Khianat Vertical

Khianat Kepada Allah Dan Rasul-Nya

Sejak manusia menerima “amanat” yang ditawarkan Allah kepadanya, padahal langit-langit dan bumi serta gunung-gunung enggan menerima karena mereka takut tidak mampu melaksanakannya, sebagaimana firman-Nya: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikulnya dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan manusia menerimanya, sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (Q.S. Al-Ahzab (33) : 72-73).

Sejak itu, seluruh hidup manusia beserta sarana kehidupan yang ada, baik yang berada di jasad mereka, seperti pendengaran, penglihatan, perasaan dan ilmu pengetahuan maupun yang ada di luar jasad mereka, seperti harta dan anak-anak, adalah bentuk amanat yang harus dapat dipertanggungjawabkan penggunaannya di hadapan Allah.

Apabila sarana-sarana itu digunakan untuk mengabdi kepada-Nya dengan benar, maka manusia akan mendapatkan imbalan lagi berupa pahala yang tidak terbatas, di antara imbalan itu adalah potensi dimana dengan sarana hidup itu manusia mendapat kesempatan memasuki sistem seleksi dan kompetisi hidup yang dapat menjadikan dirinya menjadi makhluk yang mulia melebihi kemuliaan makhluk lain.

Menjadi khalifah bumi zamannya, yaitu pemimpin manusia yang nantinya bisa jadi akan mendapatkan potensi untuk menjinakkan sistem-sistem kehidupan baik yang terdapat di dalam jiwa manusia maupun yang terbentang di alam semesta.

Berangkat dari satu konsep langit yang simple, Allah berfirman yang artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Q.S. Adz-Dzaariyat (51) : 56).

Konsep simpel itu ialah, bahwa manusia diciptakan hanya untuk mengabdi kepada Allah, namun implementasi pengabdian itu ternyata tidak sesimpel konsepnya, karena tidak mungkin dalam satu hari selama 24 jam manusia harus melaksanakan ibadah terus-menerus seperti shalat atau mujahadah misalnya.

Sebabnya, di dalam hidup itu juga manusia harus bergaul dan bekerjasama dengan sesama manusia yang di dalamnya juga membutuhkan bentuk pengabdian yang tulus, oleh karena itu, apabila di dalam hidup orang beriman itu ternyata ada pengabdian kepada selain Allah, seperti kepada anak, istri, keluarga dan masyarakat, hendaknya pengabdian itu dilaksanakan dengan dasar takwallah sehingga pengabdian itu dapat dilaksanakan semata sebagai pelaksanaan pengabdian yang hakiki seorang hamba kepada Tuhan-Nya.

Lahirnya sibuk melayani kebutuhan manusia tapi batinnya sejatinya sedang melaksanakan fungsi hidup sebagai seorang hamba yang sedang berbakti, banyak orang berkata, bahwa harta dan anak-anak hanyalah sekedar amanat Allah.

Bahkan itu dinyatakan di depan orang banyak, yaitu bahwa dunia adalah perladangan hari akhir, karena mereka terobsesi sabda Rasulullah Saw, namun kenyataannya tidaklah demikian, banyak diantara mereka malah menjadikan sarana-sarana kehidupan itu layaknya seperti berhala-berhala hidup yang setiap saat disembah melebihi pengabdiannya kepada Allah.

Bahkan ibadah yang dilaksanakan saja, sejatinya hanyalah bentuk kebutuhan mendesak yang memaksa agar pengabdian kepada harta dan anak-anak itu dapat tercukupi dengan sempurna, yang demikian itu disebabkan karena harta dan anak-anak itu lebih dicintai manusia daripada cinta mereka kepada Allah.

Hal tersebut terbukti, ketika kenikmatan hidup yang sudah dikuasai itu, sebagian kecilnya diminta Tuhannya kembali, baik sebagai shadaqah maupun kafarat untuk dirinya sendiri, dengan janji akan diganti berlipat ganda, sebagaimana firman-Nya : “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Q.S : 2/261).

Maka sebagian besar manusia enggan melepaskannya, kalau terpaksa harus dilepas, yang sedikit itu dilepas juga tapi disertai menyebut-nyebut kembali dan bahkan dengan penuh riya‘ kepada manusia.

Sebagaimana sinyalemen yang sampaikan Allah dengan firman-Nya: “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian.” (Q.S. Al-Baqarah (2) : 264).

Terlebih ketika bagian kehidupan duniawi yang dicintai itu diminta kembali oleh yang punya untuk selamanya, seperti kematian salah satu anggota keluarga misalnya, kalau yang dipanggil menghadap itu terpaksa harus dilepas, karena memang sudah tidak ada kemanfaatan yang bisa diharapkan darinya, jasad kaku itu dilepaskan juga tapi dengan perasaan duka yang mendalam, menangis bersedih tiada henti seakan dirinya sendiri akan hidup selamanya.

Terlebih lagi ketika yang tutup usia itu adalah orang yang selama ini menanggung kebutuhan hidupnya, kesedihan orang yang hatinya duka itu kadang-kadang mampu menghilangkan kesadaran diri, lupa bahwa selama ini yang menghidupi dirinya itu sejatinya adalah Allah yang setiap hari disembah didalam sujudnya.

Kalau memang benar bahwa segala kenikmatan hidup yang dicintai itu adalah sarana ibadah, pertanyaannya, besar manakah nilai sebuah sarana yang diharapkan dapat menyampaikan kepada tujuan, daripada Allah sebagai tempat tujuan akhir dari ibadah yang dilakukan itu?

Maka apabila Allah memintanya kembali, terlebih itu hanyalah sebagian dari yang ada, dengan alasan apapun, seharusnya orang yang beriman itu sanggup melepaskan dengan ridha dan hati selamat, kalau tidak demikian, berarti pernyataan mereka di depan, bahwa dunia adalah perladangan akhirat, hanyalah omong kosong belaka.

Allah berfirman: “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (Q.S. Al-Ankabut (29) : 64).

Khianat bisa jadi artinya pembangkangan yang tersembunyi atau kejahatan yang dirahasiakan di dalam rongga dada, demikian yang di isyaratkan Allah dengan firman-Nya: “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (Q.S. Al-Mu'min (40) : 19).

Allah tetap akan mengetahuinya meski khianatnya hati itu selalu ditutupi dengan senyum ramah, seperti senyuman orang munafik kepada orang yang mereka benci, oleh sebab itu Rasulullah Saw bersabda ketika Beliau berdo'a :

وَطَونَمسَؾَقِهٔماظلٖلاَمُمؼَؼُوِلُ:م(اَظؾّفُمٖمإِغٚيمأَسُوِذُمبٔكَمعٔنَماظْفُوِعِمصَنِغٖهُمبٔؽُِّماظضٖفٔقِعِم
وَعٔنَماظْكٔقَوغَئمصَنِغٖفَومبٔؽِلَيُماظْؾَطَوغَئ).مخََّجَهُماظـٖلَوئٔيمسَنِمأَبٔيمػَُّؼَِّةَمم

Dan adalah Rasulullah Saw bersabda: “ Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari lapar karena ia adalah penderitaan lambung dan dari khianat karena ia adalah penderitaan batin." (H.R. An-Nasa'i dari Abu Hurairah Ra).

Ternyata khianat itu adalah penyakit hati yang dapat menyebabkan penderitaan batin, bahkan orangnya sendiri kadang-kadang tidak pernah menyadarinya kecuali ketika musibah sudah diturunkan sebagai peringatan bagi orang yang beriman.

Sebabnya, dengan khianat itu, orang yang hatinya sehat pasti merasa bersalah, meski hawa nafsu selalu menghibur pikiran, mencarikan alasan-alasan untuk menutupi kesalahan itu sehingga disaat keadaan sedang baik-baik, maka sakitnya penyakit hati itu tidak terasa, namun ketika orang tersebut sedikit mendapatkan musibah, seketika hatinya menderita, karena disiksa bayangan ketakutan yang datanganya kadang-kadang lebih seram daripada keadaan yang ditakuti itu.

Itulah penyakit hati yang bahkan mampu menelan diri sendiri, menjadikan orang kalah sebelum bertanding, nalarnya tidak dapat berkembang sehingga dunia terasa seakan sempit, maka urusan hidup yang semestinya mudah menjadi sulit, langkah kedepan terhalang angan, jalan penyelesaian pintunya tertutup rapat, tapi bukan oleh keadaan yang dihadapi melainkan oleh hatinya sendiri yang terlebih dahulu telah menciut.

Demikian itu, karena hati itu jauh dari hidayah dan pertolongan yang didatangkan, Allah memberikan gambaran yang lebih konkrit dari arti khianat itu dengan firman-Nya, yang artinya: ”Hai Nabi, katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu: "Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil dari padamu dan Dia akan mengampuni kamu". Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, akan tetapi jika mereka (tawanan-tawanan itu) bermaksud hendak berkhianat kepadamu, maka sesungguhnya mereka telah berkhianat kepada Allah sebelum ini, lalu Allah menjadikan (mu) berkuasa terhadap mereka dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. An-Anfal (8) : 70-71).

Maksudnya, khianat itu boleh jadi menyia-nyiakan kepercayaan yang diberikan orang lain kepadanya, di dalam ayat yang lain Allah memberikan solusi untuk mencegah terjadinya pengkhianatan yang dilakukan oleh suatu kaum: “Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.” (Q.S. An-Anfal (8) : 58).

Jadi, khianat vertikal itu ada dua, pertama khianat kepada Allah, Rasul-Nya dan kepada para Ulama‘-Nya. Apabila itu terjadi, maka orang tersebut pasti akan berbuat khianat yang kedua, yaitu khianat kepada segala kenikmatan yang sudah diterima dari Tuhannya.

0 Response to "Khianat Vertical"

Post a Comment

Terimakasih atas kunjungan anda...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel