Kesalahan-Kesalahan Sebelum dan Sesudah Kematian


Kesalahan Sebelum Kematian

1. Keyakinan sebagian orang, bahwa syetan mendatangi orang yang hampir mati dalam sosok kedua orang tuanya dengan mengenakan pakaian Yahudi dan Nasrani, dengan memaparkan segala bentuk millah (aliran agama) untuk menyesatkan. (Ibnu Hajar Al-Haitami Asy-Syafi’i di dalam Al-Fatawa Al-Hadiitsah, yang menukil dari
As-Sayuthi Asy-Syafi’i, mengatakan, "Tidak ada di riwayatkan.").


2. Meletakkan mushaf di atas kepala orang yang akan meninggal.

3. Menalqin orang yang akan mati untuk berikrar atas nama Nabi dan para imam dari Ahlul Bait. (Lihat Miftahul-Karamah dari kitab-kitab Syi'ah 1/408).

4. Membacakan surat Yasin di hadapan orang yang akan mati.

5. Menghadapkan orang yang akan mati ke arah kiblat. (Di ingkari oleh Said Ibnul Musayyab, seperti di jelaskan dalam Al-Muhalla V/174, Imam Malik dalam Al-Madhhal III/229-230 dan tidak satu pun hadits sahih yang menjadi pijakan dalam masalah ini).

Kesalahan Sesudah Kematian

6. Pernyataan orang Syi'ah, bahwa Bani Adam menjadi najis karena kematiannya, kecuali orang yang maksum, orang yang mati syahid, dan orang yang wajib dibunuh lalu ia mandi sebelum dibunuh, kemudian mati karena sebab itu.

7. Mengeluarkan (menjauhkan) orang yang sedang haid, nifas dan yang dalam keadaan junub dari orang yang akan meninggal.

8. Meninggalkan pekerjaan hingga tujuh hari bagi orang yang menghadiri keluarnya ruh dari orang yang menjelang mati.

9. Keyakinan sebagian orang bahwa roh orang akan mati gentayangan di sekitar tempat kematiannya.

10. Membiarkan lilin terus menyala di sekitar mayat sejak kematiannya hingga pagi harinya. (Al-Madkhal III/26).

11. Meletakkan dahan pohon yang hijau di kamar tempat orang meninggal.

12. Membaca Al-Qur'an di sisi mayat hingga di mandikan.

13. Memotong kuku sang mayat dan mencukur rambut di sekitar kemaluannya. (Al-Mudawwanah karya Imam Malik 1/180 dan Al-Madkhal III/240).

14. Menyumbat dubur, tenggorokan dan hidung mayat dengan kapas. (Ibid.)

15. Menabur tanah pada kedua kelopak matanya, sambil mengucap, "Tidak akan memenuhi kedua mata anak Adam kecuali tanah." (Al-Madkhal I/261).

16. Keluarga sang mayat tidak makan hingga mayat selesai di kubur. (Ibid. hlm. 176).

17. Menangisi mayat pada waktu makan siang dan makan malam.

18. Merobek baju meratap kematian ayah dan saudara laki-lakinya.

19. Berbelasungkawa selama setahun penuh, kaum wanitanya tidak memakai daun pacar (penghias kuku), tidak pula berhias serta tidak memakai pakaian yang bagus-bagus. Usai setahun penuh, mereka menunaikan janjinya dengan bertato yang di larang oleh syari'at.

Hal demikian di lakukan pula oleh wanita lainnya yang ikut berbela-sungkawa. Perbuatan ini mereka namakan "melepas kesedihan". (Al-Madkhal III/277).

20. Sebagian kaum laki-laki memanjangkan jenggotnya sebagai tanda kesedihan (berkabung). Memanjangkan jenggot memang wajib bagi laki-laki demi mengikuti perintah Rasulullah Saw, tapi bukan karena berkabung dan keyakinan-keyakinan lainnya yang tidak di jelaskan oleh syari'at. Ibnu Majjah Jalan Ahli Makrifat. (Lihat Talbis Iblis karya Ibnul Jauzi, hlm. 340-342. Lihat pula masalah ke-18).

21. Membalik permadani dan sajadah, menutupi kaca dan cermin-cermin.

22. Tidak menggunakan air yang ada di rumah, termasuk yang ada di gentong. Mereka menganggap air itu najis, dengan alasan roh orang yang mati ketika keluar dari badan mencelupkan diri ke dalamnya. (Al-Madkhal).

23. Apabila salah seorang di antara mereka bersin saat makan, yang lain mengatakan kepadanya, "Sapalah si Fulan atau Fulanah dari orang yang disukainya di antara orang yang masih hidup," dengan alasan agar tidak menyusul yang mati.

24. Tidak makan mulukhiyyah (sejenis bayam) dan ikan selama masa berkabung.

25. Tidak makan daging dan segala yang di panggang dan di bakar.

26. Pernyataan orang-orang sufi bahwa siapa saja yang menangisi orang yang mati berarti telah keluar dari jalan ahli makrifat.

27. Membiarkan pakaian orang yang sudah mati sampai tiga hari tidak dicuci, dengan keyakinan bahwa hal itu dapat mencegah azab kubur. (Al-Madkhal III/276).

28. Pernyataan sebagian orang bahwa siapa saja yang meninggal pada hari Jum'at atau malam Jum'at berarti adzab kuburnya hanya satu jam saja dan terputus adzabnya hingga datang hari kiamat. (Di kisahkan oleh Syaikh Ali Al-Qari' di dalam kitab Syarhul Fiqhil Akbar sambil di sanggahnya.

29. Ucapan sebagian orang bahwa orang mukmin yang berbuat maksiat terputus dari azab kubur pada hari Jum'at dan malam Jum'at dan tidak kembali hingga hari kiamat.

30. Mengumumkan kematian seseorang di seluruh mimbar dan menara-menara. (Al-Madkhal III/245-246).

31. Ucapan orang yang menyampaikan berita kematian, "Bacalah surat Al-Fatihah untuk rohnya si Fulan."

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kesalahan-Kesalahan Sebelum dan Sesudah Kematian"

Post a Comment

Terimakasih atas kunjungan anda...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel