Membeli Akhirat dengan Dunia

Seperti yang telah di uraikan terdahulu, bahwa sumber Ilmu Laduni terbit dari rahasia alam qadim sedangkan kehidupan adalah sesuatu yang hadits, tapi demikian, meskipun kehidupan dunia merupakan sesuatu hadits, dengan yang hadits itu sesungguhnya seorang salik bisa mendapatkan yang qadim, itu manakala yang hadits itu mampu di jadikan sarana untuk mencapai tujuan bukan di jadikan sebagai tujuan akhir dari sebuah perjalanan.

Hal itu di isyaratkan oleh Rasulullah Saw di dalam sebuah haditsnya : “Dunia adalah perladangan akhirat”, artinya, jalan untuk mendapatkan yang qadim tersebut bisa di lakukan dengan menukar yang hadits.
Konsepnya telah di nyatakan Allah Ta‘ala dengan firman-Nya : ”Carilah hari akhirat, di dalam apa-apa yang Allah sudah mendatangkan kepadamu." (Q.S. Al-Qashash 28/77). Untuk membangun sebab-sebab supaya seorang salik mendapatkan sumber Ilmu Laduni sebagai akibat, bagi orang-orang yang sudah memiliki bagian dunia, baik harta benda maupun kehormatan duniawi, pemilikan yang hadits tersebut bisa di jadikan sarana untuk mendapatkan anugerah yang qadim.

Dengan harta dan kekuasaan yang ada, bagaimana seorang hamba bisa mendapatkan Ilmu Laduni, bukan sebaliknya, tapi fenomena menunjukkan gejala yang sebaliknya, sebagian besar manusia mencari kehidupan duniawi dengan sarana akhirat, semisal sekelompok orang mengadakan istighatsah massal, mereka melibatkan orang banyak dengan mengatas namakan agama, padahal yang di cari sesungguhnya hanyalah keuntungan duniawi secara politik.

Untuk mendapatkan Ilmu Laduni, caranya tidak seperti itu, mujahadah dan riyadhah sebagai sarana yang harus di lakukan, baik sendiri maupun berjama‘ah, seharusnya hanya bertujuan untuk akhirat, yaitu mencari ridha Allah Ta‘ala dan Syurga, bukan untuk tujuan yang lain, meski untuk mencari Ilmu Laduni sendiri sekalipun.

Sebab, meskipun Ilmu Laduni itu merupakan fasilitas yang di datangkan dari sumber yang qaadim, namun, Ilmu Laduni itu juga merupakan sarana untuk kemudahan urusan dunia, padahal setiap kenikmatan duniawi, meski bentuknya karamah, itu bisa jadi malah menjadi penyebab orang masuk neraka, hal itu manakala cara penggunaannya salah.

Oleh karena mujahadah dan riyadhah yang di lakukan itu hanya bertujuan untuk mendapatkan Ilmu Laduni, agar dengan itu orang mendapatkan sarana kehidupan yang tentunya dapat di nikmati di dalam kehidupan dunia, maka berarti mujahadah dan riyadhah itu masih berorientasi kepada kehidupan duniawi.

Akibatnya, sampai kapanpun orang tersebut tidak mungkin bisa mendapatkan sumber Ilmu Laduni yang di maksud, mujahadah yang dimaksud sebagai sarana untuk mendapatkan Ilmu Laduni tersebut, itu bukan hanya dalam arti melaksanakan shalat, wirid dan puasa saja atau dalam bentuk ibadah vertikal, namun juga ibadah horizontal.

Termasuk di dalamnya adalah mema‘afkan kesalahan manusia, berlaku sabar kepada orang yang berbuat salah dan mengikhlaskan hati kepada orang yang memfitnah dan menghina diri, hal itu bahkan merupakan ibadah hablum minan nas, yang pelaksanaannya terkadang jauh lebih berat daripada melaksanakan shalat dan puasa.

Manakala seorang hamba telah mampu melaksanakan ibadah horizontal tersebut dengan sempurna, sesuatu yang tidak di sukai di dunia ini di jadikan alat untuk mencari kehidupan akhirat, hal itu karena dia ingat kepada Allah dengan firman-Nya : "Maka barangkali karena engkau tidak menyukai terhadap sesuatu padahal Allah akan menjadikan padanya kebaikan yang banyak sekali." (Q.S. An-Nisa‘ 4/19).

Yang demikian itu di laksanakan hanya bertujuan semata-mata mencari ridha Allah Ta‘ala, sama sekali tidak ada kaitan dengan urusan orang yang di maafkan tersebut, maka itulah yang di maksud mencari akhirat dengan alat dunia.

Adapun yang di maksud alat dunia di sini adalah firman Allah : "Anfusahum" (dari sebagian jiwa kalian). Allah Ta‘ala telah menyatakan dengan firman-Nya : "Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu‘min diri dan harta mereka dengan memberikan syurga." (Q.S. At-Taubah 9/111).

Ketika seorang hamba telah menjual bagian dunianya, baik harta benda maupun jiwanya kepada Allah, maka Allah akan membelinya dengan surga atau dengan sesuatu yang qadim, termasuk di dalamnya adalah anugerah azaliah yang di turunkan di dunia berupa Ilmu Laduni, tapi ada sesuatu yang perlu kita tanyakan kepada diri kita sendiri, jika sekiranya Allah sudah membeli bagian dunia kita dengan syurga, pertanyaannya, kapankah kita pernah mengadakan transaksi dengan Allah Ta‘ala?, kita menukar bagian dunia kita sendiri untuk kepentingan kehidupan akhirat kita?

Baik dengan menshadaqahkan harta benda maupun jiwa dan kehormatan kita kepada orang yang membutuhkan?, sehingga dengan itu Allah akan membelinya dengan syurga? Jika belum, berarti kita belum mempunyai tempat di syurga yang dapat kita tempati di akhirat nanti.

Syurga adalah simbol keberhasilan baik untuk urusan dunia maupun urusan akhirat dan syurga juga adalah simbol yang qadim, kalau jalan mencari syurga di akhirat harus dengan mengadakan transaksi kepada Allah dengan menjual bagian dunia yang sudah di miliki, maka seharusnya seperti itu pula jalan untuk membangun sebab-sebab untuk mendapatkan Ilmu Laduni, yaitu dengan memberikan sebagian harta benda dan kehormatan kepada orang lain yang membutuhkan sekedar untuk mengharapkan ridha Allah dan syurga.

Adapun orang yang suka memfitnah orang lain tersebut, sejatinya mereka juga memang sedang sangat membutuhkan kehormatan orang yang di fitnah itu dengan tujuan untuk mengangkat kehormatan mereka sendiri di hadapan orang banyak, hal itu menunjukkan, bahwa keadaan para tukang fitnah itu sejatinya tidak berbeda dengan keadaan para pengemis di pinggir jalan.

Oleh karena itu, tukang fitnah itu hendaknya juga di kasihani sama seperti orang mengasihani pengemis di pinggir jalan, mereka juga harus di beri sekedar shadaqah yang mereka butuhkan, meski itu berupa sebagian kehormatan yang kita miliki, itu tidak bakal mengurangi kehormatan orang yang memberi, bahkan akan menambah kehormatan manakala pemberian itu di berikan dengan ikhlas semata mengharap kehormatan dari Allah Ta‘ala dan syurga.

Kita biarkan mereka memfitnah diri kita supaya mereka puas dengan jerih payahnya itu, karena sesungguhnya mereka adalah orang fakir miskin, bahkan krisis kehormatan seperti orang kelaparan yang wajib mendapatkan bantuan.

Adapun kehormatan orang yang di fitnah, kehormatannya itu tidak akan habis sekedar di shadaqahkan untuk temannya yang miskin kehormatan tersebut, hal itu seperti tidak akan ada habisnya harta benda orang kaya yang di shadaqahkan sebagian untuk orang yang membutuhkan, buktinya, tidak ada suatu cerita pun, orang menjadi bangkrut dan pailit gara-gara bershadaqah.

Seperti itu pula keadaannya, maka tidak ada orang krisis kehormatan sehingga menjadi hina gara-gara di fitnah orang lain, asal fitnah-fitnah itu mampu di sikapi dalam hati dengan benar dan tepat.

0 Response to "Membeli Akhirat dengan Dunia"

Post a Comment

Terimakasih atas kunjungan anda...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel