Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer
Allah Swt berfirman : "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang di beri ilmu pengetahuan beberapa derajat." (Q.S. Al-Mujadalah : 11). Rasulullah Saw bersabda : "Barang siapa yang menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan dunia, wajiblah ia memiliki ilmu, barang siapa yang ingin selamat dan berbahagia di akhirat, wajiblah ia mengetahui ilmu dan barangsiapa yang menginginkan kedua-duanya, wajiblah ia memiliki ilmu kedua-duanya pula." (H.R. Bukhari dan Muslim).

SISTEM KEYAKINAN DAN TUJUAN PEMERINTAHAN ISLAM

Setiap langkah yang di tempuh seseorang dalam beberapa arah, mesti mengandung tujuan, demikian pula halnya dengan setiap gerakan yang terjadi dalam suatu peradaban sudah sudah tentu memiliki tujuan yang ingin di capai, setiap langkah yang bermanfaat dan setiap gerakan yang bertujuan, pada dasarnya mencerminkan adanya kekuatan penggerak dalam dirinya, dengan kata lain, tujuan merupakan pendorong utama bagi di aktualisasikannya gerakan tersebut, kendati tujuan, sebagai contoh pertama, berperan sebagai energi yang menggerakkan, namun segera setelah sasaran di raih, ia akan menyempurnakan proses gerak tersebut sekaligus mengakhirinya. Sebagai contoh, seseorang yang tengah berusaha keras untuk menyelesaikan proses akademisnya, dalam hal ini, ia begitu berambisi dan bergairah demi meraih tujuan tersebut, tujuan yang ia pancangkan telah memaksanya untuk berusaha secara keras, namun berbarengan dengan tercapainya tujuan tersebut, gairahnya pun memudar dan hasratnya pun berakhir, ini lantaran tak ada alasan lain untuk melanjutkan semua itu kecuali jika ia memutuskan untuk menggapai beberapa tujuan lain.

Persoalan semacam itu ternyata juga terljadi dalam skala kemasyarakatan, kemajuan hanya akan bisa di capai apabila mereka memilih suatu target besar bagi kemajuan kulturalnya, keinginan atau target tersebut akan tetap bcrtahan jika upaya kearahnya terus di lakukan, bahkan akan rnemaksa mereka untuk berusaha lebih keras lagi, akan tetapi bila ruang lingkup keinginan tersebut amat terbatas, usaha untuk mewujudkannya juga akan terbatas, di mana setelah tujuan terealisasi, momen kreatif dan motivasi perkembangannya lambat laun akan mengendur, untuk kemudian lenyap tanpa bekas.
Berkenaan dengan itu, mazhab historisisme modern menghadapi dilema, menurut mazhab ini, semua pewabahan yang berlangsung dalam batang tubuh masyarakat bersesuaian dengan hukum dialektika, itulah doktrin filosofis kaum Marxisme. Dalam pada itu, mereka percaya bahwa tujuan utama gerak sejarah dan evolusi manusia adalah penghancuran berbagai rintangan sosial yang bisa menghalangi pertumbuhan kekuatan sistem produksi dan alat-alat produksi, semua itu niscaya hanya akan terjadi dengan cara mcnghapus kekayaan pribadi serta mengkonstruksi masyarakat komunis, jika di percayai bahwa tujuan puncak dari kemajuan manusia yang sesungguhnya adalah ketika masyarakat komunis telah terbentuk, maka harus pula di yakini bahwa penumbuhan masyarakat telah sempurna dan mencapai tahap penyelesaian.
Bersamaan dengan itu, gerakan mereka pun otomatis akan terhenti, berdasarkan asumsi di atas, apakah bisa di benarkan bahwa tujuan yang sanggup memicu pertumbuhan masyarakat dan perkembangan sejarah, berupa pembebasan alat-alat produksi dari berbagai beban yang mengikat yang timbul dalam problem distribusi, akan menuntaskan gerak masyarakat dalam sejarah, sekaligus juga menjadikan kemampuan kreatif serta konstruktif masyarakat tidak lagi di perlukan? Pada hakikatnya, satu-satunya tujuan yang memberikan gairah, kehangatan dan cahaya abadi kepada eksistensi manusia serta menjamin kemajuan budayanya adalah memperoleh sesuatu yang bisa di jadikan medium dalam melanjutkan setiap upaya yang di lakukannya, tatkala seseorang kian mendekati tujuannya, berbagai pandangan baru akan terbuka baginya dan pada gilirannya, pandangan-pandangan tersebut akan memperkukuh hati, meningkatkan semangat, serta kian mengintensifkan upaya-upaya kreatifnya.
Dalam konteks ini, pemerintahan Islam memiliki peran yang sangat penting, yakni mendeklarasikan Allah sebagai tujuan dan terminal akhir kafilah kemanusiaan, yang di dalamnya watak-watak Ilahiah menjadi rambu-rambu perjalanan menuju pada tujuan besamya, yaitu keadilan, pengetahuan, kekuasaan, kebajikan dan pengampunan membentuk arah tujuan kafilah suci masyarakat manusia.
Setiap langkah kepada tujuan ini dan setiap keberhasilan yang di raih akan menguak berbagai cakrawala baru, menambah dorongan, serta kian memperteguh manusia untuk terus melanjutkan perjalanan kafilahnya sebagai makhluk terbatas, manusia tidak akan bisa mencapai Allah Yang Maha Mutlak dan Tidak Terbatas, akan tetapi setiap langkah yang di ayunkan dan di arahkan kepada-Nya akan membuahkan kebajikan sekaligus mendorongnya untuk semakin melipatgandakan seluruh ikhtiar yang mungkin sanggup di lakukannya.
Allah berfirman : “Sesungguhnya Aku akan memberikan petunjuk kepada mereka yang berjihad, karena Aku di atas jalan-jalan-Ku.” (Q.S. Al-Ankabut Ayat 69). 
Oleh sebab itulah, sepanjang tujuan yang di patrikan dalam hati adalah Allah, gejolak antusiasme manusia atau masyarakat yang bernaung di bawah payung pemerintahan Islam yang terus menerus menciptakan sejarah pada periode awal umat, tidak akan pernah padam, mereka yang di dorong rasa keadilan, hasil dari proses penumbuhan dan manifestasi tujuan besar ini, akan tetap gigih melawan para tiran dan penindas, tak hanya di sekitar wilayah dan masyarakatnya sendiri, namun juga di seluruh dunia.
Dalam satu kisah, di ceritakan, bahwa Khusraw (salah seorang Raja Persia) pernah bertanya kepada Ubadah Bin Shamil tentang apa alasan kaum Muslimin untuk menyerang imperium miliknya. Ubadah menjawab, bahwa keberadaan pasukan Muslim di wilayah tersebut (imperium Khusraw) tak lain untuk membebaskan orang-orang yang tertindas. Berdasarkan itu, apa yang di sebut sebagai api perjuangan demi menegakkan keadilan mutlak, tidak akan pernah padam. Sebuah tujuan mutlak akan senantiasa membakar rnasyarakat untuk tetap aktif, sekaligus memberikannya tenaga dan kekuatan yang jauh lebih banyak lagi.
Allah berfirman : “Katakanlah: "Sekiranya air laut sebagai tinta untuk menulis kalimat-kalimat Tuhanku, niscaya laut itu kering sebelum habis di tulis kalimat-kalimat Tuhanku, walaupun Aku datangkan tambahkan sebanyak itu (lagi)." (Q.S. Al-Kahfi Ayat 109). Dengan demikian, sistem keyakinan pemerintahan Islam yang di dasarkan keimanan kepada Allah, sifat-sifat-Nya dan menjadikan Allah sebagai tujuan akhir gerak pembentukan budaya manusiawi yang hakiki, merupakan satu-satunya sistem keyakinan yang sanggup membantu serta memberi energi yang tak habis-habisnya kepada umat manusia untuk menjemput masa depannya.
ltulah salah satu alasan mengapa Islam tak ingin tujuan mutlaknya di ganti dengan tujuan yang relatif (terbatas), suatu lujuan relatif jelas akan merintangi kesinambungan sebuah proses kemajuan, lebih dari itu, batas-batas pada setiap tahap (tujuan relatif) tak akan bisa di lampaui, tatkala seorang Muslim bangkit menentang tirani di kota atau negerinya sendiri, bukan berani ia tidak menaruh perhatian terhadap penindasan dan penyiksaan yang di lakukan para tiran di belahan dunia lain.
Tujuan akhir dan paripuma dari perlawanan tersebut bukan semata menaklukkan satu tirani tertentu, ini di karenakan sikap semacam itu sama saja dengan mengabsahkan atau mengakui penindasan di tempat lain. Bangkitnya seorang Muslim menentang tirani dalam lingkungannya semata-mata di dorong oleh kebenciannya kepada perlakuan tirani satu manusia terhadap manusia lain, yang pada dasamya merupakan sesama manusia. Faktor tunggal yang sederhana tersebut ternyata cukup memadai dan ampuh dalam membulatkan tekad seorang Ubadah Bin Shamit, bersama sejumlah sahabatnya, untuk segera pergi meninggalkan Semenanjung Arabia demi membebaskan kalangan petani yang tertindas di seluruh pelosok terjauh di negeri Iran.

Posting Komentar untuk "SISTEM KEYAKINAN DAN TUJUAN PEMERINTAHAN ISLAM"