BACA JUGA
Loading...

Penerapan Iradah Dalam Kehidupan

Sehubungan dengan persinggahan iradah (kehendak) ini, Allah telah berfirman : "Dan, janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki Wajah-Nya." (Q.S Al-An'am: 52). Allah berfirman terhadap para istri Nabi Shallallahu Alaihi wa Salam : "Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antara kalian pahala yang besar." (Q.S Al-Ahzab: 29).

Para teolog merasa kesulitan mengaitkan kehendak kepada Allah dan menjadikan Wajah Allah sebagai sasaran kehendak, menurut mereka, kehendak tidak bisa di kaitkan kecuali dengan hal-hal yang baru dan tidak bisa di kaitkan dengan hal-hal yang lama, sebab sesuatu yang lama tidak bisa di kehendaki.

Mereka mena'wili kehendak yang di kaitkan dengan sesuatu yang baru sebagai kehendak untuk mendekatkan diri kepadanya dan mereka menganggap mustahil mendekatkan diri dengan sesuatu yang lama.

Inilah anggapan mereka yang membuat hati mereka menjadi keras, karena penghalang bagi mereka terlalu tebal, karena mereka tidak memiliki ruh perilaku dan keindahan cinta, sebab kehendak bagi orang-orang yang lebih mementingkan perilaku adalah membebakan diri dari kehendak.

Kehendak menurut mereka di anggap tidak sah kecuali bagi orang yang tidak memiliki kehendak. Jangan anggap hal ini kontradiktif, tapi memang inilah yang benar, ada yang berpendapat, iradah adalah kebangkitan hati untuk mencari kebenaran.

Ad-Daqqaq berkata, "Iradah adalah kilatan di dalam sanubari, nyala di dalam hati, cinta yang membara di dalam perasaan, teriakan di dalam batin dan kobaran di dalam hati." Ada yang berpendapat, di antara sifat orang yang berkehendak adalah mencintai Allah dengan mendirikan shalat-shalat nafilah, ikhlas dalam memberikan nasihat kepada umat, merasakan kebersamaan dengan Allah saat sendirian, sabar dalam menghadapi kekerasan para penguasa, mengutamakan perintah Allah, merasa malu karena Allah melihatnya, berusaha melakukan apa yang di sukai sang kekasih, puas dengan yang ada, tidak merasakan ketenangan batin hingga dapat bersua pelindung dan sesembahannya.

Hatim Al-Asham berkata, "Jika engkau melihat orang yang berkehendak menghendaki selain kehendak Allah, maka ketahuilah bahwa dia telah menampakkan kehinaan dirinya." Abu Utsman Al-Hiry berkata, "Siapa yang kehendaknya tidak benar pada permulaannya, maka semakin hari dia justru semakin mundur kebelakang."

Di riwayatkan adanya dua versi pernyataan tentang iradah dari Al-Junaid, tapi sifatnya sangat global dan perlu rincian lebih lanjut, yang pertama dari Ja'far, dia berkata, "Aku pernah mendengar Al-Junaid berkata, "Jika orang yang berkehendak benar, dia tidak memerlukan orang lain yang berilmu." Yang kedua juga dari Ja'far, dia berkata, "Aku pernah mendengar Al-Junaid berkata, "Jika Allah menghendaki kebaikan pada diri orang yang berkehendak, maka Dia akan menghimpunnya ke dalam golongan orang-orang sufi dan mencegahnya bergaul dengan para qari'."

Saya katakan, jika orang yang berkehendak benar dan perjanjiannya dengan Allah benar pula, maka Allah akan memasukkan barakah kebenaran ke dalam hatinya dan mu'amalah yang baik dengan Allah, yang membuatnya tidak memerlukan ilmu yang datang dari pemikiran manusia dan pendapat mereka, tidak memerlukan ilmu yang tidak di butuhkan sebagai bekal ke alam kubur, tidak memerlukan berbagai macam isyarat dan ilmu orang-orang sufi, yang dengan isyarat dan ilmu itu mereka tidak bisa mengetahui nafsu, aib, kekurangan dan amal-amalnya yang rusak.

Sebagai misal, seseorang yang duduk di suatu negeri, siang dan malam sibuk mempelajari ilmu tempat-tempat persinggahan dalam perjalanan, perintang, lembah-lembah yang di lewati, tempat-tempat yang menguntungkan dan segala seluk beluknya. Sementara ada orang lain yang benar kehendaknya dan menempuh perjalanan.

Kebenarannya ini membuatnya tidak memerlukan ilmu orang yang duduk tersebut, jika yang di maksudkan Al-Junaid adalah kebenaran kehendak yang membuatnya tidak memerlukan ilmu halal dan haram, hukum-hukum perintah dan larangan, pengetahuan tentang macam-macam ibadah, syarat, kewajiban dan hal-hal yang membatalkannya, ilmu-ilmu Allah dan Rasul-Nya yang zhahir dan batin, maka tentunya Allah melindungi Al-Junaid dari anggapan seperti ini.

Yang demikian ini hanya di katakan para perampok jalanan dari kalangan zindiq dan sufi, yang tidak melihat itba' Rasul sebagai syarat dalam perjalanan. Orang berkehendak yang benar, maka hatinya akan di bukakan oleh Allah, di beri cahaya dari sisi-Nya dan di tambah lagi dengan cahaya ilmu, yang dengannya dia bisa mengetahui berbagai masalah agama, sehingga dia tidak memerlukan berbagai macam ilmu manusia.

Ilmu itu adalah cahaya dan hati orang yang benar di penuhi dengan cahaya kebenaran, di samping dia juga memiliki cahaya iman, sehingga ada cahaya yang memberi petunjuk kepada cahaya. Al-Junaid ingin memberitahukan, seperti inilah keadaannya. Apa yang di riwayatkan di atas, tentunya hanya sepotong-potong dan tidak menyeluruh.
Kebenaran Al-Junaid membuat dirinya merasa memerlukan ilmu. Tentang keperluan terhadap ilmu ini juga di tegaskan Al-Junaid di tempat lain, bahwa orang yang tidak berilmu tidak akan beruntung, bahwa tak seorangpun boleh berbicara tentang jalan kecuali berdasarkan ilmu.
Dia berkata, "Siapa yang tidak menjaga Al-Qur'an dan tidak menulis hadits, maka dia tidak layak di ikuti, sebab ilmu kami terikat kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah." Tentang perkataan Al-Junaid, "Jika Allah menghendaki kebaikan pada diri orang yang berkehendak, maka Dia akan menghimpunnya kedalam golongan orang-orang sufi dan mencegahnya bergaul dengan para qari adalah para ahli ibadah, baik dengan membaca Al-Qur'an atau melaksanakan berbagai macam ibadah, namun hanya sebatas zhahirnya saja, tanpa di sertai ruh ma'rifat, hakikat iman, cinta dan amal-amal hati.
Mereka sangat mendetail dalam pelaksanaan ibadah, seperti puasa dan shalat, namun semua itu tidak di sertai dengan manisnya amal hati dan keinginan untuk mengasah jiwa, karena memang bukan itu jalan mereka, sedangkan maksud golongan sufi adalah kebalikannya.

Kaitannya dengan masalah iradah ini, Allah telah berfirman : "Katakanlah, 'Setiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing. "(Q.S. Al-Isra' : 84). Penyitirannya terhadap ayat ini terkandung pembuktian yang sangat agung tentang posisi hamba dalam masalah ilmu.

Artinya, setiap orang berbuat menurut keadaan yang membentuknya dan yang sesuai dengan dirinya, orang jahat akan berbuat sesuai dengan keadaan dirinya, begitu pula orang kafir, munafik, orang yang menghendaki keduniaan dan gemerlapnya, akan berbuat yang sesuai dengan keadaan dirinya, orang yang mencintai Allah dengan benar dan tulus, akan berbuat yang sesuai dengan keadaan dirinya, bertindak menurut pembentukan kehendaknya dan yang sesuai dengan keadaannya. 


Selanjutnya baca juga Tiga Derajat Iradah Bagi Seseorang Hamba

0 Response to "Penerapan Iradah Dalam Kehidupan"

Post a Comment

Terimakasih atas kunjungan anda...

TAGS

AKHLAK (117) AQIDAH (116) FIQH ISLAM (102) FIQH MUAMALAH (17) MUSLIMAH (50) POLITIK ISLAM (23) TASAWUF (202) TAUHID (102)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel