Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer
Allah Swt berfirman : "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang di beri ilmu pengetahuan beberapa derajat." (Q.S. Al-Mujadalah : 11). Rasulullah Saw bersabda : "Barang siapa yang menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan dunia, wajiblah ia memiliki ilmu, barang siapa yang ingin selamat dan berbahagia di akhirat, wajiblah ia mengetahui ilmu dan barangsiapa yang menginginkan kedua-duanya, wajiblah ia memiliki ilmu kedua-duanya pula." (H.R. Bukhari dan Muslim).

Raihlah Kesucian Hati

Dalam sebuah hadits, Raslullah Saw bersabda," Sesungguhnya Allah tidak memandang jasad kalian dan tidak pula wajah kalian tetapi Dia memandang kepada hati kalian (H.R.Muslim). Hati adalah hakikat manusia, selain itu, hati merupakan tempat jatuhnya pandangan Allah kepada manusia. Tentunya dia akan tidak senang bahkan murka saat memandang hatinya penuh dengan dosa dan dendam. Secara umum, manusia merasakan kebahagiaan saat memandang raut muka seorang bayi.

Hal itu terjadi karena seorang bayi tidak memiliki dosa dan dendam, begitu halnya jika Allah memandang hati manusia terlepas dari dosa dan dendam, maka Dia senang memandangnya, bahkan Dia akan memberikan berbagai anugerah-Nya ke dalam hati.

Dalam Al-Qur'an, Allah Swt berfirman," Dan bersegeralah kamu sekalian kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada syurga yang luasnya langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) bak di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang.

Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan " (Q.S. 3 : 133-134). " Maka di sebabkan rahmat dan Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu " (Q.S. 3 : 159).

Dari kedua ayat itu, kita bisa memahami bahwa tindakan menafkahkan harta, menahan amarah, memaafkan kesalahan, memohonkan ampunan atas kesalah orang lain adalah tindakan orang terpuji, bahkan Allah Swt sendiri memerintahkan semua itu kepada Nabi Muhammad.

Ketika seseorang meminta kita untuk memaafkan dan mengampuni, maka kita seharusnya memaafkan dan mengampuninya. Janganlah kita tetap bersikukuh untuk tidak memaafkan dan mengampuninya karena jika kita berbuat demikian itu maka hati itu masih penuh dengan dendam. Jadi, jika orang diminta untuk memaafkan dan mengampuni kesalahan orang lain dan ia tidak mau melakukannya, maka celakalah dirinya itu sebab hatinya penuh dengan dendam. Padahal Allah tidak senang memandang hati penuh dengan dendam.

Bahkan Dia murka pada hati itu sebab tidak memaafkan dan mengampuni orang lain. Jika kita membandingkan antara kesalahan manusia kepada Allah dan kesalahannya kepada manusia lain, maka kesalahannya kepada Allah tentu lebih besar daripada kesalahannya kepada manusia lain, meski begitu Dia tetap mau memaafkan dan mengampuni kesalahan manusia. Di sini kita tahu bahwa sebenarnya tidak ada alasan untuk tidak memaafkan dan mengampuni kesalahan orang lain.

Jika kita merujuk pada penjelasan Al-Ghazali, maka konsekuensi tindakan mengampuni atas kesalahan orang lain adalah menutupi kesalahan itu dan tidak menceritakannya kepada siapapun. Maksudnya, jika kita mengampuni suatu kesalahan tapi kita masih saja menceritakannya, maka sesungguhnya kita belum mengampuninya secara sejati, bahkan bisa jadi kita akan terjebak pada kesalahan sebab menceritakan kesalahan seseorang.

Jika kita mengampuni kesalahan orang lain, maka kita tidak perlu menceritakan kesalahan itu di hadapan orang lain, dengan begitu orang yang meminta ampunan dari kita akan merasakan kebaikan luar biasa.

Sedangkan konsekuensi dari tindakan memaafkan atas kesalahan orang lain adalah menghapus dendam itu dari hati. Jika kita telah memaafkan kesalahan orang lain tapi hati kita tetap penuh dengan dendam, maka sesungguhnya kita belum benar-benar memaafkan kesalahan itu.

Jika manusia tidak bisa memaafkan kepada manusia lain, maka bisa dipastikan hubungan silaturahmi itu akan putus sebab dendam, dengan memaafkan dan mengampuni, kita membuka kembali hati untuk menerima kehadiran orang lain sebagai saudara dalam menjalani hidup di dunia ini.

Jika Allah Swt mau memaafkan dan mengampuni kesalahan manusia, mengapa kita tidak mau memaafkan dan mengampuni kesalahan orang lain ? Kiranya kita tidak memiliki alasan untuk tidak memaafkan dan mengampuni. Seperti halnya Nabi Muhammad Saw, kaum Shalih mudah memaafkan dan mengampuni kesalahan orang lain.

Meski begitu, kita perlu memahami motivasi di balik kedua tindakan itu sehingga kita mudah melakukannya.

Motivasi pertama, manusia harus memahami kebaikan Allah Swt kepadanya, motivasi ini memberikan pengetahuan bahwa dirinya banyak berbuat kesalahan kepada Allah dan Dia pun mau memaafkan dan mengampuninya.

Motivasi kedua, manusia harus memahami dirinya dengan jujur bahwa dirinya juga pernah menyakiti hati orang lain tanpa sepengetahuannya. Motivasi ini memberikan pengetahuan bahwa manusia juga membutuhkan maaf dan ampunan dari orang lain.

Dua motivasi itu diharapkan bisa memudahkan kita untuk melakukan tindakan memaafkan dan mengampuni dalam rangka membebaskan hati kita dari dendam....

Posting Komentar untuk "Raihlah Kesucian Hati"