Perjalanan Di Dalam Dua Alam

Perjalanan seorang salik dalam rangka melaksanakan pengembaraan ruhaniyah untuk menguak rahasia dimensi alam barzah, meski itu adalah perjalanan yang mengandung resiko tinggi, karena di dalamnya banyak ranjau syetan yang dibentangkan.

Sungguhpun demikian, bagi orang yang mempunyai dasar kemampuan yang memadai, perjalanan itu adalah perjalanan spiritual yang mengasikkan.

Betapa orang yang masih hidup didunia kasar, dengan ilmu dan izin Allah mampu berinteraksi secara ruhaniyah dengan teman-temannya yang ada di dunia halus.

Mereka bisa saling membagi kegembiraan dengan orang yang sudah berada di alam barzah: “Dan mereka saling mendapatkan kegembiraan dengan orang-orang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka.” (Q.S. Ali-Imran : 170).

Banyak kalangan kurang memahami yang dimaksud dengan interaksi tersebut, mereka mengira jalannya interaksi dengan orang mati itu dengan munculnya penampakan di dalam ruang khayal manusia, baik berupa visual ataupun sinar kemudian memperdengarkan suara, seperti godaan syetan yang pernah dialami Asy-Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani dalam manakib Asy-Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani di dalam buku “Lujjaini Daani” yang ditulis oleh Asy-Syaikh Ja'far bin Hasan.

Kalau penampakan seperti itu, bisa dipastikan itu adalah hasil tipu daya syetan jin untuk menggoda jalan ibadah, terlebih apabila ujung-ujungnya adalah urusan duniawi.

Yang dimaksud interaksi ruhaniyah itu tidaklah demikian, melainkan, apabila Allah menghendaki membuka hati hamba-Nya, maka hati yang asalnya bodoh itu menjadi mengerti.

Bagi seorang salik yang tekun menjalani jalan thariqat, yang demikian itu adalah hal yang biasa. Sebabnya, buah ibadah yang dijalani itu, menjadikan matahari seorang hamba menjadi cemerlang dan tembus pandang.

Jadi hasil interaksi itu bukan kesaktian dan bahkan harta karun seperti yang diyakini oleh sebagian kalangan, melainkan ilmu pengetahuan, yaitu berupa pemahaman hati tentang rahasia kejadian alam yang didatangkan langsung dari urusan ketuhanan yang juga disebut ilmu laduni.

Namun Abdil Karim Al-Barzanji yang wafat pada tahun 1184 H atau kitab “Faidhur Rahmani” yang disusun dan ditertibkan oleh Asy-Syaikh Ahmad Asrari bin Muhammad Utsman Al-Ishaqi.

Dengan semakin meningkatnya ilmu pengetahuan seseorang, secara otomatis akan meningkatkan kemampuan orang tersebut dalam menjalankan fungsi hidupnya, oleh karena ilmu yang didapatkan dari mujahadah itu adalah hidayah Allah yang banyak berkaitan tentang rahasia kejadian alam, maka semakin tinggi ilmu dan kemampuan seseorang dalam urusan tersebut, tentunya keberadaannya di tengah masyarakat semakin dibutuhkan oleh orang lain.

Interaksi antara dua dimensi itu bisa terjadi karena dimensi barzahiyah dan dimensi duniawiyah yang juga disebut dimensi jismul lathif dan jismul mahsusah sejatinya adalah bagaikan dua lautan yang berdampingan tapi dibatasi daratan, dengan izin Allah suatu saat dua dimensi itu dibiarkan saling bertemu.

Gambaran konkrit dari keberadaan dua alam tersebut adalah alam jaga dan alam mimpi, bahwa alam mimpi itu sejatinya adalah bagian dari alam barzah yang dapat dimasuki orang hidup, meski pintu masuknya juga adalah ilmu Allah, yaitu tidur.

Seandainya orang yang sedang asik dengan alam mimpinya itu kemudian tidak mau kembali lagi kealam jaga ini, kira-kira apa yang diperbuat orang dengan jasad yang sedang ditinggalkan kehidupannya di alam mimpi itu? Tentunya seperti jasadnya orang
mati, jasad itu harus segera dikubur.

Hanya saja, oleh karena masuknya ruh orang hidup ke alam barzahiyah itu lewat pintu tidur, bukan dengan terbukanya mata hati buah mujahadah yang dijalani, maka apa-apa yang dilihat orang di alam mimpi itu harus dibaca lagi dengan ilmu takwil mimpi.

Seandainya cara menembus alam barzah itu dikondisikan melalui jalan mujahadah sehingga orang mendapatkan futuh dari Allah, maka apa yang dilihat oleh mata hati di alam mujahadah itu akan menjadi ilmu yakin yang sedikitpun tidak akan dicampuri keraguan hati, sehingga pemahaman hati itu bahkan tidak perlu lagi ditanyakan kepada siapapun.

Hal itu disebabkan, jika memang pemahaman itu datangnya dari Al-Khaliq mengapa masih harus ditanyakan kepada makhluk?Apabila pemahaman hati hasil perjalanan mujahadah itu ternyata masih dicampuri keraguan, bukan keyakinan hati seperti yang diuraikan di atas, yang demikian itu berarti “cara mujahadah” itu yang harus diselidiki barangkali di dalamnya masih ada yang perlu dibenahi.

Keadaan seperti itu memang seringkali dialami oleh para pemula, terlebih ketika mujahadah itu dilaksanakan dengan tanpa bimbingan seorang guru ahlinya.

Sebabnya, untuk mencapai sesuatu yang asli itu, para pemula itu seringkali harus terlebih dahulu mencicipi yang aspal (asli tapi belum final), untuk itu maka bimbingan seorang guru ahlinya adalah mutlak dibutuhkan, agar dengan pengalaman-pengalaman ruhani itu akhirnya para salik tersebut benar-benar mendapatkan yang asli.

Tanda-tandanya, ketika pemahaman hati itu benar-benar dapat menjawab tantangan hidup, sehingga mampu mengeluarkannya dari setiap kesulitan yang sedang terjadi dengan baik, Allah membeberkan rahasia dua alam itu didalam beberapa firman-Nya: “Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Q.S. Al-Furqan (25) : 53).

Dan firman Allah lagi: “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.” (Q.S. Ar-Rahman 55/19-20). Dan firman-Nya lagi: “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan, atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.” (Q.S. Al-Kahfi18/60).

Ayat-ayat tersebut di atas, apabila diartikan secara lahir saja, maka keberadaan dua lautan itu memang ada, namun seperti yang sudah diuraikan terdahulu, bahwa Allah menciptakan semua makhluk-Nya dengan berpasangan, yang diantaranya ada yang lahir dan ada yang batin, maka cara memahami ayat-ayat tersebut juga boleh secara batin yang tentunya dengan tidak meninggalkan arti yang lahir.

Adapun satu-satunya cara mengetahui yang batin itu dengan beri'tibar atau membuat percontohan. Allah menyatakan hal tersebut dengan firman-Nya yang artinya: “Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin dan (juga) pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tiada memperhatikan? (Q.S. Adz-Dzariyat : 20-21).

Oleh karena itu, dengan akalnya manusia boleh menggali makna ayat-ayat tersebut secara lahir atau pada dimensi yang kasat mata, maka manusia dengan alam materinya akan berhadapan dengan alam materi pula beserta segala sunnah yang ada.

Sedangkan apabila manusia mencari pemahaman ayat-ayat tersebut dengan mata hatinya, sehingga manusia dapat mengambil maknanya pada dimensi alam ghaib atau alam ruhaniyah, maka dengan ruhnya manusia akan berhadapan dengan dimensi alam ruh dengan segala sunnah yang ada.

Jadi, yang dimaksud dengan mengadakan pengembaraan ke alam barzahiyah adalah dengan kekuatan rasionalitas bagaimana seorang hamba yang beriman mampu menembus pembatas alam spiritualitas atau menembus batas pemisah antara dua lautan yang berbeda tersebut, yaitu dua lautan yang ada di dalam hati manusia.

Itulah yang dimaksud perkataan Nabi Musa As kepada muridnya: "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan.” (Q.S. (18) : 60).

Maksudnya, menembus batas antara dimensi jismul mahsusah dan dimensi jismul lathif, apabila pengembaraan pada dimensi alam jismul mahsusah atau alam dunia harus dilaksanakan orang dengan menempuh jarak, pengembaraan pada dimensi alam barzahiyah (jismul lathif) tidaklah demikian.

Pengembaraan alam barzahiyah itu harus ditempuh dengan sebaliknya, yaitu dengan berdiam diri dan berkhalwat, baik di dunia sepi maupun di dunia ramai dengan melaksanakan dzikir dan pikir untuk mencapai satu titik klimaks ibadah, agar dengan itu seorang salik mendapatkan hidayah dari Tuhannya, yaitu berupa pemahaman hati dalam bentuk kesimpulan ilmiah yang memancar dengan sendirinya yang disebut dengan “Ibrah”.

Pendakian di alam barzahiyah tersebut sejatinya adalah pendakian yang biasa-biasa saja, artinya setiap orang dapat melakukannya asal mempunyai kemauan dan kemampuan yang memadai, namun demikian, seperti halnya pendakian gunung di alam dunia, setiap pemula mesti harus melewati tahap pembelajaran.

Disamping para pemula itu harus mendapatkan petunjuk secukupnya, perjalanan itu juga harus dipandu oleh seorang pembimbing yang ahli, maka perjalanan ruhaniyah itupun juga demikian.

Adapun petunjuk jalan bagi pendakian ruhaniah itu adalah Al-Qur‘an dan hadits Nabi Saw, sedangkan pembimbing perjalanannya adalah guru-guru mursyid yang ditawassuli.

Yang demikian itu, sebagaimana dicontohkan dalam perjalanan Isra‘ dan Mi‘raj Nabi Muhammad Saw, meski beliau adalah seorang Rasul yang terjaga (ma`shum), di dalam perjalanan itu beliau juga mendapatkan kawalan dari Malaikat Jibril As sebagai pemandu dan petunjuk jalan.

Oleh karena keberadaan alam barzah jauh lebih luas daripada alam dunia, karena di alam barzah itu menampung kehidupan seluruh manusia, bahkan sejak zaman Nabi Adam As sampai dengan hari kiamat, maka pengembara di alam barzah ini lebih banyak yang mengalami kegagalan daripada pengembara di alam dunia.

Apabila kegagalan pengembaraan alam dunia bisa berakibat kematian manusia, demikian pula kegagalan di alam barzahiyah, bahkan kematian di alam barzahiyah tidak sekedar matinya jasad saja seperti di alam dunia, tapi jauh lebih fatal dari itu, karena yang mati adalah ruhani manusia, yaitu hatinya menjadi keras, sombong dan merasa benar sendiri.

Itulah kematian hati yang akan menjadikan penyebab datangnya penderitaan untuk selama-lamanya di neraka, karena orang yang sombong itu kehidupan ruhnya telah terjebak tipu daya syetan jin yang menyesatkan: “Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika siksaan Kami datang kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras dan syaitanpun menampakkan kebagusan kepada mereka dari apa yang selalu mereka kerjakan.” (Q.S. Al-An'am : 43).

Namun, seperti keberhasilan para pendaki di alam dunia, semakin tinggi gunung yang berhasil mereka daki, semakin itu pula ia akan menjadi bintang dan terkenal dalam kehidupan di bumi, seperti itu pula para pendaki alam ruhaniyah, semakin tinggi puncak keberhasilan yang mereka capai, semakin itu pula akan menjadi terkenal dalam kehidupan langit.

Jika pendakian di alam dunia mencapai puncak gunung, maka pendakian di alam barzahiyah adalah mencapai puncak titik kulminasi antara dua alam tersebut.

Hasilnya, dengan izin Allah seorang hamba akan mencapai satu potensi dimana mereka dapat melaksanakan interaksi ruhaniyah, baik dengan orang yang sudah mati maupun orang yang masih hidup.

Dengan potensi itu berarti manusia telah mampu keluar masuk di dalam dua alam yang berbeda itu dengan benar yang dengan itu secara otomatis manusia akan mendapatkan “shulthanan nashira” atau kekuatan penolong yang didatangkan kepada seorang hamba sebagai buah ibadah yang dijalani: “Dan katakanlah: "Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong." (Q.S. Al-Isra' : 80).

Dengan kekuatan penolong itu, akan terbuka suatu potensi dimana manusia dapat memanfaatkan seluruh potensi yang terbentang di alam semesta ini, artinya manusia mampu menjadi penjinak alam yang memang sesungguhnya disiapkan Allah dapat dijinakkan oleh kekuatan ruhaniyah manusia.

Allah telah menyatakan hal tersebut dengan firman-Nya: “Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu ni`mat-Nya lahir dan batin dan diantara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.” (Q.S. (31) : 20).

Hal tersebut bisa terjadi, karena alam semesta ini memang tercipta secara materi baik yang lahir maupun yang batin berpotensi dijinakkan manusia dan demikian pula manusia secara materi baik yang lahir maupun yang batin tercipta berpotensi menjinakkan alam semesta, maka tinggal manusia sendiri melengkapi dirinya dengan “Sulthan Ilahiyah” yaitu ilmu dan teknologi, supaya dengannya manusia mampu memanfaatkan potensi tersebut untuk memasuki potensi yang disiapkan Allah untuknya.

Bahkan secara khusus dalam hal ini manusia memang telah ditantang Allah untuk mampu menembus batas antara dua alam tersebut, sebagaimana yang dinyatakan dalam firman-Nya: “Hai jama`ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.” (Q.S. (55) : 33).

0 Response to "Perjalanan Di Dalam Dua Alam"

Post a Comment

Terimakasih atas kunjungan anda...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel