Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer
Allah Swt berfirman : "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang di beri ilmu pengetahuan beberapa derajat." (Q.S. Al-Mujadalah : 11). Rasulullah Saw bersabda : "Barang siapa yang menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan dunia, wajiblah ia memiliki ilmu, barang siapa yang ingin selamat dan berbahagia di akhirat, wajiblah ia mengetahui ilmu dan barangsiapa yang menginginkan kedua-duanya, wajiblah ia memiliki ilmu kedua-duanya pula." (H.R. Bukhari dan Muslim).

Awal dan Akhir Mengenal Allah

“Allah menganugerahkan Al-hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya Ulil Albab yang dapat mengambil pelajaran.” (Q.S Al- Baqarah Ayat : 269).

Bermula dalam kehidupan dunia ini adalah dengan adanya keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dalam menyikapi hal ini dan melaksanakannya adalah wajib bagi pemeluk ajaran agama, Islam juga mengatur akan hal ini dengan wajib untuk melaksanakan secara garis umum aadalah mentaati perintah Allah Swt dan menjauhi segala larangan-Nya dengan aturan dan ketentuan sebagaimana yang telah diatur dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist dari Rasulullah Saw.

Untuk mengenal Allah Swt adalah secara gampangnya melaksanakan perjuangan segenap hal-hal yang menghalangi untuk senantiasa menumbuhkan rasa yakin dan percaya akan keberadaan sang pencipta.

Allah Swt menurunkan kepada para Nabi dan Rasul-Nya berupa ajaran dan keyakinan dengan dinamakan agama, agama terakhir yang telah disempurnakan ajarannya adalah Islam.

Pengertian agama disini adalah dengan maksud keyakinan dasar, karena setiap segala sesuatu ada awal ada akhir, ada sebab ada akibat, ini sudah merupakan hukum mutlak secara alami didunia ini diciptakan Allah Swt, bergama adalah awal dari mengenal sang pencipta dunia dan segala isinya sampai pada kehidupan akhirat, jadi setiap seseorang manusia yang beragama adalah secara kasar sudah mengenal akan Allah Swt dalam batasan keyakinan yang pudar dalam arti kata belum sepenuhnya, hanya secara logika saja menyatakan bahwasanya setiap seseorang yang mau beragama karena secara naluri dia sudah mengakui akan keberadaan sang pencipta.

Awal dari agama adalah mengenal Allah Swt, dan akhir dari agama adalah menyaksikan akan kebenaran Allah Swt melalui ‘ain bashirah atau mata hati, dasar mengenal Allah Swt memahami aqidah-aqidah yang terdapat dalam sifat-sifat dua puluh dan asma’ul husna yang menyuratkan segala sifat-sifat makhluk didunia ini.

Sifat dua puluh yang wajib hanya pada Allah Swt sebagai dasar memahami keyakinan kepada Allah Swt sebagai batasan-batasan pada beberapa ayat-ayat mutasyabihat yang maknanya samar bagi manusia untuk memahaminya secara logika, terpeleset dalam memahami hal tersebut dapat membuat manusia menjadi syirik.

Sifat yang baharu (huduts) adalah yang mustahil bagi Allah Swt, contohnya adalah “bertempat” sebagaimana ada pada Al-Qur’an pada ayat kursi, kursi adalah menyifatkan tempat dan Allah Swt tidaklah dipastikan mempunyai tempat layaknya singgasana kerajaan, Allah Swt adalah yang maha awal dan maha akhir tiada ruang dan waktu, jika ada pemahaman yang bersifat kebendaan (baharu) itu hanya ada pada ciptaan-Nya dan bukan ada pada-Nya, Allah Swt sebagaimana awalnya dan sebagaimana akhirnya.

Bagi hamba-hamba yang diridhai-Nya, Allah Swt akan memberikan pemahaman untuk mengenal Allah Swt secara benar tanpa danya syirik berikut unsur-unsurnya dan untuk hal ini adalah tergantung kepada tingkat ketaatan seseorang hamba Allah Swt.

Kunci mengenal Allah Swt adalah ada pada diri sendiri dan mengenal diri sendiri atas setiap segala tindak tanduk perbuatan, baik dan buruk, Allah Swt maha baik, sedangkan buruk hanya ada pada makhluk ciptaan-Nya, jika ingin mengenal diri sendiri maka berlakulah baik dan taati segala perintah Allah Swt serta jauhi segala larangan-Nya, niscaya akan kenal pada diri sendiri dan sudah tentu mengenal pula akan khaliknya.

Allah Swt dalam Al-Qur’an berfirman yang artinya : “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami disegenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar, dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia Maha menyaksikan segala sesuatu?.“ (Q.S. Fushshilat Ayat : 53).

Langkah untuk mengenal Allah Swt harus berjuang melawan segala kehendak ahawa dan nafsu yang membawa kepada keingkaran yang dibenci Allah Swt, Allah Swt tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata sesuai seperti yang dimaksud dalam Surah Al-An’am Ayat : 103, maka kenali dan dalami diri kita dahulu sebagai hamba-Nya yang taat, niscaya yang tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata akan dicapai dengan penglihatan bathin.

Manusia terdiri dari rohani dan jasmani yang saling berhubungan erat ketika masih hidup didunia sebelum ajal menjemput, jasad/jasmani adalah bagian pembalut rohani yang tiada terlihat secara umum dan dinamakan juga dengan bathin, nilai-nilai kemanusiaan yang baik atau buruk utamanya tidak terletak pada penampilan jasadnya, namun terletak pada rohani yang menggerakkannya.

Ruh ini sumber penggerak jasmani atau jasad, pada ruh terletak segala sifat ciptaan Allah Swt, akal, hati, nafsu, sifat baik dan buruk ada pada ruh, ruh melakukan sesuatu maka diikuti oleh jasad secara jasmani dan tampak kegiatannya.

Ruh juga mempunyai sifat berkehendak, berkemauan serta berperasaan seperti, gembira, sedih, marah, tenang dan lain sebagainya, hal ini ditunggangi oleh sifat utama yaitu hawa, nafsu dan keduniaan yang terletak pada rumpun hati yang disertai oleh penghasutnya adalah iblis dan syaithan, ajaran agama mendidik akan segala hal diatas supaya menjadi baik dan sesuai dengan perintah Allah Swt.

Dasarnya pada dasar hati segenap manusia telah diilhamkan oleh Allah Swt sesuatu untuk menakar atau menimbang antara yang baik dan buruk untuk mengontrol sifat ruh yang berkehendak dan berkemauan sesuai hawa dan nafsunya untuk melakukan hal yang baik dan buruk, maka hal tersebut ditakar atau ditimbang oleh akal yang mana hasil penimbangan tersebut berdasarkan pada ilmu pemahaman manusia, sumber ilmu ini tak lain adalah Al-Qur’an dan hadist Rasul yang shahih riwayatnya sesuai firman Allah Swt dalam Al-Qur’an Surat Al-Balad Ayat : 10,“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan” (pilihan haq atau bathil).” Yang diperkuat pemahamannya dengan ayat ini : “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya.” (Q.S As-Syams Ayat : 8).

Ilham yang diberikan Allah Swt kepada hati nurai (qalbu) manusia maka lahirlah dalil aqli (akal/ilmu akal) sebagai dasar pemahaman terhadap sesuatu, kebenaran-kebenaran berdasarkan pada sumber akal diqalbu manusia berupa nur illahi, yang dengannya jiwa bisa mengetahui perkara-perkara yang penting dan fitrah serta meragukan.

Orang-orang yang dapat mempergunakan akalnya disebut dengan para ‘ulil albab, maksudnya adalah kaum yang mengetahui atau orang-orang yang dapat memahami dan mengambil pelajaran dari petunjuk-Nya berdasarkan karunia hikmah dari Allah Swt sesuai dengan firman-Nya, yaitu : “Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan Ulil Albab.“ (Q.S Ali Imran Ayat : 7).

Ilmu sangat penting dalam menunjang peribadatan kepada Allah Swt, menuntut ilmu wajib hukumnya bagi seseorang muslim, Allah Swt berfirman : “Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui.” (Q.S Fushshilat Ayat : 3). Selanjutnya pada ayat ini : “Maka bertanyalah kepada ahli dzikir (orang yang mempunyai pengetahuan) jika kamu tidak mengetahui.” (Q.S. An-Nahl Ayat : 43). Seseorang yang merutinkan zikir kepada Allah Swt adalah pada kategori yang dimaksud Allah Swt pada ayat diatas, karena dengan melalui ketaatan yang istiqamah Allah Swt memberikan karunia, hidayah dan pemahaman kepada hamba-Nya, sebagaimana dimaksud pula pada ayat ini : “(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) : “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Q.S Ali Imran Ayat : 191).

Seseorang yang melazimkan ingat atau zikir selalu kepada Allah Swt memperoleh cahaya ilmu dari Allah Swt yang diberikan melalui ilham kepadanya, faedah untuk selalu melaksanakan ketaatan kepada Allah Swt adalah memperoleh hal-hal sebagai berikut :

Shadr, maksudnya ia merupakan tempat terbitnya cahaya Islam (nuurul-islaam), sebagaimana firman Allah Swt, “Adakah sama dengan mereka yang dibukakan shadrnya untuk Islam….” (Q.S Az- Zumar Ayat : 22).

Qalb, maksudnya ia merupakan tempat terbitnya cahaya keimanan, sebagaiamana firman Allah Swt,“Mereka itulah yang ditulis dalam hatinya terdapat keimanan.” (Q.S Al-Mujaadilah Ayat : 22).

Fu’aad, maksudnya ia merupakan tempat terbitnya ma’rifah (mengenal/kenal), sebagaimana Firman Allah Swt,”Fu’aad tidak pernah mendustai apa-apa yang dilihatnya.” (Q.S An-Najm Ayat : 11).

Lubb, maksudnya ia merupakan tempat terbitnya tauhid, sebagaimana firman Allah Swt,“Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang adalah ayat-ayat bagi ulil albaab (sang pemilik lubb).” (Q.S Ali Imran Ayat :190).

Syagf, maksudnya hati dia merupakan tempat terbitnya rasa saling menyayangi dan mencintai sesama makhluk, sebagaimana firman Allah Swt,”Sungguh ia (Zulaikha) telah dikuasai oleh rasa cinta yang membara….” (Q.S Yusuf Ayat : 30).

Itulah mengapa hamba-hamba yang taat (Shaleh) kepada Allah Swt tidak banyak bertanya akan kebenaran dan kekuasaan Allah Swt dibumi dan langit, ia memahami atas petunjuk Allah Swt yang diilhamkan kepadanya, keyakinannya sangat tebal terhadap Allah Swt dan hari-harinya senantiasa takut pada Allah Swt dan segenap tindak dan tanduknya adalah ibadah, itulah karunia yang diperolehnya didunia ini.

Dalah hadist qudsy Alah Swt berfirman melalui Rasul-Nya,”Telah Kucipta seorang malaikat di dalam tubuh setiap anak keturunan Adam. Didalam malaikat itu ada shadr. Didalam shadr itu ada qalb. Didalam qalb itu ada fu`aad. Di dalam fu`aad itu ada syagf. Didalam syagf itu ada lubb. Didalam lubb itu ada sirr. Dan didalam sirr itu ada Aku.” Sudah didapatkan karunia sedemikian maka disitulah seseorang hamba akan menganal dirinya dan Allah Swt, semua manusia telah menyaksikan Allah Swt ketika mereka belum lahir kealam dunia dan semuanya dalam keadaan suci dan bersih, sesuatu yangt diciptakan Allah Swt selagi masih suci dan bersih akan dapat melihat kebesaran Allah Swt namun sebaliknya jika kotor akibat maksiat dan tiada ketaatan maka tiada akan lupa, ini sehubungan dengan proses panjang sebab akibat akal, hati dan qalbu manusia bisa lupa dan buta kepada Allah Swt sesuai dengan proses perkembangannya dari bayi menjadi dewasa,mengatasinya hanya dengan menggunakan akal dan pikiran supaya mau dan taat melaksanakan perintah Allah Swt dan menjauhi segala larangan-Nya agar dapat kembali bersih sebagaimana fitrahnya semula dan bentuk saat inilah dia dapat kembali mengenal dirinya dan Allah Swt, sebagaimana Allah Swt berfirman,“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Q.S Al-A’raf Ayat : 172).

Proses dari mulai tumbuhnya janin hingga terlahir kedunia dan beranjak dewasa telah selesai diciptakan oleh Allah Swt, mulai dari kecil segenap panca indera akan berfungsi sempurna sesuai dengan tahapannya, seiring dengan semakin menggelapnya cahaya ketuhanan yang gunanya untuk sebagai jembatan peribadatan seseorang manusia kepada Allah Swt untuk dapat mengenal dan mengejar kembali sesuatu yang kabur dan semakin gelap pengenalan terhadap diri sendiri dan terhadap penciptanya, itulah proses ujian Allah Swt terhadap makhluk ciptaan-Nya sebagai dasar dan syarat untuk mencapai kehidupan diakhirat nanti yang kekal dan akan ditempatkan sesuai dengan perbuatan selama didunia.

Setelah manusia terlahir ke alam dunia , maka mereka lupa akan kesaksian atau penyaksian terhadap Allah.

Fitrah manusia adalah bertuhan, mencari dan berusaha mengenal Allah Swt, ingin kembali menyaksikan Allah Swt, namun kebanyakan melupakan syarat utamanya dalah mengenal diri sendiri terlebih dahulu baru dapat menganal Allah Swt dan hanya diperoleh sesuai dengan akalnya dan tidaklah sama pada setiap manusia, syarat untuk dapat menyaksikan Allah Swt adalah suci sebagaimana sebelum manusia lahir kedunia.

Syarat untuk dapat kembali menyaksikan Allah Swt adalah berakhlak baik atau berakhlakul karimah dan menjaga peribadatan secara istiqamah kepada Allah Swt, Allah Swt yang selalu memberi petunjuk kepada manusia untuk dapat menyaksikan-Nya kembali sebagaimana firman Allah Swt, yaitu : “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.” (Q.S Adh-Dhuhaa Ayat : 7).

Seseorang manusia berada tahapan bingung atas arah dan tujuan mana untuk memperoleh kebenaran yang mutlak, senantiasa merasa kebingungan dan kehilangan arah untuk memperoleh kebenaran yang mutlak dan hakiki atas apa yang tidak bisa dijangkau oleh akal pikiran, lalu Allah Swt menanggapi dengan menurunkan wahyu kepada Rasulullah Saw sebagai jalan untuk memimpin umat untuk kembali menyaksikan Allah Swt untuk menuju kebaikan didunia dan keselamatan diakhirat dengan jalan ketaqwaan.

“Dan ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman.” (Q.S Al Anfaal Ayat : 1).

Penuhilah segala aturan syari’at sebagai hamba Allah Swt yang beriman dengan meninggalkan segala larangan-Nya serta meninggalkan hal-hal yang meragukan atas kebenaran sesuatu hal, hal terlebih baik daripada melakukan hal yang tiada pasti, jalankan amal kebaikan untuk mendekatkan diri atau memperjalankan diri melalui maqam-maqam hakikat sehingga sampai (wushul) kepada Allah Swt dan menyaksikan-Nya dengan hati (ain bashirah), dengan ini maka akhirnya tercapailah muslim yang shaleh berakhlakul karimah sehingga menjadi waliyullah dimuka bumi untuk membala agama Allah Swt.

“Inilah ayat-ayat Al-Qur’an yang mengandung hikmah, menjadi petunjuk dan rahmat bagi muhsinin (orang-orang yang berbuat kebaikan), (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat. Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Q.S Lukman Ayat : 2-5).

“Hamba-Ku tidak bisa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan (perkara syariat), jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan kebaikan, maka Aku mencintai dia.” (H.R Bukhari dan Muslim). Seseorang hamba yang telah meraih maqam dan dekat dengan Allah Swt akan dapat menyaksikan-Nya dengan mata hati dan diberi pemahaman atas apa yang meragukannya atas kebesaran-Nya.

Hal diatas diperoleh juga dari dasar karunia Allah Swt dan atas kehendak-Nya jua dengan syarat atas ketaan dan perjuangan hamba-Nya yang selalu istiqamah dalam beribadah kepada Allah Swt, sebagaimana telah dikatakan Allah Swt,”Sekiranya kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya, niscaya tidak ada seorangpun dari kamu yang bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki.” (Q.S An-Nuur Ayat : 21).

“Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.” (Q.S Shaad Ayat : 46-47).

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu.” (Q.S Al-Hujuraat Ayat : 13).

Senantiasalah selalu mendekatkan diri kepada Allah Swt dalam keadaan apapun juga, jagalah setiap nafas keluar dan masuk untuk selalu ingat kepada-Nya, senantiasalah tafakkur, tawaddu’ dan berjuang untuk melawan hawa dan nafsu serta bisikan atau hasutan syaithan untuk berbuat ingkar kepada-Nya, Allah Swt menyukai hamba-Nya yang berjuang untuk datang kepada-Nya.

“Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang sholeh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (Q.S An-Nisaa Ayat : 69).

Rasulullah Saw bersabda,“Tiada masuk syurga orang yang dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi dari kesombongan, kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (H.R. Muslim).

Rasulullah Saw bersabda, bahwasanya Allah Swt berfirman,”Keagungan adalah sarungKu dan kesombongan adalah pakaianKu. Barangsiapa merebutnya (dari Aku) maka Aku menyiksanya.” (H.R. Muslim).

Termasuk hijab untuk menganal diri sendiri apalagi Allah Swt adalah sifat yang memelihara pada hawa, nafsu, dan segenap sifat buruk lainnya diluar akhlak yang baik, berbuat bid’ah juga hijab terhadap agama, diri dan Allah Swt, bagian hijab yang terbesar adalah kesombongan, karena sifat sombong itu membuat manusia hanya melihat dirinya dan tanpa melihat kepada kebenaran yang disampaikan orang lain berdasarkan kenyataan yang ada pada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw serta merasa benar sendiri.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda,“Sesungguhnya Islam itu pada mulanya datang dengan asing dan akan kembali dengan asing lagi seperti pada mulanya datang. Maka berbahagialah bagi orang-orang yang asing.” Beliau ditanya, “Ya Rasulullah, siapakah orang-orang yang asing itu ?”. Beliau bersabda,“Mereka yang memperbaiki dikala rusaknya manusia.” (H.R. Ibnu Majah dan Thabrani).

Hanya sedikit yang beragama sesuai dan atau menurut pada Al-Qur’an dan Hadist Nabi Saw, pada akhir zaman salah satu tandanya adalah semakin sulit ditemukan muslim yang benar-benar taat kepada syari’at dan lebih banyak yang berbuat bid’ah, maka maksud Rasulullah Saw diatas adalah termasuk juga pada seseorang yang beragama sesuai dengan ketentuan syari’at adalah sangat sedikit dan banyak yang meremehkan syari’at, jadi yang sedikit itulah yang dimaksud juga dengan yang terasing dan berbahagialah yang mempertahankan sendi-sendi ibadah sesuai dengan syari’at.

Posting Komentar untuk "Awal dan Akhir Mengenal Allah"