Tiga Langkah Cara Menghisab Diri

Mengendalikan dan mengatur nafsu memang bukanlah suatu pekerjaan yang mudah, hal ini menuntut adanya pemeliharaan, metode, kesabaran dan keseriusan, mungkinkan nafsu amarah akan tunduk dengan mudah? Mungkinkah kekuatan dan perhitungan diri akan timbul dengan mudah? Semudah itukah melakukan hisab?

Amirul Mukminin Ali Ra berkata, “Barangsiapa yang tidak pernah mengatur dirinya, berarti ia telah melalaikannya." “Barangsiapa yang menipu dirinya, berarti ia telah melemparkan dirinya pada kehancuran.” Beliau juga berkata, “Barangsiapa yang memiliki kesadaran pada dirinya, niscaya Allah akan memberikan penjagaan baginya."

“Dan kuasailah dirimu selalu dengan kesungguhan." Berikut ini kita bahas cara menghisap diri agar dapat di terima secara bertahap dan terbiasa melakukannya.



1. Musyarathah (Berjanji)

Ini merupakan langkah pertama kita dalam melakukan hisab terhadap diri, setiap hari, sebelum mengerjakan aktivitas sehari-hari, kita sediakan waktu sedikitnya satu jam untuk musyarathah, umpamanya, usai shalat subuh, kita duduk saja di sajadah, kemudian mulailah kita menceramahi diri kita, “Sekarang ini aku masih hidup, tapi aku tidak tahu sampai kapan aku hidup, mungkin sejam lagi aku akan mati atau mungkin lebih.

Di waktu-waktu lalu, umurku habis dengan sia-sia, tapi aku masih punya sisa-sisa waktu, inilah modalku, aku punya kesempatan untuk mengumpulkan bekal akhiratku, kalaupun sekarang waktunya aku mati dan Malaikat Izrail datang mencabut nyawaku, sungguh aku sangat mengharap andai umurku di tambah satu hari ataupun satu jam saja!

“Hai diriku yang lemah! Jika dalam keadaan seperti ini, harapanmu akan bertambahnya satu hari itu terpenuhi dan kamu kembali (untuk satu hari) ke dunia, lantas apa yang akan engkau lakukan?

“Hai jiwa, kasihanilah aku dan dirimu, janganlah engkau sia-siakan sisa-sisa waktumu dan jika engkau lalaikan, maka kelak di hari kiamat engkau akan menyesal dan pada hari itu engkau dalam kerugian.

“Hai jiwa, setiap jam dari umurmu telah Allah jadikan sebagai simpanan buatmu (di akhirat), yaitu simpanan berupa perbuatan baik atau buruk, yang kelak akan di ketahui hasilnya pada hari kiamat.

“Hai diri, bersungguh-sungguhlah memperbanyak simpanan-simpanan yang berisikan amal-amal yang shaleh, waspadalah jangan sampai engkau mengumpulkan simpanan-simpanan yang berisikan perbuatan dosa dan kemaksiatan.”

Demikian pula kita katakan kepada anggota tubuh satu per satu agar mereka berjanji untuk tidak berbuat dosa, misalnya, kita katakan kepada lidah: “Wahai lidah, sesungguhnya berbohong, mengumpat, mengadu domba, mencari-cari kesalahan orang lain, berbicara kotor, berbicara tak berguna, menghina dan mencela, tidak mau mengalah atau di salahkan, bersaksi bohong dan lain sebagainya merupakan perilaku akhlak yang buruk dan di haramkan oleh Allah dan mengotori kehidupan ukhrawi, aku tidak rela kalian berbuat keburukan-keburukan tersebut.

Hai lidah, hargailah dirimu dan aku, jauhilah maksiat, karena kata-katamu akan di catat dalam catalan amal dan pada hari kiamat nanti aku harus bertanggung jawab atas semua ucapanmu!”

Dengan cara ini, kita mengambil perjanjian dari lidah kita agar jangan berbuat maksiat, setelah lidah dapat mengerjakan amal-amal baik, kita harus mengingatkan dan memerintahkannya agar melakukan kewajibannya itu sepanjang hari, misalnya kita katakan: “Engkau bisa bicara dengan si fulan dan engkau bisa penuhi catatan amal dengan ucapanmu yang bercahaya dan menyenangkan, sehingga kelak di akhirat, engkau akan memperoleh hasilnya, perintah ini jangan kaulalaikan dan jika lalai, kelak engkau akan menyesal.”

Dengan cara ini, kita mengambil perjanjian anggota tubuh satu per satu agar tidak berbuat dosa dan mengerjakan amal shaleh. Imam Ash-Shadiq Ra meriwayatkan dari ayahnya yang berkata, “Ketika gelap menjelang, malam membuat pengumuman yang didengar oleh semua makhluk kecuali jin dan manusia. Ia berkata: ‘Hai anak Adam, aku adalah makhluk baru. Aku akan memberikan kesaksian atas amal perbuatan yang terjadi pada diriku, manfaatkanlah aku! Sebab aku tidak akan kembali setelah matahari terbit dan pada saat itu, engkau tidak bisa lagi menghidupkan (mengisi) ‘aku’ dengan kebaikan-kebaikan dan tidak pula dapat bertaubat atas dosa-dosamu, setelah malam menghilang, siang menyampaikan hal yang sama."

Mungkin syetan dan nafsu amarah berkata kepada kita: “Engkau tidak akan bisa medakukannya dengan cara itu, apa bisa engkau hidup dengan larangan dan batasan seperti itu? Bisakah engkau meluangkan waktu satu jam untuk mengadakan hisab terhadap diri setiap harinya?”

Syetan dan nafsu amarah ingin menipu kita dan meruntuhkan niat kuat kita dengan was-wasnya, sebab itu, kita harus bangkit melawan mereka dengan sungguh-sungguh dan mengatakan: “Program itu sangat bisa di lakukan dan tidak bertentangan dengan kehidupan yang wajar, karena tahdzib dan tazkiyah an-nafs merupakan kewajibanku serta untuk kebahagiaan akhirat nanti, maka program itu harus aku lakukan.”

Pada awalnya memang sulit di lakukan, tetapi lama kelamaan menjadi tidak sulit untuk melakukannya, di sini yang di tuntut adalah kesungguhan niat, sehingga semuanya akan menjadi mudah.



2. Muraqabah (Menjaga Diri dari Perbuatan Buruk)

Kita harus menjaga diri kita sepanjang hari dan dalam segala keadaan dengan mengerjakan apa yang telah kita janjikan pada diri sendiri (musyarathah kita), seorang hamba dalam semua keadaan, seyogianya menjaga dirinya dengan sebaik-baiknya, ia harus menyadari bahwasanya Tuhan selalu hadir dan melihat dirinya serta senantiasa mengingat janjinya.

Jika sebentar saja ia lupa, maka syetan dan nafsu amarahnya akan merasuki keinginannya dan menghalanginya agar tidak menepati janji dirinya, Amirul Mukminin Ali Ra berkata, “Orang yang kuat dan ulet adalah orang yang menyibukkan dirinya dengan jihad an-nafs, ia perbaiki dirinya dan mencegahnya dari jeratan hasrat dan perangkap hawa nafsu, dengan cara inilah, ia mampu menguasai dirinya dan orang yang berakal adalah orang yang sibuk dengan dirinya dalam menjauhi dunia dan isinya serta penghuni (yang menggoda)nya.”

“Barangsiapa yang memiliki pencegah dalam dirinya, maka Allah akan memberinya penjaga dalam dirinya." Beliau juga berkata, “Orang yang terlalu percaya dan bersandar pada dirinya memberi peluang besar bagi syetan untuk menipunya.”

Seorang hamba yang menjaga dirinya dari keburukan akan selalu ingat kepada Tuhannya, ia selalu akan melihat bahwa dirinya berada dalam pengawasan-Nya, tiada perbuatan yang ia lakukan tanpa di pikirkan dan di renungkan sebelumnya, bila dosa dan maksiat menghampirinya, ia langsung mengingat Allah dan hari perhitungan, lantas ia tinggalkan perbuatan itu, ia tidak lupa akan janji dan niat hatinya, dengan cara inilah, ia selalu bisa mengendalikan dan menguasai dirinya, sehingga ia tercegah dari perbuatan buruk dan kejahatan-kejahatan.

Inilah langkah yang selalu menjadi salah satu sarana untuk tahdzib dan tadzkiyah an-nafs, selain seorang hamba melakukan penjagaan diri di sepanjang harinya, ia pun selalu ingat pada kewajiban-kewajiban dan amalan-amalan sunah serta melaksanakan tugas, amal shaleh dan kebaikan-kebaikan, ia berusaha menjaga waktu fadhilah shalat wajib dan menunaikannya dengan hati yang khusuk dan hudlur sampai ia menyelesaikan shalatnya.

Dalam segala hal dan pekerjaan, ia selalu ingat Allah, ia tidak akan menyia-nyiakan waktu kosongnya, ia mengisi waktunya untuk urusan akhirat, ia tahu betul kadar waktu, setiap kesempatan, ia gunakan meningkatkan dan menyempurnakan jiwanya, ia kerjakan mustahabbatt (perbuatan-perbuatan sunah) sesuai kadar kemampuannya, alangkah baiknya seorang hamba melaksanakan amal-amal sunah dengan istiqamah.

Dzikir dan mengingat Allah dalam segala hal adalah perkara yang dapat di terima dan bukan hal yang mustahil, selain itu, hal terpenting lain ketika seorang hamba menempuh jalan ibadah dan laku spiritualnya (sayr wa suluk) menuju Allah, hendaknya ia menjalankan aktivitas sehari-harinya dengan keikhlasan hati dan niat mendekatkan diri kepada-Nya.

Sekalipun untuk urusan makan, minum, tidur, menikah dan melakukan semua pekerjaan mubah lainnya, apabila di niatkan ibadah dan dengan hati ikhlas, maka itu semua akan menjadi ibadah baginya, ketika ia bekerja dengan niat mencari nafkah yang halal dan mengabdi kepada Allah serta membantu para hamba-Nya, maka pekerjaannya menjadi ibadah, begitu pula makan, minum dan istirahat, bila di arahkan untuk menyambung hidup dan penghambaan kepada Allah, maka hal itu akan terhitung sebagai ibadah, seperti inilah gambaran hamba-hamba Allah yang khusus (Khas).

3. Muhasabah (Menghisab Amal-amal)

Langkah ketiga adalah melakukan perhitungan amal perbuatan sehari-harinya, seorang hamba seyogianya meluangkan waktu paling tidak satu jam saja untuk menghisab apa saja yang telah di lakukannya dalam sehari, sebaiknya, waktu yang di pilih untuk melakukan hisab itu adalah waktu kosong (waktu istirahat).

Di waktu itu, sebaiknya ia duduk secara ber-khalwat (menyendiri) dan memikirkan apa saja yang telah di lakukannya sepanjang hari, ia hisab perbuatannya dengan teliti dan tertib dari awal hingga akhir waktu, jika yang di lihat dirinya di waktu itu, sibuk dengan kebaikan-kebaikan yang telah di lakukannya, maka bersyukurlah atas taufik-Nya dan mohonlah kepada-Nya agar selalu di tetapkan dalam kebaikan, tetapi, jika di waktu itu, ia telah berbuat dosa dan melakukan maksiat, maka ia harus mencela dirinya, misalnya “Sungguh celaka apa yang telah engkau perbuat? Kenapa engkau hitamkan catatan amalmu dengan perbuatan dosa? Apa yang akan engkau jawab atas pertanyaan di hari kiamat nanti? Apa yang akan kau perbuat menghadapi siksaan akhirat? Allah telah memberi umur, kesehatan dan kekuatan kepadamu, supaya engkau bisa mengumpulkan bekal untuk akhirat, sungguh telah kamu isi catatan amalmu dengan perbuatan dosa, coba bayangkan, bagaimana jika pada saat-saat ini akan tiba kematianmu, jika benar engkau akan mati, apa yang bisa engkau lakukan? Hai jiwa yang tidak tahu diri! Tidak malukah engkau kepada Allah? Hai pembohong, munafik jika engkau benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhirat, lalu kenapa perlakuanmu tidak sesuai dengan keimananmu?”

Saat itu ia harus segera bertaubat dan berjanji tidak mengulangi perbuatan dosa lagi, ia harus menutupi dosa-dosa yang lalu. Imam Ali Ra berkata, “Barangsiapa yang mencela dirinya karena telah berbuat aib dan dosa, maka ia akan terhindar dari bertambahnya dosa-dosa.”

Bila dalam dirinya masih gelap dan merasa belum siap bertaubat dan tak mau meninggalkan dosa, maka ia harus berjuang dengan sungguh-sungguh melawan nafsu amarah, salam hal ini, ia pun bisa memberi kecaman-kecaman patut kepada dirinya, misalnya, ia telah makan makanan haram atau telah berbuat maksiat, maka ia harus mengeluarkan hartanya di jalan Allah (bersedekah) atau berpuasa satu hari atau beberapa hari atau tidak membolehkan dirinya makan makanan atau minum minuman yang lezat untuk beberapa hari atau satu jam berdiri di bawah sengatan matahari.”

Alhasil, ia tidak boleh merasa lemah dan putus asa menghadapi nafsu amarah, jika ia menyerah, maka dirinya akan terkuasai dan terjerumus dalam lembah kehancuran, namun jika ia terus bertahan dan melawannya, nafsu pada akhirnya akan bisa di kendalikan, dalam suatu waktu, dirinya tidak melakukan kebaikan maupun perbuatan dosa, dirinya juga perlu di kecam: “Kenapa umur yang merupakan modalmu engkau sia-siakan? Padahal, pada waktu itu engkau bisa melakukan amal shaleh dan mengumpulkan bekal untuk hari akhirat, hai diri yang celaka! Kenapa peluang emas itu engkau sia-siakan? Nanti pada suatu hari, engkau akan sedih dan menyesal.”

Dengan cara seperti ini, diri ini ibarat seorang teman yang harus di hisab semua tingkah lakunya dengan amat seksama, bila perlu, hasil dalam muhasabah amal perbuatan di tulis dalam buku tulis, alhasil muraqabah dan muhasabah dalam penyucian jiwa dan bimbingan ruhani adalah wajib dan sangat bermanfaat, manusia yang mencari kebahagiaan (abadi), seyogianya memperhatikan hal ini.

Memang pada awalnya sangat sulit di lakukan, namun jika ia bersungguh-sungguh, maka dengan cepat akan menjadi mudah dan nafsu amarah akan dapat di kendalikan dan di arahkan. Rasulullah Saw bersabda, “Sudikah engkau, aku beritahu tentang orang yang paling berakal (pintar) dan orang yang paling dungu?” Sahabat berkata, “Mau, ya Rasulullah!” “Orang yang paling berakal (pintar) adalah orang yang menghisab dirinya dan berbuat baik untuk hari setelah kematiannya dan orang yang paling pandir adalah orang mematuhi hawa nafsu dan berangan-angan panjang,” sabda Rasulullah Saw.

Seorang lelaki bertanya, “Ya Rasulullah! Bagaimana caranya orang menghisab dirinya?” Beliau Saw berkata, "Jika pagi hari beranjak sore, lakukanlah hisab dengan mengatakan: ‘Hai diri, hari telah berlalu darimu dan tidak akan dapat kembali lagi kepadamu. Demi Allah, kelak itu akan di tanya untuk apa harimu itu di habiskan, amal apa yang telah di perbuat di hari itu. Apakah di hari itu engkau telah berdzikir kepada Allah atau memuji-Nya? Sudahkah engkau tunaikan hak seorang mukmin? Sudahkah engkau senangkan hatinya yang sedih? Sudahkah engkau menjaga kehormatannya, keluarga dan anak-anaknya di saat ia jauh? Sudahkah, setelah kematiannya, engkau menjaga nama baiknya dan keluarganya? Sudahkah engkau membela saudaramu dari ghibah orang lain? Sudahkah engkau membantu seorang Muslim? Apa yang telah engkau lakukan pada hari ini?’ ‘Jadi apapun yang telah ia lakukan, ia sebutkan satu persatu, jika ternyata perbuatan baik yang di lakukannya, hendaknya ia bersyukur kepada Allah atas taufik-Nya dan jika ternyata kemaksiatan yang di perbuatnya, hendaknya ia memohon ampunan kepada Allah dan bertekad untuk meninggalkan maksiat dan tidak akan mengulanginya.’

“Melalui bacaan shalawat kepada Rasulullah Saw dan keluarga sucinya, ia membersihkan dirinya dari kekotoran dan pencemaran dan ia pun menyatakan janji setia (bai'at) untuk taat kepada Allah dan melaknat para musuhnya, sehingga kenistaan-kenistaan dalam dirinya akan sirna, jika ia melakukan semua ini dengan baik, maka Allah berfirman: Aku tidak akan menghisab dirimu di hari perhitungan nanti, sebab, engkau telah mencintai dan mengikuti para kekasih-Ku serta membenci dan memusuhi para musuh-Ku.”

Imam Musa Al-Kazhim berkata, “Bukan dari pengikut kami orang yang tidak menghisab dirinya setiap hari, jika ia telah berbuat kebaikan, maka Allah akan menambah taufik-Nya kepadanya dan jika ia telah berbuat keburukan, maka ia beristighfar dan bertaubat kepada-Nya."

Dalam wasiatnya kepada Abu Dzar Ra, Rasulullah Saw bersabda, “Seorang yang berakal haruslah membagi-bagi waktunya, satu jam untuk bermunajat kepada Allah, satu jam untuk menghisab dirinya dan satu jam untuk merenungi ciptaan-ciptaan Allah.”

Imam Ali Ra berkata, “Hisablah dirimu dengan amal-amalmu, desaklah ia agar melaksanakan kewajiban-kewajiban dan tuntutlah ia untuk apa ia habiskan hidupnya, kumpulkanlah bekal untuk hari akhiratmu dan persiapkanlah untuk perjalanannya, sebelum engkau di bangkitkan.”

Imam Ali Ra berkata, “Alangkah pentingnya bagi manusia untuk memilih (menyediakan) waktu luang guna menghisab dirinya dan merenungi apa saja yang telah di perbuatnya di malam dan hari kemarin.”

Beliau juga berkata, “Berjihadlah melawan dirimu, hisablah ia seperti engkau menghisab mitramu dan tuntutlah ia atas hak-hak Allah seperli engkau menuntut pekerja buruh, sebab, orang yang paling bahagia adalah orang yang meluangkan sebagian waktunya untuk muhasabah dirinya."

Dan juga berkata, “Barangsiapa yang menghisab dirinya, menyadari akan aib-aibnya dan menyesali dosa-dosanya, maka ia telah bertaubat dan memperbaiki dirinya.” Di riwayatkan dari Imam Ash-Shadiq Ra, “Sebelum dirimu di hisab pada hari kiamat, hisablah dirimu selama di dunia ini, sebab, pada hari kiamat ada lima puluh pemberhentian dan setiap pemberhentian masanya seribu tahun.” Kemudian beliau melantunkan ayat : "...yang kadarnya seribu tahun."(Q.S. As-Sajdah : 5).

Sebagai akhir pembahasan, kami akan menyebutkan satu butir penting yang perlu di perhatikan, yakni bahwasanya seseorang tidak boleh percaya dan memandang baik dirinya, sebab, dirinya memiliki nafsu amarah yang gemar melakukan tipu daya, dengan ratusan siasat dan kelicikan, hawa nafsunya akan memperlihatkan kebaikan sebagai keburukan dan keburukan sebagai kebaikan.

Ia tidak akan membiarkan manusia mengetahui tugasnya dan berbuat kebaikan, jika anda melakukan dosa dan meninggalkan kewajiban, ia akan membela dan menghibur anda, ia akan membuat anda lupa akan dosa-dosa dan menganggapnya kecil.

Amalan-amalan ibadah kecil di buat besar, alhasil ia memperdaya manusia, ia membuat anda lupa akan hari kiamat, angan-anganmu di perkuat dan muhasabah di anggap sebagai pekerjaan berat dan tidak mungkin bisa di lakukan atau bukan suatu keharusan, oleh karenanya, dalam muhasabah, manusia harus memandang buruk dirinya, ia harus betul-betul teliti dan tidak mendengarkan bisikan dan rayuan syetan dalam muhasabah.

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib Ra berkata: "Ada beberapa orang yang berbakti dengan mengingat Allah, yang telah mengambilnya sebagai ganti dari hal-hal yang duniawi, sehingga perniagaan dan perdagangan tidak memalingkan mereka mengingat Allah, mereka memberikan nasihat kepada orang-orang yang lalai, memperingatkannya agar tidak melakukan hal-hal yang di haramkan Allah, mereka memerintahkan manusia untuk menjalankan keadilan dan mereka sendiri melaksanakannya, mereka mencegah manusia dari keharaman dan mereka sendiri menahan diri darinya.

“Seakan-akan mereka telah menyelesaikan perjalanan dunia ini menuju akhirat dan telah melihat apa yang ada di baliknya, akibatnya, mereka bersikap hati-hati dan selalu memperhitungkan segala sesuatu yang bisa menjatuhkan mereka dalam kelalaian sepanjang hidup mereka dan hari pengadilan akan memenuhi janjinya kepada mereka.

Oleh karena itu, mereka menyingkirkan tabir yang rnenutupi itu semua bagi manusia dunia, sampai seakan-akan mereka melihat apa yang tidak di lihat manusia dan mendengar apa yang tidak di dengar manusia. “Apabila anda menggambarkan mereka dalam pikiranmu dalam kedudukan mereka yang mengagumkan dan termasyhur, ketika mereka membuka catatan-catatan amal mereka dan siap untuk menyampaikan pertanggungjawaban tentang diri mereka, baik amal kecil maupun amal besar, mereka selalu merasa kecil, seperti ketika mereka di perintahkan untuk melakukan sesuatu tetapi gagal melaksanakannya, namun ketika mereka di perintahkan untuk menahan diri, tetapi mereka malah memperturutkan nafsu di dalamnya.

“Mereka menyadari beban berat (amal buruk) mereka di punggung mereka, mereka merasa terlalu lemah untuk menanggungnya, sehingga mereka menangis dalam getir dan berkata antara satu sama lainnya sambil menangis dam meratap kepada Allah dengan penyesalan dan pengakuan (akan kekurangan mereka), akan anda dapati mereka sebagai lambang-lambang petunjuk dan lampu dalam kegelapan, malaikat-malaikat mengelilingi mereka, kedamaian akan turun kepada mereka, pintu-pintu langit akan di bukakan bagi mereka dan kedudukan mulia akan di sematkan kepada mereka di tempat yang telah di beritahukan Allah kepada mereka.”

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Tiga Langkah Cara Menghisab Diri"

Post a Comment

Terimakasih atas kunjungan anda...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel