PENGABDIAN KEPADA ALLAH ADALAH JALAN MENUJU KEBESARAN
"IDZAA JAA ANASHRULLAAHl WAL FATHI, WAROAITAN NAASA YADKHULUUNA Fll DllNlL LAAHl AFWAAJAN, FASABBIH BIHAMDI ROBBIKA WASTAGHFIR INNAHU KAANATAWWAABAA." Artinya : “Apabila telah datang pertolongan Allah dan takluknya (Mekkah), sedang engkau melihat manusia yang berbondong-bondong (masuk) kedalam agama Allah, maka bertasbihlah karnu dengan memuji Tuhanmu dan beristighfarlah karena sesungguhnya Dia amat menerima taubat." (Q.S. An-Nashr Ayat 1-3).
Pengabdian yang ikhlas kepada Allah itu sendiri pada hakikatnya adalah "kebebasan" dan jalan menuju kepemimpinan yang hakiki, yang dapat membebaskan hati dari perbudakan oleh mahluk serta melepaskan manusia dari ketudukan kepada selain Allah, seperti berhala dan aneka ketuhanan lainnya yang justru semuanya itu adalah perhambaan dan perbudakan atas manusia oleh rnanusia yang jijik, kendatipun lahiriyahnya adalah pemimpin yang hebat.
Ini karena dalarn hati manusia ada perasaan butuh kepada Tuhan, kepada DZAT yang di sembah yang menjadi tempat bergantung, berusaha dan mencari ridhanya, kalau yang di sembah itu bukan Allah yang Esa, dia akan menyembah kepada Tuhan-tuhan yang lain, yang di ketahui ataupun yang tidak di ketahui, yang berakal maupun yang tidak berakal, yang berwujud rnaupun yang tidak berrwujud, walaupun semuanya itu hanya sangkaan yang salah dan khayal. Tidak ada sikap yang paling mulia bagi seorang yang berakal melainkan dia menyembah kepada Dzat yang menciptakan dia dengan membuang jauh-jauh penyembahan kepada yang lain.
Tidak ada daya yang paling ampuh untuk membawa kebahagiaan dan keselamatan hati, selain mengerahkan seluruh "himmah"-nya kepada Tuhan yang Maha Esa dengan penuh khudhu' dan cinta kasih, sehingga hatinya tidak di risaukan oleh aneka ketuhanan (berhala) yang bermacam-macam itu. "Allah membuat perumpamaan, yaitu : "Ada seorang laki-laki yang mempunyai beberapa sekutu yang berebutan dan seorang laki-laki yang menyerah kepada seorang saja." Adakah orang tersebut sama dalam perbandingan? Segala puji bagi Allah, tetapi, kebanyakan manusia tidak mau mengerti." (Q.S. Az-zumar Ayat 29). Seorang hamba yang di miliki oleh seorang tuan, hatinya lebih tenteram, karena dia tahu apa yang menjadi keinginan tuannya, lalu dia dapat mernenuhinya denqan senang dan puas.
Adapun seorang hamba yang di miliki oleh beberapa orang yang salinq berebut salah seorang dari antara mereka itu menyuruhnya yang berlainan dengan apa yang di suruh oleh yang lain, maka betapa susah dan celakanya si hamba tersebut! lbnu Taimiyah berkata : "Setiap orang yang congkak dari beribadah kepada Allah, pasti akan menyembah yang lain, sebab manusia itu sangat perasa, selalu bergerak dengan sesuatu kehendak dan keinginan.” Rasulullah bersabda : ”Nama yang paling cocok ialah Harits dan Hammaam." (H.R. Bukhari). "Hammam” artinya : orang yang berbuat dengan kemauan dan kemauan adalah pangkal dari kehendak, jadi manusia selalu berkehendak, sedang tiap-tiap kehendak harus ada yang di kehendaki, dan dia itu menjadi titik tujuannya, jadi setiap hamba mempunyai pangkal tujuan dan sangat di cintai, dialah akhir tujuan dan yang di cintai.
Oleh karena itu kalau bukan Allah yang menjadikan akhir tujuan dan yang di cintai, bahkan ia ingkar terhadap itu, sudah pasti ada tujuan yang di cintai dan yang di sembah selain Allah. Dengan begitu, maka dia adalah menjadi hamba dari yang di tuju dan yang di cintai itu, rnungkin uang, mungkin kedudukan, mungkin bayangan dan mungkin yang di jadikannya sebagai Tuhan, seperti : matahari, bulan, bintang, berhala, kubur para Nabi, kubur para shalih dan lain-lain.
Dan kalau dia menjadi hamba selain Allah, maka dia adalah musyrik dan setiap yang congkak (takabbur) adalah musyrik. ltulah sebabnya Fir'aun sabesar-besar manusia yang congkak dari beribadah kepada Allah dan dia adalah musyrik, seperti yang di firmankan Allah : "Dan Musa berkata : Sesungguhnya aku berlindung diri pada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang takabbur, yang tidak percaya kepada hari perhitungan....begitulah Allah mematri atas tiap-tiap hati orang yang sombong, yang dzalim." (Q.S. AI-Mu'min Ayat 27-35).
Orang yang di maksudkan adalah Fir'aun. Firaun di sifati sebagai musyrik, sebagairnana tersebut dalam firman Allah : "Ketua-ketua dari kaumnya Fir'aun berkata : "Apakah engkau, biarkan Musa dan kaumnya supaya mernbuat kerusakan di bumi dan dia akan meninggalkan engkau dan Tuhannya." (Q.S. Al-A’raf Ayat 127).
Bahkan secara kronologis menunjukkan, bahwa semakin besar ketakabburan seseorang dari beribadah kepada Allah, akan semakin besar pula kemusyrikannya kepada Allah, karena semakin bertambah takabburnya dari beribadah kepada Allah akan semakin bertambah kebutuhannya kepada yang di tuju dan di cintai, yang menjadi tujuan pertama dari hatinya itu. Dengan begitu maka adalah menyekutukan (Allah) dengan apa yang di sembahnya itu.
Hati akan selalu membutuhkan semua makhluk, kecuali kalau Allah yang di jadikan sebagai penolongnya yang tidak menyembah selain dia, dia tidak akan minta pertolongan kecuali kepada-Nya, tidak tawakkal kecuali kepada-Nya, tidak merasa gernbira, kecuali dengan mengerjakan apa yang di cintai dan di ridhai-Nya, tidak membenci kecuali terhadap apa yang di benci-Nya, tidak berkasih-kasihan kecuali dengan orang yang di kasihi-Nya, tidak memusuhi kecuali terhadap orang yang di musuhi-Nya, tidak mencintai sesuatu kecuali karena Allah, tidak membenci sesuatu kecuali karena Allah, tidak memberi kecuali karena Allah dan tidak menolak kecuali karena Allah juga.
Kalau keikhsanan agamanya kepada Allah itu sudah kuat, maka pengabdiannya kepada Allah akan semakin sempurna pula ketidak butuhannya kepada rnahluk dan dengan sempurnanya pengabdiannya kepada Allah itu, maka akan sempurna pula bebasnya dari ketakabburan dan kemusyrikan.
Pengabdian yang ikhlas kepada Allah itu sendiri pada hakikatnya adalah "kebebasan" dan jalan menuju kepemimpinan yang hakiki, yang dapat membebaskan hati dari perbudakan oleh mahluk serta melepaskan manusia dari ketudukan kepada selain Allah, seperti berhala dan aneka ketuhanan lainnya yang justru semuanya itu adalah perhambaan dan perbudakan atas manusia oleh rnanusia yang jijik, kendatipun lahiriyahnya adalah pemimpin yang hebat.
Ini karena dalarn hati manusia ada perasaan butuh kepada Tuhan, kepada DZAT yang di sembah yang menjadi tempat bergantung, berusaha dan mencari ridhanya, kalau yang di sembah itu bukan Allah yang Esa, dia akan menyembah kepada Tuhan-tuhan yang lain, yang di ketahui ataupun yang tidak di ketahui, yang berakal maupun yang tidak berakal, yang berwujud rnaupun yang tidak berrwujud, walaupun semuanya itu hanya sangkaan yang salah dan khayal. Tidak ada sikap yang paling mulia bagi seorang yang berakal melainkan dia menyembah kepada Dzat yang menciptakan dia dengan membuang jauh-jauh penyembahan kepada yang lain.
Tidak ada daya yang paling ampuh untuk membawa kebahagiaan dan keselamatan hati, selain mengerahkan seluruh "himmah"-nya kepada Tuhan yang Maha Esa dengan penuh khudhu' dan cinta kasih, sehingga hatinya tidak di risaukan oleh aneka ketuhanan (berhala) yang bermacam-macam itu. "Allah membuat perumpamaan, yaitu : "Ada seorang laki-laki yang mempunyai beberapa sekutu yang berebutan dan seorang laki-laki yang menyerah kepada seorang saja." Adakah orang tersebut sama dalam perbandingan? Segala puji bagi Allah, tetapi, kebanyakan manusia tidak mau mengerti." (Q.S. Az-zumar Ayat 29). Seorang hamba yang di miliki oleh seorang tuan, hatinya lebih tenteram, karena dia tahu apa yang menjadi keinginan tuannya, lalu dia dapat mernenuhinya denqan senang dan puas.
Adapun seorang hamba yang di miliki oleh beberapa orang yang salinq berebut salah seorang dari antara mereka itu menyuruhnya yang berlainan dengan apa yang di suruh oleh yang lain, maka betapa susah dan celakanya si hamba tersebut! lbnu Taimiyah berkata : "Setiap orang yang congkak dari beribadah kepada Allah, pasti akan menyembah yang lain, sebab manusia itu sangat perasa, selalu bergerak dengan sesuatu kehendak dan keinginan.” Rasulullah bersabda : ”Nama yang paling cocok ialah Harits dan Hammaam." (H.R. Bukhari). "Hammam” artinya : orang yang berbuat dengan kemauan dan kemauan adalah pangkal dari kehendak, jadi manusia selalu berkehendak, sedang tiap-tiap kehendak harus ada yang di kehendaki, dan dia itu menjadi titik tujuannya, jadi setiap hamba mempunyai pangkal tujuan dan sangat di cintai, dialah akhir tujuan dan yang di cintai.
Oleh karena itu kalau bukan Allah yang menjadikan akhir tujuan dan yang di cintai, bahkan ia ingkar terhadap itu, sudah pasti ada tujuan yang di cintai dan yang di sembah selain Allah. Dengan begitu, maka dia adalah menjadi hamba dari yang di tuju dan yang di cintai itu, rnungkin uang, mungkin kedudukan, mungkin bayangan dan mungkin yang di jadikannya sebagai Tuhan, seperti : matahari, bulan, bintang, berhala, kubur para Nabi, kubur para shalih dan lain-lain.
Dan kalau dia menjadi hamba selain Allah, maka dia adalah musyrik dan setiap yang congkak (takabbur) adalah musyrik. ltulah sebabnya Fir'aun sabesar-besar manusia yang congkak dari beribadah kepada Allah dan dia adalah musyrik, seperti yang di firmankan Allah : "Dan Musa berkata : Sesungguhnya aku berlindung diri pada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang takabbur, yang tidak percaya kepada hari perhitungan....begitulah Allah mematri atas tiap-tiap hati orang yang sombong, yang dzalim." (Q.S. AI-Mu'min Ayat 27-35).
Orang yang di maksudkan adalah Fir'aun. Firaun di sifati sebagai musyrik, sebagairnana tersebut dalam firman Allah : "Ketua-ketua dari kaumnya Fir'aun berkata : "Apakah engkau, biarkan Musa dan kaumnya supaya mernbuat kerusakan di bumi dan dia akan meninggalkan engkau dan Tuhannya." (Q.S. Al-A’raf Ayat 127).
Bahkan secara kronologis menunjukkan, bahwa semakin besar ketakabburan seseorang dari beribadah kepada Allah, akan semakin besar pula kemusyrikannya kepada Allah, karena semakin bertambah takabburnya dari beribadah kepada Allah akan semakin bertambah kebutuhannya kepada yang di tuju dan di cintai, yang menjadi tujuan pertama dari hatinya itu. Dengan begitu maka adalah menyekutukan (Allah) dengan apa yang di sembahnya itu.
Hati akan selalu membutuhkan semua makhluk, kecuali kalau Allah yang di jadikan sebagai penolongnya yang tidak menyembah selain dia, dia tidak akan minta pertolongan kecuali kepada-Nya, tidak tawakkal kecuali kepada-Nya, tidak merasa gernbira, kecuali dengan mengerjakan apa yang di cintai dan di ridhai-Nya, tidak membenci kecuali terhadap apa yang di benci-Nya, tidak berkasih-kasihan kecuali dengan orang yang di kasihi-Nya, tidak memusuhi kecuali terhadap orang yang di musuhi-Nya, tidak mencintai sesuatu kecuali karena Allah, tidak membenci sesuatu kecuali karena Allah, tidak memberi kecuali karena Allah dan tidak menolak kecuali karena Allah juga.
Kalau keikhsanan agamanya kepada Allah itu sudah kuat, maka pengabdiannya kepada Allah akan semakin sempurna pula ketidak butuhannya kepada rnahluk dan dengan sempurnanya pengabdiannya kepada Allah itu, maka akan sempurna pula bebasnya dari ketakabburan dan kemusyrikan.
Posting Komentar untuk "PENGABDIAN KEPADA ALLAH ADALAH JALAN MENUJU KEBESARAN"
Terimakasih atas kunjungan anda...