Kehidupan Yang Abadi

Manusia, yang selama hidupnya telah mampu melatih kehidupan jasmaninya, emosional dan rasional dengan benar, sehingga sebagian mereka berhasil menggapai segala cita-cita hidupnya di dunia, disamping itu, seharusnya mereka juga mampu melatih kehidupan ruhaninya spritual dengan benar pula, agar masing-masing kehidupan itu dapat hidup serasi dan seimbang.

Itulah kehidupan yang sempurna, kehidupan jasmani dan ruhani, dunia dan akhirat sehingga dengan itu manusia akan menjadi Insan Kamil sebagai khalifah Allah di muka bumi.

Akan tetapi, oleh karena kebanyakan manusia hanya cenderung mengelola kehidupan yang jasmani saja, maka kebanyakan dari mereka tersesat jalannya terperosok ke dalam jurang kehinaan yang nyata.

Dalil-dalil dalam Al-Qur‘an Al-Karim yang menyatakan tentang alam kubur atau alam barzah ada banyak sekali dan masing-masing membawa nuansa dan rasa yang berbeda-beda, marilah kita ikuti
sebagian darinya: “Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya? Dari apakah Allah menciptakannya? Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya, kemudian Dia memudahkan jalannya, kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali.” (Q.S. `Abasa (80) : 17-22).

“Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur dan dilahirkan apa yang ada didalam dada, sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka.” (Q.S. Al-`Adiyaat (100) : 9-11).

“Demikianlah keadaan orang-orang (kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: "Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang soleh terhadap yang telah aku tinggalkan, sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mukminun (23) : 99-100).

Dengan firman-Nya di atas, (Q.S. Al-Mukminun (23) : 99-100). Allah menggambarkan keadaan orang kafir menjelang saat kematiannya, orang kafir itu memohon kepada Tuhannya untuk bisa dikembalikan lagi di dunia, padahal ia belum memasuki alam kematian yang sesungguhnya, yang demikian itu karena sejatinya mereka telah melihat apa yang akan menimpa dirinya, yaitu siksa-siksa yang menyakitkan, akibat kekafiran selama hidupnya.

Oleh karena itu mereka ingin dikembalikan lagi ke dunia di dalam keadaan sehat wal afiat untuk dapat beramal shaleh, memperbaiki kesalahan yang pernah diperbuat dan mengganti apa yang telah ditinggalkannya.

Di dalam ayat yang lain Allah menegaskan lagi dengan firman-Nya: “Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat.” (Q.S. Al-Waqi'ah (56) : 83-84).

Orang yang sedang menghadapi sakaratul maut itu sesungguhnya memang melihat alam kematian, sebabnya, karena di saat seperti itu manusia dengan jismul mahsusah sedang mendekati alam jismul lathif.

Oleh karena alam jismul lathif adalah alam yang hakiki, maka semakin manusia mendekatinya, hijab yang selama ini menutupi mata hatinya berangsur-angsur dengan sendirinya menjadi terbuka, akibatnya pandangan mata lahir mereka menjadi tembus kepada pandangan mata batin sehingga yang semestinya hanya dapat dilihat mata batin, saat itu menjadi dapat dilihat pula oleh mata lahir.

Lalu, ketika manusia telah melewati titik kulminasi antara dua alam tersebut, maka yang asalnya ghaib menjadi nyata, demikianlah gambaran keadaan orang yang sedang menghadapi alam kematian, apabila keadaan seperti itu dapat dikondisikan manusia di saat masih sehat, yaitu mati di dalam hidup dengan melaksanakan mujahadah dalam rangka mengembarakan ruhaniyah untuk menembus dimensi alam jismul lathif, ketika dalam pengembaraan itu manusia berhasil melewati titik kulminasi batas dua alam tersebut, maka dalam kondisi jaga itu, akan terbuka baginya suatu potensi untuk mengadakan interaksi dengan temannya yang sudah mati.

Oleh karena itu, latihan untuk memasuki alam jismul lathif ini biasanya dilakukan oleh para ahlinya di saat mereka sedang berzairah di makam para Wali Allah, yang dinamakan mati itu sejatinya hanyalah istilah bahasa untuk menunjukkan kepada sesuatu yang dimaksud, yaitu titik kulminasi batas antara alam jismul mahsusah dan alam jismul lathif.

Dinamakan mati, karena tidak ada seorangpun setelah melewati batas itu memasuki kehidupan pada dimensi jismul lathif kembali lagi untuk hidup pada dimensi jismul mahsusah.

Oleh karena batas itu dinamakan mati, maka keadaan sebelum dan sesudahnya dinamakan hidup, yaitu kehidupan alam dunia dan kehidupan di alam barzah, jadi, mati itu sejatinya tidak ada, yang ada adalah kehidupan yang abadi.

Maksudnya sejak manusia dihidupkan untuk yang pertama kali di alam ruh, ia akan hidup untuk selama-lamanya, hanya saja kehidupan itu harus menjalani tahapan-tahapan kehidupan sesuai kehendak Sang Pencipta kehidupan.

Yaitu, setelah manusia menjalani kehidupannya di alam dunia, setelah matinya, apabila mereka adalah orang yang beriman, maka akan hidup dengan bahagia di syurga untuk selamanya, sebaliknya apabila mereka orang yang kafir, maka akan hidup dalam penderitaan di neraka untuk selama-lamanya pula.

Walhasil, mati adalah istilah, hari kebangkitan juga adalah istilah, hari kiamat juga istilah, akan tetapi masing-masing istilah itu menunjukkan makna yang berbeda.

Mati adalah batas antara alam dunia dengan alam barzah, hari kebangkitan adalah batas antara alam barzah dengan alam akhirat dan hari kiamat adalah batas alam antara alam jismul mahsusah (alam jasad) dengan alam jismul lathif (alam ruh).

Ketika orang sudah berada diambang batas antara kedua alam tersebut (ambang kematian), dengan sendirinya mereka berangsur-angsur dapat melihat apa yang akan terjadi pada alam berikutnya.

Apabila orang tersebut adalah orang kafir, maka mereka melihat siksa yang akan dijalaninya dan apabila orang yang beriman, mereka akan melihat kenikmatan yang sudah disiapkan untuk dirinya.

Oleh karena itu, mati juga dinamakan yakin, karena saat itu setiap individu sudah tidak mempunyai keraguan lagi terhadap apa yang selama ini ghaib bagi indera lahirnya, karena saat itu yang ghaib sudah menjadi nyata.

Seperti itu pula gambaran seorang salik yang telah mampu menempuh pengembaraan ruhaniyah melewati titik kulminasi antara dua alam tersebut, ia juga akan mendapat keyakinan yang kuat terhadap yang ghaib, karena yang ghaib itu berangsur-angsur akan menjadi nyata di dalam pandangan mata hatinya.

Allah menegaskan yang demikian itu dengan firman-Nya: “Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (Q.S. Al-Hijr (15) : 99).

0 Response to "Kehidupan Yang Abadi"

Post a Comment

Terimakasih atas kunjungan anda...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel