Bandingkan Antara Nikmat Allah Dan Kejahatanmu

Maksudnya, kita harus membandingkan apa yang berasal dari Allah dan apa yang berasal dari diri kita, dengan begitu kita akan mengetahui letak ketimpangannya dan kita juga akan mengetahui bahwa di sana hanya ada ampunan dan rahmat Allah di satu sisi dan di sisi lain adalah kehancuran dan kerusakan.

Dengan membandingkan seperti ini, kita bisa mengetahui bahwa Allah adalah Allah dalam pengertian yang sebenarnya dan hamba adalah hamba dalam pengertian yang sebenarnya.

Kita juga akan mengetahui hakikat jiwa dan sifat-sifatnya, keagungan Rububiyah Allah, hanya Allahlah yang memiliki kesempumaan, setiap nikmat berasal dari-Nya sebagai karunia dan siksaan juga berasal dari-Nya yang di timpakan secara adil.

Jika kita tidak membuat perbandingan seperti ini, tentu kita tidak akan bisa mengetahui hakikat diri kita sendiri dan Rububiyah Pencipta jiwa kita, jika kita membuat perbandingan seperti ini, maka kita akan tahu bahwa jiwa kita adalah sumber segala kejahatan dan kekurangan.

Sedangkan hukum yang di milikinya adalah kebodohan dan kezhaliman, andaikan tidak karena karunia Allah dan rahmat-Nya yang mensucikan jiwa itu, tentu ia tidak akan menjadi suci sama sekali, kemudian kita juga bisa membandingkan antara kebaikan dan keburukan, sehingga dengan membandingkan ini kita bisa mengetahui mana yang lebih banyak dan mana yang lebih dominan di antara keduanya.

Perbandingan yang kedua ini merupakan perbandingan antara perbuatan kita dan apa yang datang dari diri kita secara khusus, seseorang tidak akan bisa membuat perbandingan ini jika dia tidak
memiliki tiga indikator, yaitu :
1. Cahaya hikmah.
2. Buruk sangka terhadap diri sendiri.
3. Membedakan antara nikmat dan ujian.

Cahaya hikmah merupakan cahaya yang di susupkan Allah kedalam hati orang-orang yang mengikuti para Rasul, dengan kata lain, cahaya hikmah adalah ilmu yang di miliki seseorang sehingga dia bisa membedakan antara yang haq dan batil, petunjuk dan kesesatan, mudharat dan manfaat, yang sempurna dan yang kurang, yang baik dan yang buruk.

Dengan cahaya hikmah ini seseorang bisa melihat tingkatan-tingkatan amal, mana yang harus di pentingkan dan mana yang tidak di pentingkan, mana yang harus di terima dan mana yang di tolak.

Jika cahaya ini kuat, maka muhasabah juga akan kuat dan sempurna, buruk sangka terhadap diri sendiri amat di perlukan, sebab baik sangka terhadap diri sendiri akan menghalangi koreksi dan kerancuan, sehingga dia melihat keburukan sebagai kebaikan, aib sebagai kesempurnaan.

Membedakan nikmat dari ujian, artinya membedakan nikmat yang di lihatnya sebagai kebaikan dan kasih sayang Allah serta yang bisa membawanya kepada kenikmatan yang abadi dan membedakannya dengan nikmat yang hanya sekedar sebagai tipuan, sebab berapa banyak orang yang tertipu dengan nikmat, sementara dia tidak menyadarinya, tertipu oleh pujian orang-orang bodoh, terpedaya oleh limpahan Allah dan justru kebanyakan manusia termasuk dalam kelompok yang kedua ini.

Tiga indikator ini merupakan tanda kebahagiaan dan keselamatan, jika tiga hal ini di laksanakan secara sempurna, maka seseorang bisa mengetahui nikmat Allah yang sebenarnya, selain itu ada ujian yang berupa nikmat atau cobaan berupa limpahan pemberian, maka hendaklah setiap orang mewaspadai hal ini, sebab dia berada di antara anugerah dan hujjah dan banyak orang yang timpang dalam membedakan dua hal ini.

0 Response to "Bandingkan Antara Nikmat Allah Dan Kejahatanmu"

Post a Comment

Terimakasih atas kunjungan anda...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel