Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer
Allah Swt berfirman : "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang di beri ilmu pengetahuan beberapa derajat." (Q.S. Al-Mujadalah : 11). Rasulullah Saw bersabda : "Barang siapa yang menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan dunia, wajiblah ia memiliki ilmu, barang siapa yang ingin selamat dan berbahagia di akhirat, wajiblah ia mengetahui ilmu dan barangsiapa yang menginginkan kedua-duanya, wajiblah ia memiliki ilmu kedua-duanya pula." (H.R. Bukhari dan Muslim).

CAHAYA HATI ADALAH SUMBER CAHAYA ILLAHI

Asal terbitnya cahaya illahi pada manusia adalah bersumber dari hatinya berikut rahasia-rahasianya, sinar berupa ilmu, ma’rifat (mengenal) dan sinar tauhid bertempatkan dalam hati seseorang yang memancarkan cahaya illahi, cahaya yang keluar dari hati adalah merupakan suata bayangan (majadz) sifat mahmudah (baik), seperti, halus budi bahasanya, tidak dengki, tidak iri, rendah hati santun, sopan, taat beribadah dan lain sebagainya sifat-sifat kebaikan, cahaya hati ini yang keluar sangat kuat dan melebihi dari cahaya matahari dan bulan, jika cahaya matahari sanggup ditanggungkan oleh dunia beserta isinya namun tidak untuk cahaya hati, karena cahaya hati adalahmerupakan simbol dari seluruh sifat-sifat ilahiyyah yang baik dan mustahil sifat yang buruk, karena beberapa jenis sifat Allah Swt ada pada segenap manusia kecuali yang bersifat kekuatan, kehendak, kekuasaan dan lain sebagainya sesuai yang ada pada uraian sifat 20 (dua puluh), Rasulullah Saw dalam hadist qudsy bersabda,”Tidak akan cukup untuk-Ku bumi dan langit-Ku, tetapiyang cukup bagiKu hanya hati hamba-Ku yang beriman.”

Andaikan Allah Swt membuka penerangan nur seseorang manusia yang berbuat dosa, niscaya memenuhi antara langit dan bumi, maka bagaimanakah dengan cahaya seseorang mu’min (beriman) yang taat, ketahuilah, cahaya bulan dan matahari akan mengalami terbenam, terbit dan mengalami gerhana, akan tetapi cahaya hati tidak akan terbenam selamanya sepanjang selalu dirawat dalam ketaatan dan ketaqwaan.

Cahaya yang tersimpan dalam hati datangnya dari cahaya yang langsung dipusat perbendaharaannya yaitu Allah Swt atas karunia, hidayah dan kehendakNya sebagai pemberian pemahaman tentang ketuhanan kepada hamba yang dikehendakiNya.

Cahaya-cahaya ilmu ma’rifat (mengenal) dan cahaya tauhid (keyakinan atas ke-esa-an) itu akan bertambah sinarnya yang bersumber langsung dari nur yang berasal dari nur pemahaman anugerah Allah Swt, Allah Swt menerangi seluruh dan segala benda yang lahir ini dengan cahaya nur perbendaharaan ciptaan-Nya dan Allah Swt menerangi hati bathin hamba-Nya itu dengan cahaya sifat-sifat-Nya.

Ini merupakan suatu petunjuk bahwa Allah Swt telah memberikan pertolongan kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, cahaya yang bisa dicapai secara panca indera bisa membuka kepada kita akan semua pengetahuan yang jelas dan mudah didapat serta memang sudah ada kelimuannya secara didunia ini, sedangkan cahaya keyakinan atau illahiyah tetap tersimpan dalam hati berupa pemahaman atas sifat-sifat berbentuk zahiriyah yang merupakan dasar pemahaman dan keyakinan kepada hamba-Nya tentang sifat-sifat ketuhanan dan kehidupan akhirat yang abadi.

Cahaya ada terbagi 2 (dua), yaitu :

1. Cahaya keduniaan, seperti matahari, bulan, api dan lain-lain, dengan cahaya matahari maka teranglah segala yang maujud dunia ini atau alam ini dengan ketentuan peredarannya, sehingga kita secara mata zahir dapat melihat segala bentuk rupa dunia ini, cahaya ini bukanlah menjadi perhatian umat manusia secara khusus kecuali hanya untuk mengembangkan teknologi sebagai bekal hidup, dan bagi orang-orang ahli ibadah hal tidak menjadi perhatiannya, karena mereka lebih cenderung untuk mengenal sang pembuat cahaya tersebut, bukan fokusnya pada memanfaatkan untuk pengembangan didunia, namun hanya sekedar kebutuhan hidup saja bagi mereka cahaya jenis ini.

2. Cahaya keyakinan yang tersimpan dan terbit serta bersemayam dalam hati, dengan cahaya ini manusia dapat melihat pada hakikat alam ini serta kebenarannya dengan berdasarkan keimanan atas cahaya pemberian Allah Swt, cahaya inilah yang membukakan segala hakikat alam ini tanpa terkecuali kepada hambaNya yang beriman, dengan cahaya atau nur inilah seseorang hamba akan bertambah keyakinan dan ketaatan serta ketaqwaannya kepada Allah Swt.

Penghalang hati untuk dapat mengerti dan menuju kepada Allah Swt adalah disebabkan hati nurani yang gelap penuh dengan dosa tanpa mau untuk bertaubat serta taat kepada-Nya, kadang-kadang hati itu bisa berhenti secara bersama-sama dengan cahaya, sebab dihalangi nafsu keduniaan yang meliputi pada hati dengan ketebalan dosa-dosa yang kian hari kian menumpuk.

Penghalang yang dapat merintangi atau menjadi hijab bagi manusia untuk berjalan kepada cahaya Allah Swt adalah :

1. Hijab nurani, yaitu berupa ilmu dan ma’rifat (mengenal), hal ini bisa jadi penghalang seseorang untuk menuju kepada-Nya karena ilmu-ilmu ini dipakai merupakan sebagai pokok tujuan yang berkehendak kepada-Nya tanpa memahami ilmu-ilmu tersebut terlebih dahulu, sehingga akan tetap terhalang untuk menuju kepada Alllah Swt, contohnya adalah berbuat bid’ah dalam pelaksanaan ibadah.

2. Hijab berupa dari kegelapan ini disebabkan berupa kebiasaan dari nafsu keduniaan yang diperturutkan dalam sehari-hari, ini berupa penghalang untuk menuju kepada Allah Swt yang dikarenakan hatinya masih dan lebih banyak terpengaruh oleh keinginan-keinginan nafsu dunia yang menyesatkan tanpa terkontrol dan terpimpin yang senantiasa menyelimuti hatinya.

Hati ini dapat silauoleh berbagai macam cahaya, sebagaimana silaunya nafsu dengan kegelapan yang menyelubungi sifat kebendaan, sementara Allah Swt berada pada tiap-tiap atau disebalik itu semuanya.

Allah Swt juga ada berkehendak berupa menutupi cahaya hati para kekasihnya itu adalah merupakan rahmat bagi sekalian manusia, Allah Swt menutupi cahaya hati dengan bermacam-macam keadaan secara lahiriah karena memang Allah Swt memuliakannya untuk diberikan tidak secara terang-terangan karena akan menjadikan hamba tersebut mendapat panggilan atas dasar terkenal atau kemasyhuran.

Tersebab adalah jika rahasia-rahasia ketuhanan itu diberikan kepada seseorang, niscaya akan mewajibkan bagi orang yang terbuka baginya itu kewajiban-kewajiban yang mungkin tidak dapat dilaksanakannya dengan sebab sifat keduniaan masih melekat padanya dan bukanlah seseorang ini bersifat seperti Nabi dan Rasul yang memang sudah dikhususkan oleh Allah Swt, nah jika terjadi pada seseorang hamba tersebut akan hal yang terlarang mengenai terbukanya rahasia ketuhanan dan alam ini, maka akan menimbulkan atau menyebabkan ia akan terjerumus kembali kelembah durhaka dan dosa, itulah memang dengan dasar kehendak Allah Swt yang memang sayang kepada hamba-Nya, maka Allah Swt menahan beberapa bagian pemahaman mengenai pemahaman pada bidang ilmu hakikat dan ketuhanan.

Memang sukar dan susah untuk mengenali seseorang hamba yang mengenal akan tuhannya, karena hamba ini sangat merahasiakan kedekatannya kepada Allah Swt tersebab sifatnya yang selalu rendah dihadapan Allah Swt dan merasa tiada ilmunya apapun juga kecuali hanya menjalankan ketaatan kepada Allah Swt, hamba yang sedemikian sangat berhati-hati untuk berbicara mengenai rahasia ketuhanan (ilmu hakikat) karena sangat takut tersalah dan malah jadi berdosa dan melangkahi wewenang Allah Swt yang mutlak sebagai Maha Raja sekalian alam dan isinya.

Hanya dapat dikenali hamba yang sedemikian adalah dengan cara kehidupannya sehari-hari yang senantiasa bisa membawa orang lain untuk dekat kepada tuhannya serta lisannya tiada pernah lupa untuk mengajak umat (amar ma’ruf) untuk selalu memperhatikan agar taat ibadah kepada Allah Swt, dengan lantaran pengaruhnya yang terjadi secara otomatis saja dan biasanya lingkungannya akan mengikuti tanpa ada himbauan yang keras daripadanya.

Mengenal hamba yang dekat kepada Allah Swt termasuk hal sukar daripada untuk menuju jalan mengenal Allah Swt, karena sesungguhnya Allah Swt itu lebih dekat kepada setiap hamba secara individu daripada antar sesama hamba Allah Swt, untuk mengenal hamba yang dekat kepada Allah Swt sangat susah karena sama-sama dengan kita, makan, minum dan lain sebagainya, akan tetapi ia tidak akan melahirkan kedekatannya berupa memperlihatkan atas sesuatu, karena ia paling takut pada ria yang membuat ibadahnya sia-sia, akan tetapi jika Allah Swt memperlihatkan hamba yang dikasihinya hanya dengan berupa ciri-ciri, seperti jika berdekatan dengannya akan terasa damai dan tenang, tanpa disadari ingat kepada tuhan dengan sendirinya dan tergerak pula untuk beribadah karena pengaruh dari daya kharisma hamba tersebut, dan lingkungannya akan menghormatinya tanpa sebab yang diketahui.

Dalam Hadist Qudsi Allah Swt berfirman,”Para wali-Ku berada dibawah naungan=Ku, tiada yang mengenal mereka dan mendekat kepada seorang wali, kecuali jika Allah Swt memberikan hidayah-Nya, agar supaya langsung dapat mengenal kepada Allah Swt dan kebesaran-Nya yang diberikan kepada seseorang manusia yang di kehendaki-Nya.”

Seseorang hamba yang dekat kepada Allah Swt adalah orang yang senantiasa fana akan dirinya dan tetap baqa’ serta musyahadah selalu melihat Allah Swt, percaya Allah Swt yang mengatur segala-galanya dan oleh sebab itu berturut-turut datang limpahan nur illahiyah kepadanya, kekasih Allah Swt setelah para Nabi dan Rasul adalah orang-orang yang beriman lagi bertaqwa kepada Allah Swt dan jadi bukanlah sembarangan orang atau manusia di dunia ini, bahwa hamba itu mengakui sepenuhnya atas keagungan dan kesucian serta kebesaran Allah Swt secara bukan main-main, ia senantiasa istiqamah pada amalan dan ibadahnya walau sedikit dan tidak akan berubah lagi, malah kian hari kian padat ibadahnya kepada Allah Swt yang menunjukkan semakin dekatnya ia kepada Allah Swt dan keyakinannya betul-betul haqqulyakin, dengaan ini mereka merasakan kehidupan secara damai, tenang, aman, tenteram dan sentosa serta tiada berduka cita apapun didunia kecuali berduka cita akan takutnya pada siksaan Allah Swt.

Posting Komentar untuk "CAHAYA HATI ADALAH SUMBER CAHAYA ILLAHI"