Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer
Allah Swt berfirman : "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang di beri ilmu pengetahuan beberapa derajat." (Q.S. Al-Mujadalah : 11). Rasulullah Saw bersabda : "Barang siapa yang menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan dunia, wajiblah ia memiliki ilmu, barang siapa yang ingin selamat dan berbahagia di akhirat, wajiblah ia mengetahui ilmu dan barangsiapa yang menginginkan kedua-duanya, wajiblah ia memiliki ilmu kedua-duanya pula." (H.R. Bukhari dan Muslim).

MENGAPA ALLAH MENCIPTAKAN APA-APA YANG DI MURKAINYA

Segala isi alam ini tanpa kecuali adalah ciptaan Allah Swt, Dia menciptakan segala sesuatu sesukanya, baik itu yang di senangi, di sukai, di cintai dan bahkan sebaliknya yaitu apa-apa yang di benci dan di murkai juga di ciptakan-Nya, muncul pertanyaan kenapa pula Allah Swt juga menciptakan iblis dan syaithan yang sudah jelas berdasarkan program ciptaan-Nya adalah hanya untuk menghasut, adu domba, merayu kejahatan dan lain sebagai sehingga menghasilkan kerusakan di muka bumi ini, maka dengan akan timbul pertanyaan, mengapa Allah Swt menciptakan musuh-Nya, menciptakan orang-orang yang jahat, kafir, musyrik, munafiq sampai kepada atheis dan berbeda-beda keyakinan juga di ciptakan-Nya dan kesemuanya itu adalah di murkai-Nya sendiri, hal ini adalah masalah yang berat bagi segelintir manusia dalam menyikapi dan memahaminya, sehingga terkadang sering muncul sendiri dalam pemikiran manusia, baik itu secara sendiri-sendiri maupun secara berkelompok bahkan golongan-golongan membahas masalah ini, sungguh sukar bagi sebagian manusia untuk memecahkannya.
Dalam menyikapi dan memahami mengenai persoalan atau permasalahan ini adalah pertama-tama kita bicarakan dulu “Perbedaan antara kehendak Allah Swt (Masyiah) dan kesukaan (mahabbah) Allah Swt.” Sebagian manusia menganggap bahwa kehendak Allah Swt adalah selalu identik atau sama dengan hal-hal kesukaan atau kesenangan atau kebaikan atau kecintaan atau kesayangan atau keridhaan, nah, di sinilah letak kesukaran dan kesulitan bagi sebagian orang dalam memahami masalah ini yang rumit dan terkesan bahaya untuk di bahas.

Dalam Al-Qur’an Allah Swt telah membantah anggapan yang mengatakan bahwa kehendak dan qadha Allah Swt sejalan atau sejajar dengan hal-hal yang di sukai atau di ridhai-Nya, ini anggapan orang-orang kafir atau musyrik, Allah Swt berfirman,”Akan berkata orang-orang musyrik, jika di kehendaki Allah, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya, dan tidak kami haramkan apa-apa, begitu juga orang-orang yang sebelum mereka membikin dusta sehingga mereka merasakan akan siksaan Kami. Katakanlah : Adakah kamu mempunyai keterangan yang bisa kamu tunjukkan kepada Kami? Kamu hanya mengikuti sangkaan dan kamu hanya berdusta.” (Q.S Al-An’am : 148).

“Dan berkata orang musyrik : Jika Allah menghendaki, tentu kami tidak sembah apapun selain-Nya, tidak pula bapak-bapak kami, dan tentu kami tidak haramkan sesuatu apapun dengan tidak keizinan-Nya, demikian ucapan orang yang sebelum mereka dan tidaklah kewajiban Rasul-Rasul kecuali menyampaikan secara terang.” (Q.S A-Nahl : 35). Mereka buat alasan atas kecintaan mereka terhadap hal kemusyrikan yang berisikan kemungkaran, keingkaran dan kedurhakaan, mereka katakan kesyirikan mereka adalah atas kehendak Allah Swt juga, dengan alasan inilah mereka menyanggah atas perintah dan larangan Allah Swt.

Kedua ayat tersebut di atas adalah merupakan bantahan Allah Swt terhadap anggapan orang yang menyamakan kehendak dan kesukaan Allah Swt dan kekeliruan mereka timbul karena mereka menyamakan kehendak dan keridhaan Allah Swt, tetapi bagi orang-orang yang dapat membedakan antara 2 (dua) hal ini yang berbeda yaitu kehendak dan keridhaan (masyiah dan mahabbah) bahwasanya ini adalah keduanya adalah dua, bukan satu dan keduanya tidaklah identik, dengan demikian maka akan terhindarlah dari kekeliruan sikap pemahaman menganai hal ini.

Allah Swt dalam beberapa kejadian, menghendaki terjadinya sesuatu yang juga tidak di sukai-Nya, dan kadang-kadang menyukai apa-apa yang tidak di kehendaki-Nya, contohnya adalah kejadian thalaq atau perceraian, hal ini tidak di sukai Allah Swt namun tidak juga di murkai-Nya, hanya berbeda pada dosa-dosa yang telah jelas jenis-jenisnya sesuai dengan aturan dan larangan-larangan-Nya.

Allah Swt suka kalau orang-orang kafir itu berpindah jadi beriman, akan tetapi orang-orang kafir itu tetap saja dalam kekafirannya dan tidak mau beriman, Allah Swt menghendaki adanya iblis dan para pasukannya akan tetapi Allah Swt tidaklah menyukai akan iblis dan syaithan tersebut berikut para manusia yang termakan hasutan mereka ini.

Bila hal ini telah di fahami dengan baik, bahwa kehendak adalah lain atau berbeda dengan kesukaan, dan Allah Swt tidaklah memerintahkan agar kita menyukai segala apa-apa yang di ciptakannya, sebab walaupun Allah Swt menciptakan hal-hal yang buruk dan menjadi rupa musuh-Nya, maka tidaklah hal sedemikian di sukai oleh Allah Swt bagi manusia yang mengikuti kepada apa-apa yang tidak di sukai-Nya tadi walau Ia sendiri yang menciptakannya, karena itu adalah mutlak atas kehendak dan pengaturan-Nya.

Dengan telah memahami atas segala perbedaan antara kehendak dan kesukaan Allah Swt, dan bahwa Allah Swt tidaklah memerintahkan agar kita menyukai segala apa yang di ciptakan dan di kehendaki Allah Swt, maka akan hilanglah segala keragu-raguan dan kekeliruan, berubahlah suatu kerumitan menjadi mudah, dan tentu tidak akan ada pertentangan antara apa yang di syari’atkan Allah Swt dengan Qadar-Nya, Syari’at-Nya tidaklah meniadakan atas Qadar-Nya, begitu juga Qadar-Nya tidak meniadakan Syari’at-Nya, bahkan Qadar-Nya menolong kepada Syari’at-Nya sedangkan Syari’at-Nya membenarkan atas Qadar-Nya, artinya masing-masing keduanya akan membenarkan hal lainnya, manusia yang menyadari ini akan mengerti dan tanpa ragu-ragu bahwa sikap ridha (suka menerima) atas Qadha Allah Swt adalah wajib, bahkan ini adalah merupakan azas Islam dan sendi-sendi Islam itu sendiri, setiap hamba Allah Swt wajib ridha dengan Qadha Allah Swt tanpa berbolak-balik, tanpa keberatan dan tanpa adanya bantahan.

Allah Swt berfirman,”Tidak, demi tuhanmu, mereka tidak di katakan beriman sehingga mereka jadikan engkau (muhammad) hakim dalam apa yang mereka perselisihkan di antara mereka, kemudian mereka tidak merasakan keberatan (sempit) dalam hati mereka tentang apa yang engkau putuskan, serta mereka menyerah dengan sungguh-sungguh.” (Q.S An-Nisaa’ : 65).

Bertahkim kepada Rasulullah Saw, menunjukkan tingkat ke-Islam-annya, lenyapnya rasa sempit dalam hati menunjukkan tingkat ke-Iman-annya sedangkan menyerah dengan sungguh-sungguh itu menunjukkan tingkat Ihsan-nya. Islam, Iman dan Ihsan adalah tiga perkara yang harus di miliki oleh setiap orang-orang yang beriman, bila seseorang ridha, senang menerima qadha yang sesuai dengan keinginan dan kemauannya, seperti kekayaan, kesehatan, keselamatan, kesenangan dan kebahagiaan adalah merupakan hal yang biasa bagi orang-orang yang beriman.

Jadikan ibadat akan semua qadha yang menyenangkan itu di terimanya dengan segala rasa syukur kepada Allah Swt. Dengan memakai dan menggunakan nikmat itu hanya untuk menerima dan mencapai taraf kecintaan kepada Allah Swt, akan tetapi bila seseorang ridha menerima qadha yang berlawanan dengan kehendak atau keinginannya, seperti melarat, susah, sakit, kecelakaan dan lain sebagainya, maka ini adalah hukumnya mustahab atau sunnat, orang-orang yang berlaku sedemikian menunjukkan keimanan yang sudah sedemikian tingginya kepada Allah Swt.

Bila seseorang yang ridha pula pada qadha yang merupakan hal-hal yang du murkai Allah Swt, seperti keingkaran, kemungkaran, kemaksiatan, kejahatan dan lain sebagainya hal-hal yang jahat atau buruk, maka ini adalah hukumnya haram di lakukan, karena hal ini berlawanan dengan ridha dan mahabbah Allah Swt terhadap hamba-Nya dan Allah Swt tidak meridhai dan menyukainya, maka jelas adzab yang akan di terimanya.

Sekarang mengapa Allah Swt menghendaki sesuatu yang tidak Ia sukai?
Kenapa Allah Swt sampai menghendaki hal yang sedemikian?
Apakah mungkin jika di kumpulkan segala bentuk kemurkaan dan kebencian-Nya?

Ber­agam-ragam pendapat dan jawaban umat manusia terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas, sehingga terjadi pendapat-pendapat yang umumnya bertentangan satu sama lain berikut dari segala kata-kata dan perbuatan menganai persoalan ini, sekarang kita lihat dulu apa yang di kehendaki Allah Swt, yaitu ada dua macam :

1. Apa yang di kehendaki-Nya untuk diri-N­ya sendiri.
2. Apa yang di kehendaki-Nya untuk selain-Nya, yaitu bagi segenap makhluk-Nya.

Apa yang di kehendaki-Nya untuk diri-Nya sendiri adalah sesuatu yang di senangi Zat-Nya, dan apa yang di kehendaki-Nya untuk lainnya atau untuk segenap makhluk-Nya, kadang-kadang juga bisa saja merupakan sesuatu yang di benci-Nya bagi Zat-Nya, akan tetapi tetap di kehendaki-Nya untuk terjadi sebagai wasilah atau perantara atau ujian untuk mencapai maksud dan kehendak-Nya juga.

Dalam hal ini kadang-kadang bertemu dua perkara, yaitu kemarahan-Nya dan kehendak-Nya, yang satu tidak meniadakan yang lainnya karena berlainan atas masing-masing objeknya, seperti obat, adalah pahit dan di benci secara umum karena rasanya pahit, namun tetap di perlukan sebagai kehendak atas kesehatan, nah di sinilah contohnya bertemu antara kehendak dengan kebencian atau kemurkaan-Nya dan di katakan juga yaitu tidak meniadakan satu atas yang lainnya.

Setelah memahami pengertian dan perbedaan antara “Kehendak” dan “Kesukaan” Allah Swt, marilah kita fahami pula atas nikmatnya Allah Swt selain menciptakan sesuatu yang Ia sukai dan cintai, juga menciptakan apa-apa yang Ia benci dan murkai pula, satu kebijaksanaan yang tertinggi bagi Allah Swt menciptakan alam dan segala isinya mengandung dua hal yang bertentangan, tiap sesuatu yang di ciptakan Allah Swt tetap beserta lawan-lawannya, di ciptakan-Nya iblis dan syetan berikut pasukannya sebagai sejelek-jeleknya makhluk dan sejahat-jahatnya makhluk, lalu di ciptakan-Nya pula malaikat yang sebaik-baik dan semulia makhluk.

Di ciptaka Allah Swt malam beserta siang yang menjadi lawannya di ciptakan terang lawannya gelap, obat dan penyakit hidup dan mati, laki-laki dan perempuan dan lain sebagainya yang serba berlawanan, di dalam menciptakan sesuatu yang masing-masing berlawanan inilah terdapat kebijaksanaan dan keagungan Allah Swt.

Di katakan dengan kebijaksanaan tertinggi, kesucia dan keagungan Allah Swt, dengan cobalah kita perhatikan dan bayangkan apa yang terjadi jika Allah Swt menciptakan hanya siang atau malam saja, bayangkan pula jika terjadi malam saja secara terus-terusan sampai kiamat nanti, sebaliknya bayangkan pula jika hanya siang saja secara terus-menerus sampai hari kiamat nanti, tentu keseimbangan tidak ada dan hanya kerusakan totallah yang terjadi dan tidak akan bisa hidup setiap makhluk-Nya.

Demikian juga jika Allah Swt hanya membuat seluruh manusia kaya, tidak ada yang sedang, miskin dan melarat kehidupannya, tentu saja jika semua manusia kaya raya maka lenyaplah segala kegiatan ekonomi, karena sudah jelas tiada seorangpun yang mau menanam kebutuhan makanan, jadi kuli angkat, jadi pembuat bangunan perumahan dan lain sebagainya dan ini cukuplah di mengerti akibatnya jelas kacau balau.

Begitu pula jika Allah Swt menciptakan hanya orang pintar saja, api saja dengan tiada di ciptakan air, juga Dia hanya menciptakan laki-laki saja tidak ada perempuan atau sebaliknya, maka kacau balau juga kehidupan dunia ini, begitulah seterusnya banyak contoh-contoh yang lainnya sejenis, dengan demikian “Maha suci Allah sebaik-baik pencipta.” (Q.S Al-Mu’minuun : 14).

Allah Swt berfirman,”Hadapkanlah dirimu lurus dengan agama ini, yaitu buatan Allah yang Ia buat manusia atasnya, tidak dapt di ganti buatan Allah itu, ialah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Q.S Al-Ahzab : 62).

Demikianlah sunnatullah pada orang-orang yang sudah lampau dan tidaklah dapat sunnatullah itu di ubah-ubah, karena ciptaan Allah Swt itu berdasarkan kebijaksanaan yang amat tinggi setinggi-tingginya, maka tiada yang dapat mengubahnya, sebab jika di ubah sedikit saja maka kerusakannya sangatlah besar akibatnya.

Demikian juga alasannya Allah Swt menciptakan iblis dan syetan berikut pengikutnya, bila ini tidak di ciptakan Allah Swt, maka manusia akan baik semuanya dan tiada guna Allah Swt menciptakan neraka dan membuat sarana dan prasarana sebab dan akibat bagi manusia untuk penempatannya nanti di akhirat, sungguh Allah Swt Maha Bijaksana.

Dengan tidak di ciptakannya iblis dan syetan berikut pengikut dan antek-anteknya, tentu tidak akan ada kejahatan, keingkaran, kemungkaran, penyelewengan, kedurhakaan dan tidak ada gunanya mujahadah atau perjuangan, bahkan tidak perlu adanya agama, Nabi-Nabi-Nya dan para Rasul-Rasul-Nya, tentu akhirnya tuhan pencipta alam ini tidak akan di kenal oleh sekalian makhluk ciptaan-Nya tanpa kecuali, karena umat manusia tidak akan butuh apa-apa lagi, semuanya tersedia tanpa adanya usaha atau ikhtiar serta ujian dan lain sebagainya, tidak akan adanya pemerintahan dan tidak akan perlu segala-galanya, langsung saja masuk syurga tak perlu lagi ada kehidupan dunia ini, sedangkan dunia ini adalah jembatan menuju kehidupan abadi, Allah Swt Maha Berkehendak dengan sendiri-Nya tanpa ada pengaturan lainnya dan hanya aturan-Nya yang berlaku.

Untuk memperkenalkan wujud Allah Swt tersebut kepada manusia dan segala makhluk ciptaan-Nya sebagai menunjukkan Dia adalah Maha atas segala sifat di dunia ini, menunjukkan Kebesaran dan Keagungan-Nya, di ciptakan-Nya Iblis dan Syetan berikut kaki tangannya yang merupakan faktor utama dari segala keingkaran dan kejahatan di kalangan umat manusia, di ciptakan-Nya pula malaikat yang selalu tunduk dan patu menurut kehendak dan perintah Allah Swt.

Posting Komentar untuk "MENGAPA ALLAH MENCIPTAKAN APA-APA YANG DI MURKAINYA"