : 22).

Itulah hukum alam, meski jarang orang mampu menyadari, tapi setiap orang pasti memahaminya, menyombongkan diri di muka bumi itu artinya, mereka tidak mau menerima pendapat orang lain selain pendapatnya sendiri dan golongannya.

Akibatnya, orang yang hatinya sombong itu akan cenderung terjebak kepada perbuatan fasik atau berlebih-lebihan, yaitu, ketika mereka senang kepada sesuatu, maka senangnya itu berlebihan dan apabila sedang benci, bencinya juga berlebihan, yang demikian itu karena dasar hidup yang melandasi perjalanan hidup yang di tempuh hanyalah hawa nafsu belaka, itulah tanda-tanda orang yang merugi dalam hidupnya.

Penderitaan pertama adalah sakaratul maut, karena nafsu syahwat orang kafir itu masih ingin tinggal lama di dunia sedangkan ruhnya di paksa harus keluar dari jasadnya, selanjutnya penderitaan di alam barzah sampai hari kiamat di alam mahsyar, di alam hisab, di alam mizan selama 50.000 tahun dan kemudian dipanggang hidup hidup di neraka jahannam untuk selamanya.

Bahkan jauh sebelum sakaratul maut, orang-orang yang jatah kesenangan hidupnya sudah di habiskan di dunia itu, seringkali hidupnya berakhir dalam keadaan menderita baik fisik maupun psikis.

Fisik karena jasadnya digerogoti berbagai macam penyakit yang tidak terobati dan psikis, karena hatinya merasa terhina di sebabkan karena selama sakitnya kurang mendapatkan perhatian orang yang selama ini di cintai.

Di antara mereka bahkan ada yang mengadapi sakaratul maut itu di dalam penjara dalam keadaan yang terhina. Wal 'iyaadzu billah. Kita berlindung kepada Allah darinya.

Bahkan perbuatan fasik itu adalah indikasi yang kuat adanya sifat kafir yang ada dalam hati manusia, baik kafir kepada Allah dan Rasul-Nya maupun kafir dalam arti tidak mau percaya kepada sesamanya.

Orang yang demikian itu, meski setiap hari di mohonkan ampunan kepada Allah sebanyak 70 x, tetap saja mereka tidak akan mendapatkan ampunan dari-Nya, sebabnya jalan pengampunan itu sejatinya telah di tutup sendiri oleh sifat kafir yang memenuhi hatinya sendiri.

Allah telah menyatakan dengan firman-Nya: “Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja), kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka, yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” (Q.S. At-Taubah (9) : 80).

Orang-orang yang kafir kepada Allah dan Rasul-Nya itu, sama saja dengan menutup jalan keberhasilan hidupnya sendiri, baik di dunia terlebih di akhirat, sebabnya hidayah Allah yang menjadi penyebab terbukanya jalan keberhasilan hidup manusia itu seringkali awalnya datang dari manusia, itulah fungsi Nabi dan ulama pewarisnya.

Sebagai khalifah bumi zamannya, bahkan kesembuhan penyakit seseorang, baik yang ruhani maupun jasmani, seringkali di datangkan Allah melalui sebab do‘a-do‘a yang mereka panjatkan untuk umatnya, apabila orang tidak percaya kepada mereka, berarti menolak hidayah dan kesembuhan yang di datangkan Allah untuk diri mereka sendiri.

Oleh karena orang kafir itu tidak percaya kepada manusia, maka tidak ada jalan lain yang dapat di tempuh kecuali jalan pikirannya sendiri, padahal jalan pikirannya itu boleh jadi malah mengarah kepada kegagalan dan neraka, oleh karena itu orang kafir itu tidak dapat masuk surga seperti seekor unta tidak dapat masuk lubang jarum.

Demikian Allah menggambarkan keadaan orang kafir itu dengan
firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan di bukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk syurga, hingga unta masuk ke lubang jarum, demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.” (Q.S. Al-A'raaf (7) : 40).

Pintu langit yang tidak di buka itu bukan pintu langit yang ada di atas, tapi pintu langit yang ada di dalam hati mereka sendiri, yaitu pintu ijabah Allah, sehingga orang yang tidak percaya kepada manusia itu sedikitpun do‘a-do‘anya tidak mendapatkan ijabah dari-Nya.

Itulah pertanda orang yang berbuat dzalim kepada dirinya sendiri, karena mereka terlebih dahulu telah hasud kepada sesama manusia, makanya meski Al-Qur‘an yang di dalamnya ada obat dan rahmat bagi orang yang beriman di datangkan kepada mereka, ayat-ayatnya di bacakan untuk mengajak mereka ke jalan Allah, mengingatkan pola pikir dan perbuatan yang kurang benar yang selama ini mereka kerjakan, namun terhadap orang yang hasud itu, ayat-ayat suci itu bahkan hanya akan membawa kerugian belaka, karena ayat-ayat Allah yang disampaikan temannya yang sesama beriman itu di tolak mentah-mentah semata karena orang yang menyampaikan ayat-ayat itu bukan dari kelompok dan golongannya sendiri.

Demikian Allah menegaskan dengan firman-Nya: “Dan Kami turunkan dari Al Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim selain kerugian dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia di timpa kesusahan niscaya dia berputus asa.” (Q.S. Al-Isra' (17) : 82-83).

Walhasil, sifat kafir atau tidak percaya, baik kepada Allah dan Rasul-Nya, maupun kepada sesama manusia, apabila sifat tersebut tidak segera dapat di hilangkan dari dalam hati manusia, berarti selamanya mereka tidak akan mendapatkan ampunan dari-Nya meski mereka itu di mohonkan ampun sebanyak 70x oleh orang beriman, di samping itu juga do‘a-do‘a yang mereka panjatkan tidak dapat mendapatkan ijabah dari-Nya, sehingga hidupnya akan menjadi gagal total akibat dari kekafirannya itu sendiri.

0 Response to "Pandangan Hidup Orang Kafir Bak Orang Tenggelam Di Dasar Lautan Dalam Bergelombang"

Post a Comment

Terimakasih atas kunjungan anda...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel