Tentang Karamah

Tanpa rahasia di balik rahasia izin Allah itu, mereka pasti tidak dapat berbuat apa-apa selain hanya seperti yang dapat di perbuat oleh manusia pada umumnya, hanya saja karena sebagian besar mereka tidak memahami rahasia tersebut, maka kelebihan itu di kira kesaktian pribadi.

Yang demikian itu, karena yang telah mereka dapatkan itu hanyalah kemampuan kosong tanpa di sinari hidayah, kemampuan-kemampuan yang demikian itu, meski mereka dapat terbang di atas awan mendung misalnya, itu bukan karamah tetapi istidraj atau kemanjaan sementara yang di datangkan kepada orang yang tidak beriman, namun selanjutnya, setelah masa tangguhnya berakhir orang tersebut harus mempertanggungjawabkan kelebihannya itu dengan siksa neraka.

Adapun sejarah perjalanan hidup para wali-wali Allah, seperti para walisongo misalnya di tanah Jawa, sebagai penerus perjuangan Rasul Muhammad Saw dan sebagai khalifah bumi zamannya, mereka juga menguasai sebagian besar dari kunci-kunci rahasia alam itu berikut hidayah dari Allah, sehingga dengan kelebihan itu, disamping mampu mendukung dakwah dan pengabdian mereka, juga mampu menyelamatkan hidup mereka dari segala tipu daya kehidupan dunia dan setan yang selalu menggoda.

Salah satunya sebagiamana yang telah di paparkan dalam kitab “Lujjainid Daani” oleh Asy-Syekh Ja‘far Bin Hasan Al-Barzanji, tentang Manaqib Sulthanil Auliya' Asy-Syekh Abdul Qadir Al-Jialani, bahwa dengan izin Allah Asy-Syekh Abdul Qadir Al-Jailani bahkan mampu menghidupkan kembali seekor ayam yang sudah menjadi tulang belulang yang dagingnya di makan sendiri.

Dan masih banyak lagi keajaiban dari kelebihan-kelebihan beliau sebagai seorang khalifah bumi zamannya (Wali Allah) yang telah mendapatkan karamah dari Allah.

Simaklah pada Kitab Manaqibnya, di antara karamah Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani adalah : Suatu ketika beliau duduk mengambil air wudhu, kemudian kejatuhan kotoran burung emprit, lalu beliau mengangkat kepala, maka jatuhlah burung itu dan mati, kemudian beliau mencuci pakaiannya lalu di sedekahkan sebagai tebusan atas burung tadi dan beliau berkata: "Bila pada kita ada dosa, maka harus ada kafarat (tebusan) baginya."

Dan sebagian dari karamahnya lagi adalah: Ada seorang perempuan datang kepada beliau dengan membawa putranya untuk diserahkan kepada beliau agar menjadi santrinya dan belajar ilmu suluk, kemudian beliau menyuruh anak tadi untuk bermujahadah dan bersuluk sebagaimana yang di lakukan ulama-ulama salaf.

Suatu hari ibunya datang menghadap beliau, di lihat anaknya menjadi kurus dan di lihatnya anak itu sedang makan roti kasar, kemudian si ibu masuk ke kamar Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani dan ia melihat di depannya ada tulang-tulang ayam dari sisa makanan Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, maka ibu tadi menanyakan tentang arti semua itu.

Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani kemudian meletakkan tangannya di atas tulang-tulang tadi sambil berkata kepadanya : "Berdirilah dengan izin Allah yang menghidupkan tulang-tulang yang hancur, maka berdirilah tulang-tulang itu kembali (dan berangsur-angsur di bungkus daging dan bulu-bulu) menjadi ayam dan berkokok : "Laa ilaaha illallah Muhammadar Rasulullah Syaikh Abdul Qadir Waliyullah, maka beliau berkata kepada si ibu tadi : "Kalau anakmu sudah dapat berbuat seperti ini, maka boleh makan sekehendaknya."

Di antara karamahnya lagi adalah: Pada suatu hari ketika angin sedang berhembus kencang, ada seekor burung elang di atas majelis pengajian beliau dengan bersuara keras sehingga mengganggu orang-orang yang hadir di majelis itu, maka beliau berkata : "Wahai angin, potonglah kepala burung itu." Maka seketika jatuhlah burung itu dalam keadaan terputus kepalanya. Kemudian beliau turun dari kursinya mengambil burung tadi dan mengelus-elus dengan membaca : "Bismillaahir rahmaanir rahiim", maka burung itu hidup kembali dan terbang lagi dengan izin Allah Ta‘ala dan orang-orang yang hadir di majelis itu menyaksikan kejadiannya.

Itulah sejarah dari karamah seorang Waliullah yang suci lagi mulia, sejarah yang abadi sepanjang masa, bahkan sampai sekarang masih hangat dapat kita jumpai dan kita nikmati dari peringatan hari lahir beliau dan bacaan manakib yang setiap saat diseluruh belahan bumi ini, dibaca dan diselenggarakan oleh para pengikut beliau yang setia.

Sejarah perjalanan manusia utama yang mampu menghidupkan iman dan semangat persaudaraan fillah, namun demikian, sebagian orang-orang yang hanya mengandalkan kemampuan emosional dan rasional saja, jauh dari keimanan dan spiritual yang hakiki, dalam menyikapi kelebihan-kelebihan yang telah diberikan Allah Yang Maha Kuasa kepada hamba-hamba pilihan tersebut, kadang-kadang mereka sering kurang tepat dalam menempatkan sudut pandang.

Kejadian-kejadian yang sudah dipaparkan tersebut diatas, seperti contoh karamah-karamah yang agung itu, apabila itu hanya dilihat melalui sudut pandang keterbatasan kemampuan manusia secara umum seperti diri mereka, dengan dihadapkan hukum alam (Sunnah Allah) yang tidak ada perubahan lagi selamanya, maka karamah-karamah itu seakan-akan merupakan hal yang mustahil terjadi.

Seharusnya yang mereka lihat bukan melalui sudut pandang itu, tapi dari sudut pandang kekuasaan Allah Yang Maha Besar dan Maha Agung. Allah adalah Dzat yang Menciptakan alam semesta ini dengan segala hukum-hukum yang ada diatasnya, Dia berkehendak dengan sesuka-Nya.

Dia Yang Mempertanyakan kepada setiap yang diperbuat oleh makhluk-Nya, akan tetapi Dia tidak dipertanyakan dari segala yang sudah diperbuat-Nya. Dia Yang menciptakan dan hanya Dia pula Yang berhak merubah dan menghancurkan ciptaan-Nya itu.

Dia sendiri dengan hal keadaan-Nya, semuanya selain-Nya adalah makhluk-makhluk ciptaan-Nya, Maha Suci Allah Yang Maha Agung dari segala persangkaan makhluk-makhluk-Nya. Apalah susahnya apabila kemudian Allah berkehendak merubah ciptaan itu?, maka pasti Dia Maha Kuasa pula untuk merubahnya dan yang demikian itu adalah sangat mudah bagi-Nya.

Segolongan orang yang hanya mengandalkan kekuatan ilmu dan akal saja itu bahkan terang-terangan tidak iman dan mengingkari karamah-karamah tersebut.

Dengan susah payah mereka menulis dan mengedarkan buku-buku, mereka mengupas tuntas tentang keajaiban dunia itu, bahkan dengan mensyirikkan dan membid‘ahkan tata cara amal ibadah yang dilakukan oleh para pengikut setia para wali yang mulia tersebut.

Jika yang mereka ingkari itu hanya sekedar kemampuan manusia secara basyariyah, maka berarti mereka hanya kafir kepada manusia, dengan itu barangkali dampak kekafirannya itu hanyalah kecil, yaitu sebatas hak adami antara manusia dengan manusia.

Antara orang yang membicarakan dengan orang yang di bicarakan, namun apabila dengan keingkaran kepada kemampuan para kekasih Allah itu ternyata hakikatnya mengingkari kekuasaan Allah, apakah
mereka yang mengaku paling suci dari perbuatan syirik dan bid‘ah itu bukan termasuk orang yang kafir kepada Allah? Maka cobalah di renungkan kembali wahai saudaraku, apakah buku-buku yang kita tulis ini benar-benar akan mampu menyelamatkan kita nanti di hari akhirat nanti? Menyelamatkan kita dari siksa kubur dan siksa neraka? Apakah pada hari itu kita tidak harus mempertanggungjawabkan dari segala isi yang kita tulis sekarang ini?

Hai saudaraku, mumpung masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri dan bertaubat kepada Allah, marilah semampunya kita revisi ulang tulisan kita yang kurang beretika itu, menuju kebaikan yang abadi di hari akhirat nanti, semoga kita selalu mendapatkan hidayah dari Allah Subhaanahu wa Ta‘ala.

Yang terpenting, bahwa sesungguhnya siapapun sanggup melakukan perbuatan itu, merubah hukum alam yang sudah ada mengikuti kehendak hatinya, asal mereka mendapat izin dari Sang Pencipta hukum-hukum alam tersebut, akan tetapi yang di maksud dengan “Izin Allah” itu adalah “Amrullah” (Urusan Allah), yaitu urusan-urusan yang rumit dari sistem rahasia penciptaan alam yang sangat kompleks dan sistematis.

Yaitu bahwa sungguhpun alam ini memang tercipta berpotensi dijinakkan manusia, akan tetapi cara menjinakkannya juga harus mempergunakan sistem yang sudah ditetapkan Allah pula, bagaikan program aplikasi komputer yang terdiri dari rumusan rahasia yang sangat ketat, dari rahasia-rahasia sunnatullah.

Maka hanya hamba-hamba pilihan yang dikehendaki-Nya yang telah kuat dalam menjalankan ilmu dan amalnya serta mujahadah dan riyadhahnya dan selalu berhasil mendapatkan pertolongan dan bimbingan-Nya, sehingga selalu selamat dalam menghadapi dan menyiasati “Sistem Seleksi” serta ujian-ujian-Nya dan telah mampu mendapatkan salah satu kunci rahasia dari kunci pintu-pintu rahasia yang ada, yang akan mendapatkan kemampuan untuk membuka dan memasuki serta memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang ada tersebut.

Dialah seorang Ulul Albab, kekasih-kekasih Allah yang dimuliakan, dengan segala keberadaan yang telah dianugerahkan Allah kepada mereka itu, mereka dikehendaki untuk menjadi seorang khalifah bumi zamannya.

Adapun yang dimaksud dengan mu‘jizat dan karamah adalah sekedar “Istilah Bahasa” untuk menunjukkan kepada sesuatu yang berbeda akan tetapi hakikinya sama, yaitu sama-sama sebuah “anugerah azaliyah”, namun bedanya, yang satu hanya di berikan kepada para Nabi dan para Rasul-Nya dengan kualitas yang disesuaikan dan yang satunya diberikan kepada hamba pilihan dari hamba-hamba-Nya yang shaleh juga dengan kualitas yang disesuaikan pula.

0 Response to "Tentang Karamah"

Post a Comment

Terimakasih atas kunjungan anda...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel