Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer
Allah Swt berfirman : "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang di beri ilmu pengetahuan beberapa derajat." (Q.S. Al-Mujadalah : 11). Rasulullah Saw bersabda : "Barang siapa yang menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan dunia, wajiblah ia memiliki ilmu, barang siapa yang ingin selamat dan berbahagia di akhirat, wajiblah ia mengetahui ilmu dan barangsiapa yang menginginkan kedua-duanya, wajiblah ia memiliki ilmu kedua-duanya pula." (H.R. Bukhari dan Muslim).

TENTANG HARI KIAMAT, HARI PERHITUNGAN (HISAB)

Hari berbangkit dan hari perhitungan yang sangat lengkap dan tuntas atas segala bentuk amal perbuatan manusia, di katakan sehari, ya memang sehari dengan ukuran hari akhirat, namun kalau di bandingkan sehari akhirat lebih kurang adalah lima puluh ribu tahun dunia, Allah berfirman : "Seorang peminta telah meminta kedatangan azab yang bakal terjadi, untuk orang-orang kafir, yang tidak seorangpun dapat menolaknya yang datang dari AIlah, yang mempunyai tempat-tempat naik. "Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Rabb dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun." (Q.S. Al-Ma'arij Ayat 1-4).
Azab ini akan menimpa orang-orang kafir dalam sehari yang kadarnya limu puluh ribu tahun. Dalam hadits Shahih Muslim di sebutkan sebuah riwayat dari sahabat Abu Hurairah Ra, Rasulullah bersabda : "Tiada seorangpun dari pemilik emas atau pemilik perak yang tidak menunaikan haknya, melainkan pada hari kiamat akan di bentangkan untuknya papan dari logam dan di panaskan di atasnya dalam naar jahannam, lalu di pangganglah Iambungnya, dahinya dan punggungnya. Ketika telah dingin, di kembalikan lagi dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun sehingga tertunaikanlah segala yang berkaitan dengan hamba."

Hari yang panjang ini adalah hari yang menyusahkan bagi orang-orang kafir. Allah Ta'ala berfirman : "Dan adalah (hari itu), hari yang penuh kesukaran bagi orang-orang yang
kafir." (Q.S. Al-Furqan Ayat 26). Allah juga berfirman : "Maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari yang sulit, bagi orang-orang kafir lagi tidak mudah." (Q.S. Al-Mudatsir Ayat 10). Jadi siksaan tersebut di atas sebagaimana yang di katakan Rasulullah adalah pada hari perhitungan adalah memang sehari, tapi di rasakan oleh manusia yang di hukum dengan seharinya dunia, yaitu lima puluh ribu tahun.

Dapat di pahami dari dua ayat di atas, bahwa bagi orang-orang mukmin adalah mudah, sangat sulit bagi yang berdosa dan kafir. Hari yang amat panjang ini dan penuh dengan hal-hal yang menakutkan dan perkara-perkara yang luar biasa di jadikan mudah oleh Allah Ta'ala bagi orang mukmin dan menyusahkan bagi orang kafir, kita memohon kepada Allah Ta'ala kiranya berkenan menjadikan kita dan saudara-saudara kita termasuk golongan yang di beri kemudahan oleh Allah pada hari kiamat. Tidak juga bisa di katakan terlalu berlebihan dalam memikirkan dan menyelami masalah-masalah ghaib, namun hal ini adalah nyata dan cerminan bagi orang yang beriman dan berlomba-lomba untuk menghindari azab esok di hari kiamat, karena hal-hal yang ada di akhirat itu tidak seperti yang ada di dunia, meskipun terdapat keserupaan secara makna, akan tetapi antara keduanya terdapat perbedaan yang besar. Sebagai contoh, Allah Ta'ala menyebutkan bahwa di dalam syurga itu terdapat kurma, delima, buah-buahan, daging burung, madu, air, susu, khamr dan sejenisnya namun Allah Ta'ala berfirman,"Seorangpun tidak mengetahui apa yang di sembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." (Q.S. As-Sajadah Ayat 17).

Dalam sebuah hadits qudsi di sebutkan bahwa Allah berfirman : "Aku sediakan bagi hamba-hamba-Ku yang shalih sesuatu yang belum pernah di lihat oleh mata, belum pernah di dengar oleh telinga dan belum pernah terdetik dalam hati manusia." Nama-nama ini yang memiliki substansi di dunia ini tidak berarti bahwa hal itu sama seperti yang di sebutkan oleh Allah mengenai hal-hal yang ada di akhirat, meskipun secara asalnya maknanya ada kesamaan. Setiap hal-hal yang ghaib yang memiliki kesamaan asal maknanya dengan hal-hal yang bisa kita lihat di alam dunia ini tidak memiliki kesamaan dalam substansi, karena kita dan siapa saja mesti memperhatikan kaidah ini dan hendaklah dalam menghadapi masalah-masalah yang ghaib seperti ini di biarkan menurut makna zhahirnya saja tanpa perlu berusaha mencari-cari arti lain di balik itu.

Oleh karena itulah ketika Imam Malik Ra di tanya mengenai firman Allah, yaitu "Yang Maha Rahman beristiwa di atas 'Arsy". "Bagaimana la beristiwa ?", beliau menggeleng-gelengkan kepala sampai keringatnya bercucuran, karena pertanyaan tersebut terasa amat berat baginya, kemudian beliau berkata yang kemudian jawaban beliau ini menjadi masyhur dan menjadi neraca untuk setiap apa yang di sifatkan oleh Allah bagi diri-Nya. Kata beliau adalah : "Istiwa' itu tidak majhul, kaifiatnya tidak ma’quI (tidak masuk akal atau tidak bisa di mengerti), iman dengannya wajib dan mempertanyakannya adalah bid'ah."

Mempertanyakan secara mendalam mengenai masalah-masalah semacam ini merupakan bid'ah, karena para sahabat Radhiyallahu 'Anhum yang merupakan generasi yang paling tamak terhadap ilmu dan kebaikan, apalagi kalau di bandingkan dengan kita, tidak pernah bertanya kepada Nabi Saw dengan sejenis pertanyaan-pertanyaan semacam itu, mereka hanya patuh, taat dan mendengarkan serta mengikuti anjuran perintah dan menjauhi larangan. Cukuplah kiranya mereka itu menjadi teladan kita tentang hal banyak pertanyaan tentang ketuhanan seperti maksud pertanyaan seseoraang tersebut kepada Imam Malik. Apa yang kami katakan di sini yang ada kaitannya dengan masalah hari akhir, tak berbeda permasalahannya dengan segala yang terkait dengan sifat-sifat Allah 'Azza wa Jalla yang Dia sendiri sifatkan untuk diri-Nya. Di antaranya : Dia memiliki ilmu, kekuasaan, pendengaran, penglihatan, perkataan dan sebagainya. Maka substansi dari itu semua jika di nisbatkan kepada Allah 'Azza wa Jalla, tentu tidak ada sesuatupun yang menyerupai atau menyamainya, hal itu hanya di nisbatkan kepada manusia apa yang menyerupainya.

Setiap sifat mengikuti maushufnya (yang di sifati), karena Allah Ta'ala tidak ada yang menyerupainya dalam hal sifat-sifat-Nya. Pendek kata, bahwa hari akhir adalah satu hari. la merupakan hari yang amat menyusahkan bagi orang-orang kafir dan bagi orang-orang mukmin ringan dan mudah. Segala pahala dan siksa yang ada di hari akhir itu termasuk perkara yang tidak bisa di ketahui hakIkatnya di kehidupan dunia ini, meskipun asal maknanya dapat kita ketahui dalam kehidupan dunia ini, yang paling utama untuk di lakukan adalah hanya tetap bertaqwa kepada Allah dan melaksanakan segala perintah-Nya, menjauhi dan meninggalkan segala bentuk larangan-Nya.

Posting Komentar untuk "TENTANG HARI KIAMAT, HARI PERHITUNGAN (HISAB)"