Tentang Alam Rahim

Kehidupan anak manusia di alam rahim ini dimulai dari dalam salah satu organ tubuh wanita yang disebut ovarium, dengan proses pematangan sebuah sel telur yang kemudian mengadakan perjalanan panjang melalui anggota tubuh lain yang disebut tubafallopi menuju rahim.

Perjalanan itu dimulai sesaat sebelum ovarium melepaskan sel telur yang sedang dalam proses pematangan sedang tuba fallopi sudah siap menangkap sel itu dengan lubang mulutnya, yaitu di saat tuba fallopi mengadakan pendekatan dengan gerakan-gerakan sensitif kepada permukaan ovarium untuk menemukan telur yang sudah matang itu.

Sebagai hasil dari pencarian ini, ketika tuba fallopi sudah menemukan telur yang matang kemudian menariknya masuk, selanjutnya sel telur itu dengan tanpa kaki maupun sirip harus mengadakan perjalanan sepanjang lorong tuba fallopi sampai kemudian menetap di dalam rahim.

Akan tetapi usia telur dalam rahim itu hanyalah dua puluh empat jam, dalam selang waktu itu jika tidak terjadi pembuahan ia akan mati. Sel telur itu memerlukan suatu material penting agar dapat dibuahi, yaitu sperma yang akan datang dari tubuh seorang laki-laki, maka proses selanjutnya menunggu pembuahan oleh sperma.

Air mani yang dipancarkan seorang laki-laki yang mengandung dua ratus lima puluh juta sperma kemudian mengadakan perjalanan, berlomba-lomba dengan menghadapi segala rintangan yang ada menemukan sel telur dalam rahim.

Kompetisi itu terjadi sangat ketat, betapa tidak, dari dua ratus juta sperma yang dipancarkan tersebut hanya satu yang akan diterima oleh sel telur untuk terjadinya sebuah proses pembuahan, bagaimana sperma dapat menemukan tempat sel telur dalam rahim padahal sperma tidak pernah tahu tentang seluk beluk organ tubuh wanita?.

Dan dengan bahasa manusia, tidak ada satu sel spermapun setelah dipancarkan kedalam tubuh wanita kemudian kembali lagi ke tubuh laki-laki untuk menunjukkan kepada teman-temannya tempat sel telur dalam rahim?

Itulah yang menjadikan salah satu bukti bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah, dengan suatu perencanaan canggih, Allah menghendaki sel telur memancarkan signal dengan cairan kimia sesaat setelah mani dipancarkan untuk menunjukkan tempatnya kepada sperma.

Setelah sperma menerima pancaran signyal itu, ia dengan perjalanan cepat dapat segera menemukan tempat sel telur, maka terjadilah proses pembuahan, sperma diciptakan Allah secara canggih, bagaikan kendaraan pengangkut untuk mengangkut muatan yang akan dimasukkan kedalam sel telur dan di dalam muatan itu terdapat kandungan dua puluh tiga kromosom seorang laki-laki dengan segala informasi tentang tubuh manusia bahkan sampai yang paling detail sekalipun tersimpan dalam kromosom ini.

Agar terbentuknya seorang anak manusia, dua puluh tiga kromosom sperma harus bersatu dengan dua puluh tiga kromosom dari sel telur, dengan cara demikian maka bahan dasar pertama untuk penciptaan anak manusia adalah empat puluh enam kromosom akan terbentuk.

Dua puluh tiga dari sang ayah dan dua puluh tiga dari sang ibu, ketika sperma telah bersatu dengan sel telur yang juga bermuatan dua puluh tiga kromosom kemudian ia berubah bentuk menjadi kejadian yang terdiri dari satu sel yang ukurannya lebih kecil dari sebutir garam.

Selanjutnya awal kejadian manusia itu adalah sel tunggal dalam rahim seorang ibu, baik seluruh manusia yang ada di dunia demikian pula anda, yaitu sebuah wujud lemah yang membutuhkan perlindungan.

Yang asalnya satu kemudian membelah menjadi dua, selanjutnya menjadi empat kemudian menjadi delapan dan enam belas, sel-sel itu terus membelah, pertama kali berbentuk segumpal darah kemudian segumpal daging.

Dan dari gumpalan daging ini kemudian membentuk menjadi bentuk tertentu, ia membentuk lengan kaki dan mata serta seluruh anggota tubuh yang lain, baik dalam maupun luar yang kemudian menjadi kejadian yang disempurnakan yang besarnya seratus milyar lebih besar dari kejadian yang pertama dan enam milyar lebih berat dari sel pertama.

Allah berfirman: “Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan dari padanya sepasang laki laki dan perempuan, bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati? (Q.S. Al-Qiyamah (75) : 36-40).

Kebanyakan manusia mengira, bahwa setelah proses panjang dari buah karya penciptaan yang sedemikian canggihnya itu, sejak dari proses pertama: “setetes mani yang ditumpahkan, kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan dari padanya sepasang laki-laki dan perempuan.” (Q.S. (75) : 36-38).

Setelah manusia menjalani kehidupannya di dunia, kemudian manusia akan dibiarkan begitu saja tanpa ada pertanggungjawaban? Mereka mengira bahwa setelah mati tidak ada kehidupan lagi? tidak dipertanyakan terhadap apa yang pernah diperbuat di dunia? Sehingga mereka menghabiskan usia dan kesempatan hidup sekedar untuk memperturutkan hawa nafsu belaka? hanya menumpuk-numpuk harta dan menghitunghitungnya, hanya bermegah-megahan dan berbangga-banggaan bahkan saling membunuh antara yang satu dengan yang lain tanpa alasan yang benar?

Maka ketegasan Allah berikutnya adalah sebagai berikut : “Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?” (Q.S. (75) : 40). Sesungguhnya setelah manusia menjalani tahapan kehidupan di dunia tersebut, setelah matinya, mereka akan dihidupkan lagi untuk mempertanggungjawabkan segala keni‘matan yang telah digunakan.

Dalam sebuah haditsnya Rasulullah Saw bersabda :

حَّٔؼٌُمسَؾِّٔماظؾّهٔمبِنِمعَلِعُودٕمرَضٔيَماظؾّهُمسَـِهُمضَولَم:محَّٖثَـَومرَدُولُماظؾّهٔمصَؾّىماظؾّهُم
سَؾَقِهٔموَدَؾّمَموَػُوَماظصٖودٔقُماظْؿَصُِّوقُمإِنٖمأَحََّطُمِمؼُفِؿَعُمخَؾْؼُهُمصٔيمبَطْنِمأُعٚهٔمأَرِبَعٔينَم
ؼَوِعّومثُمٖمؼَؽُونُمصٔيمذَظٔكَمسَؾَؼَيًمعٔـِلَمذَظٔكَمثُمٖمؼَؽُونُمصٔيمذَظٔكَمعُضِغَيًمعٔـِلَمذَظٔكَمثُمٖم
ؼُِّدَلُماظْؿَؾَكُمصَقَـِػُُّمصٔقهٔماظّٗوحَموَؼُمِعَُّمبٔلَرِبَعِمطَؾٔؿَوتٕمبٔؽَؿِىٔمرِزِضٔهٔموَأَجَؾٔهٔموَسَؿَؾٔهٔم
وَذَؼٔيٙمأَوِمدَعٔقّْمصَوَاظّّٔيمظَومإِظَهَمشَقُِّهُمإِنٖمأَحََّطُمِمظَقَعِؿَلُمبٔعَؿَلِمأَػِلِماظْفَـٖئمحَؿٖىم
عَومؼَؽُونُمبَقِـَهُموَبَقِـَفَومإِظّومذٔرَاعْمصَقَلِؾٔقُمسَؾَقِهٔماظْؽٔؿَوبُمصَقَعِؿَلُمبٔعَؿَلِمأَػِلِماظـٖورِم
صَقَِّخُؾُفَوموَإِنٖمأَحََّطُمِمظَقَعِؿَلُمبٔعَؿَلِمأَػِلِماظـٖورِمحَؿٖىمعَومؼَؽُونُمبَقِـَهُموَبَقِـَفَومإِظّوم
ذٔرَاعْ مصَقَلِؾٔقُ مسَؾَقِهٔ ماظْؽٔؿَوبُ مصَقَعِؿَلُ مبٔعَؿَلِ مأَػِلِ ماظْفَـٖئ مصَقَِّخُؾُفَو*(اخّجهم
اظؾكوريمومعلؾم)ممم

“Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud Ra, ia berkata bahwa Rasulullah Saw, seorang yang benar serta dipercayai bersabda: "Kejadian seseorang itu dikumpulkan dalam perut ibunya selama empat puluh hari, selanjutnya empat puluh hari kedua berbentuk segumpal darah, empat puluh hari ketiga berubah menjadi segumpal daging, kemudian Allah mengutuskan malaikat untuk meniupkan ruh serta memerintahkan supaya menulis empat perkara yaitu ditentukan rizqi, saat kematian, amalan serta nasibnya dalam waktu mendatang, mendapat kecelakaan atau kebahagiaan."

Maha suci Allah, dimana tiada Tuhan selain-Nya, seandainya seseorang itu melakukan amalan sebagaimana yang dilakukan oleh penghuni syurga sehingga kehidupannya hanya tinggal sehasta dari saat kematiannya, tetapi disebabkan ketentuan takdir niscaya ia akan berubah dengan melakukan amalan sebagaimana yang dilakukan oleh penghuni Neraka sehingga dia memasukinya.

Begitu juga dengan mereka yang melakukan amalan ahli neraka, tetapi disebabkan oleh ketentuan takdir niscaya dia akan berubah dengan melakukan amalan sebagaimana yang dilakukan oleh penghuni syurga, sehinggalah dia dimasukkan kedalamnya.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Di dalam hadits yang lain Beliau Saw bersabda :

حَّٔؼٌُمأَغَِّمبِنِمعَوظٔكٕمرَضٔيَماظؾّهُمسَـِهُم:موَرَصَعَماظْقَّٔؼٌَمأَغٖهُمضَولَمإِنٖماظؾّهَمسَّٖم
وَجَلٖمضَِّموَطّلَمبٔوظّٖحٔمِمعَؾَؽًومصَقَؼُولُمأَيِمرَبٚمغُطْػَيٌمأَيِمرَبٚمسَؾَؼَيٌمأَيِمرَبٚمعُضِغَيٌم
صَنِذَامأَرَادَماظؾّهُمأَنِمؼَؼْضٔيَمخَؾْؼًومضَولَمضَولَماظْؿَؾَكُمأَيِمرَبٚمذَطَّْمأَوِمأُغِـَىمذَؼٔيٙمأَوِم
دَعٔقّْمصَؿَوماظّٚزِقُمصَؿَوماظْلَجَلُمصَقُؽْؿَىُمطََّظٔكَمصٔيمبَطْنِمأُعٚهٔم*م(اخّجهماظؾكوريموم
علؾم)مممم

“Diriwayatkan dari Anas bin Malik Ra, ia berkata: Secara marfuk Rasulullah Saw bersabda: "Allah mengutuskan Malaikat ke dalam rahim. Malaikat berkata: Wahai Tuhan! Ia masih berupa air mani. Beberapa saat kemudian Malaikat berkata lagi: Wahai Tuhan! Ia sudah berupa segumpal darah. Begitu juga setelah berlalu empat puluh hari Malaikat berkata lagi: Wahai Tuhan! Ia sudah berupa segumpal daging. Apabila Allah membuat keputusan untuk menciptakannya menjadi manusia, maka Malaikat berkata: Wahai Tuhan! Orang ini akan diciptakan lelaki atau perempuan?, celaka atau bahagia?, Bagaimana rezekinya?, Serta bagaimana pula ajalnya?, Segala-galanya dicatat semasa dalam perut ibunya." (H.R. Bukhari dan Muslim).

Apa yang kini telah mampu ditampilkan ilmu pengetahuan modern dari proses asal-usul kejadian anak manusia tersebut, ternyata telah terlebih dahulu disampaikan oleh Al-Qur‘an dan hadits sejak seribu empat ratus tahun lebih yang lalu, bahkan yang ditampilkan agama itu jauh lebih universal dan lebih detail, menyangkut baik yang lahir maupun yang batin, tentang rahasia takdir dan rahasia-rahasia yang akan terjadi bagi kehidupan manusia baik secara perorangan maupun kolektif, bahkan mencakup rahasia kehidupan seluruh makhluk yang ada di alam semesta ini.

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (Q.S. Al-Insan (76) : 2).

Agar manusia mendapatkan derajat kemuliaan yang melebihi makhluk-makhluk lain, menjadi khalifah bumi zamannya, maka selama hidupnya manusia harus siap menghadapi ujian-ujian yang digelar di dalam kehidupannya.
Seleksi alam yang berputar antara baik dan buruk, antara susah dan senang, dengan ujian-ujian itu bagaimana manusia mampu mengambil pelajaran darinya, bahkan dijadikan latihan hidup untuk mendewasakan kehidupan jati dirinya.

Itulah salah satu komitmen yang sudah disepakati dan hikmah “amanat” yang harus dijalani manusia, sebagaimana yang ditegaskan Allah dalam ayat yang lain: “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Q.S. (67) : 2).

Namun demikian, komitmen itu juga sejatinya adalah kesempatan bagi manusia yang tidak diberikan-Nya kepada makhluk, dengan ujian-ujian itu manusia akan terseleksi oleh realita, siapa diantara mereka yang paling baik amalnya.

Kendatipun secara fithrah malaikat adalah makhluk yang lebih mulia daripada manusia, akan tetapi kemuliaannya itu hanya sebatas yang sudah ditetapkan untuknya, tidak bisa naik dan tidak bisa turun.

Amal perbuatan yang bagaimanapun yang dilakukan malaikat tidak menjadikan mereka lebih mulia atau lebih hina, berbeda dengan manusia, sungguhpun ia adalah salah satu makhluk yang dimuliakan, sebagaimana yang ditegaskan dengan firman-Nya: “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan dilautan, Kami beri mereka rizqi dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (Q.S. (17) :70).

Namun demikian, kemuliaan atau kehinaannya itu sangat bergantung dari amal perbuatan manusia itu sendiri, oleh karena itu, sebagian manusia adalah makhluk yang mulia dan bahkan lebih mulia daripada malaikat, sebagai calon penghuni syurga dan sebagian lagi menjadi makhluk hina dan bahkan lebih hina dari binatang ternak.

Mereka itulah yang telah disiapkan sebagai penghuni neraka jahannam, Allah menyatakan itu dengan firman-Nya yang artinya: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah), mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Q.S. (7) : 179).

Oleh karena sebagian besar manusia lalai dari komitmen yang sudah disepakati tersebut, bahkan banyak diantara mereka hanya pandai membangun komitmen tapi sedikit sekali yang mampu berbuat amanat dengan komitmen yang sudah dibangunnya itu, maka sebagian besar makhluk yang semestinya menjadi mulia itu akhirnya malah menjadi makanan api neraka.

Memang demikianlah bagian dari fithrah anak manusia yang digaris bawahi Al-Qur‘an Al-Karim, yaitu jarang sekali dari mereka yang pandai berbuat amanat, bahkan sejak zaman dahulu, terlebih lagi zaman sekarang dimana pelaksanaan agama sudah semakin carut-marut, sulit dibedakan mana yang hak dan mana yang batil dan bahkan sampai kapanpun sepanjang kehidupan manusia masih digelar dimuka bumi ini.

Walhasil, dengan apa yang sudah dimiliki manusia, baik ilmu, iman, amal, harta dan kekuasaan, terserah manusia itu sendiri, bagaimana mereka memanfaatkan pendengaran, penglihatan dan perasaan mereka, sebagai kenikmatan hidup yang harus dipertanggungjawabkan.

Setiap individu harus memilih diantara dua jalan, menuju surga atau tergelincir di jurang neraka jahannam, apabila manusia berjalan menuju surga berarti mereka akan menemui kemuliaan hidupnya dan apabila berjalan menuju neraka berarti akan menemui kehinaannya.

Semoga Allah selalu menuntun tangan kita menuju jalan hidayah-Nya, dalam ayat yang lain Allah berfirman : “Dia menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia jadikan dari padanya isterinya dan Dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan, yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan Yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?” (Q.S. Az-Zumar (39) : 6).

Seharusnya tidak ada satu kekuatanpun dapat memalingkan hati manusia dari Allah, karena Allah adalah Sang Pencipta dan Sang Pemelihara yang telah menciptakan dan memeliharanya, sejak dari jiwa yang satu, kemudian dari yang satu itu diciptakan istrinya yang selanjutnya berkembang biak menjadi tidak terhitung jumlahnya.

Terlebih apabila manusia mau merenungi sistem perlindungan yang diciptakan Allah untuknya di saat terjadinya proses penciptaan manusia tersebut di dalam rahim ibunya, yaitu dari satu kejadian kepada kejadian yang lain dengan tiga lapis perlindungan: “Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan)." (Q.S. (39) : 6).

Namun ternyata banyak diantara manusia yang berpaling dari-Nya, mereka lebih memilih menghadap kepada kehidupan duniawi, bahkan lebih rela menjadi budak dunia daripada harus mengabdi kepada Dzat yang menciptakannya.

Padahal sebagian besar dari mereka juga mengetahui bahwa hikmah penciptaannya adalah semata untuk mengabdi kepada-Nya, itulah bukti kebenaran pernyataan Allah, bahwa salah satu hikmah penciptaan kehidupan dan kematian adalah sarana ujian bagi manusia.

0 Response to "Tentang Alam Rahim"

Post a Comment

Terimakasih atas kunjungan anda...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel