BACA JUGA
Loading...

Tiga Derajat Futuwwah

Tiga Derajat Futuwwah, yaitu adalah :
1. Meninggalkan permusuhan, pura-pura melalaikan kesalahan orang lain dan melupakan gangguan orang lain. Untuk menunjukkan futuwwah, kita tak perlu memusuhi seseorang dan tidak menempatkan dirimu sebagai musuh bagi seseorang.
Derajat ini ada tiga macam, yaitu :

- Tidak memusuhi seseorang dengan lisannya.
- Tidak memusuhinya dengan hatinya.
- Di dalam pikirannya tidak terlintas keinginan untuk memusuhinya.


Hal ini berkaitan dengan hak dirinya, tapi jika berkaitan dengan hak Allah, maka futuwwah ini justru harus di tunjukkan dengan cara memusuhi karena Allah dan bersama Allah serta menyerahkan hukum kepada Allah, seperti do'a iftitah yang di baca Nabi Shallallahu'alaihi wassallam, "Karena-Mu aku berperang dan kepada-Mu aku menyerahkan hukum."

Pura-pura melalaikan kesalahan orang lain artinya, jika kita melihat dia melakukan kesalahan yang menurut syari'at harus ada sangsi hukuman, maka buatlah seakan-akan engkau tidak melihatnya. Yang demikian ini lebih baik daripada menyembunyikan kesalahannya itu, padahal kita melihatnya.

Abu Ali Ad-Daqqaq menuturkan, bahwa ada seorang wanita yang menemui Hatim dan menanyakan suatu masalah kepadanya. Pada saat itu tanpa di sengaja wanita tersebut kentut, sehingga dia merasa sangat malu. Hatim berkata, "Bicaralah yang keras!" Wanita itu langsung menampakkan rona kegembiraan, karena dia mengira Hatim tuli atau tidak normal pendengarannya.

Wanita itu berkata, "Kalau begitu dia tidak mendengar suara kentutku." Karena kejadian ini Hatim di juluki Hatim si tuli. Tindakan Hatim seperti ini bisa di sebut separuh dari futuwwah, kita juga harus melupakan gangguan orang lain terhadap diri, agar hatimu menjadi bersih dan engkau tidak melancarkan balasan atau kebencian kepadanya.

2. Mendekati orang yang menjauhi, memuliakan orang yang menyakiti, memaafkan orang yang berbuat jahat kepada, lapang dada dan bukan amarah, kasih-mengasihi dan bukan menahan-nahan diri serta pura-pura sabar.

Derajat ini lebih tinggi dan lebih sulit dari sebelumnya, karena derajat pertama hanya meninggalkan permusuhan dan pura-pura lalai, sedangkan derajat ini mengandung sikap santun kepada orang yang justru berbuat tidak baik dan jahat kepada kita.

Kebaikan dan kejahatan merupakan dua garis sejajar yang tidak bertemu pada satu titik. Siapa yang ingin memahami derajat ini sebagaimana lazimnya, maka hendaklah dia melihat perikehidupan Rasulullah Shallallahu'alaihi wassallam dan pergaulan beliau bersama manusia.

Tidak ada yang lebih sempurna dalam masalah ini selain beliau, kemudian para pewaris beliau, termasuk pula Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Rekan-rekannya berkata, "Aku ingin sikapku terhadap teman-temanku seperti sikap-nya terhadap musuh-musuhnya."

Menurut yang tersirat, dia tidak pernah mendo'akan kecelakaan bagi seorang pun di antara orang-orang yang memusuhinya, tapi beliau senantiasa berdo'a bagi keselamatan mereka. Suatu hari saya menemui Syaikhul-Islam untuk mengabarkan kematian seseorang yang paling gencar memusuhinya dan bahkan menyakiti serta mengganggunya.

Rupanya dia tidak suka dengan cara penyampaian ini, setelah mengucapkan inna lillahi dia bangkit dari duduknya lalu datang ke rumah keluarga orang yang meninggal itu. Dia berkata, "Aku akan menjadi wakilnya bagi kalian. Jika kalian membutuhkan suatu pertolongan dariku, maka aku pasti akan menolong kalian." Mereka sangat gembira mendengarnya dan tak tergambarkan rasa terimakasih mereka.

Memaafkan orang yang berbuat jahat kepada kita, memang sepintas lalu agar sulit untuk di pahami, karena bagaimana mungkin kejahatan harus di maafkan begitu saja? Pemahaman lebih jauh, kita tidak perlu menjatuhkan hukuman kepadanya atas kejahatannya terhadap dirimu.

Lalu buatlah pergaulan dengan manusia semacam ini muncul dari
kelapangan dada dan tenggang rasa, bukan dengan cara menahan-nahan amarah, dengan dada yang menyesak dan memaksakan kesabaran, karena yang demikian ini sama dengan pemaksaan yang cepat akan berubah, lalu akhirnya membuka sifatmu yang asli, yaitu tidak bisa memaafkan kesalahan orang lain dan tidak lapang dada.

3. Tidak bergantung kepada bukti penunjuk dalam perjalanan, tidak mengotori pemenuhan hak Allah dengan pengganti dan tidak menegakkan kesaksian kepada rupa, inilah tiga perkara yang terkandung di dalam derajat ini.

Tidak bergantung kepada bukti penunjuk dalam perjalanan, artinya, orang yang mengadakan perjalanan kepada Allah berpijak kepada keyakinan, bashirah dan kesaksian. Jika dia bergantung kepada bukti penunjuk dan rambu-rambu jalan, berarti dia belum mencium bau keyakinan, karena itu para Rasul tidak menyeru menekankan ajakan untuk menyatakan adanya Pencipta, tetapi menyeru mereka untuk menyembah dan mengesakan-Nya.

Untuk pengakuan tentang adanya Allah, maka seruannya sudah pasti tanpa di sertai keragu-raguan sedikit pun, seperti firman Allah : "Rasul-rasul mereka berkata, "Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi?" (Q.S. Ibrahim : 10).

Bagaimana mungkin tuntutan pembuktian atas sesuatu yang harus di buktikan di anggap sah, sementara sesuatu yang harus di buktikan itu lebih nyata daripada pembuktiannya?

Dalam memenuhi hak Allah, maka kita tidak boleh meminta imbalan. Pemenuhanmu terhadap hak Allah harus di lakukan secara tulus, di landasi cinta dan mencari apa yang di cintai-Nya, tidak mengotorinya dengan tuntutan pengganti dan imbalan, karena yang demikian ini sama sekali tidak mencerminkan futuwwah.

Siapa yang tidak menuntut dari selain Allah dan tidak menodainya dengan imbalan yang di mintanya, tapi di lakukan atas dasar cinta dan mengharapkan Wajah Allah, pada hakikatnya dia telah beruntung mendapatkan pengganti dan imbalan.

Selagi imbalan ini bukan merupakan tujuannya, maka dia justru mendapatkan bagian yang lebih banyak, dia terpuji dan di syukuri.

Taruklah bahwa kita mempunyai empat orang budak, yaitu yang pertama, menghendaki kita dan tidak menghendaki dari kita, yang kehendaknya tergantung kepada diri kita dan keridhaan kita, yang kedua, menghendaki dari kita dan tidak menghendaki kita, yang hanya sibuk dengan imbalan dan bagian yang harus di terimanya, yang ketiga, yang menghendaki kita dan menghendaki dari kita, yang keempat, yang tidak menghendaki kita dan tidak menghendaki dari kita, maka yang kita pilih dan yang paling kita cintai dari empat budak ini adalah yang pertama, yaitu yang menghendaki kita dan tidak menghendaki bagian dari kita.

Begitulah keadaan kita di hadapan Allah, tidak menegakkan kesaksian kepada rupa, artinya tidak melandaskan kesaksian terhadap hal-hal yang tampak seperti yang sudah di jelaskan di bagian terdahulu, kesaksian yang benar mampu meniadakan hal-hal yang nyata dan rupa-rupa yang bisa mengecoh.

Maksudnya, semua makhluk tidak di anggap sebagai sesuatu yang agung. Menurut ilmu orang-orang, tentu saja Allah terlalu agung dan terlalu mulia untuk di serupakan seperti ini, yang khusus, mencari cahaya hakikat berdasarkan tuntutan bukti penunjuk, tidak di perbolehkan bagi orang yang mengaku memiliki futuwwah.

Jika terhadap musuh saja kita tidak perlu menuntut maaf dan pembuktian tentang kebenaraan maafnya, maka bagaimana mungkin kita menuntut bukti tauhid dan ma'rifat terhadap Pelindung dan Kekasih, kekuasaan dan kehendak-Nya? Tentu saja hal ini bertentangan dengan futuwwah dari segala segi, jika ada seseorang mengundangmu untuk datang ke rumahnya, lalu engkau berkata kepada utusannya, "Aku tak akan pergi bersamamu kerumahnya, kecuali apabila kita memberikan bukti tentang keberadaan orang yang mengundang kita", berarti kita adalah orang yang membual dan terlalu hina untuk memiliki futuwwah.

Lalu bagaimana mungkin kita menuntut bukti dari Allah, yang keberadaan-Nya, keesaan, kekuasaan, Rububiyah dan Uluhiyah-Nya lebih nyata dari segala bukti dan dalil?

0 Response to "Tiga Derajat Futuwwah"

Post a Comment

Terimakasih atas kunjungan anda...

TAGS

AKHLAK (117) AQIDAH (116) FIQH ISLAM (102) FIQH MUAMALAH (17) MUSLIMAH (50) POLITIK ISLAM (23) TASAWUF (202) TAUHID (102)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel