Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer
Allah Swt berfirman : "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang di beri ilmu pengetahuan beberapa derajat." (Q.S. Al-Mujadalah : 11). Rasulullah Saw bersabda : "Barang siapa yang menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan dunia, wajiblah ia memiliki ilmu, barang siapa yang ingin selamat dan berbahagia di akhirat, wajiblah ia mengetahui ilmu dan barangsiapa yang menginginkan kedua-duanya, wajiblah ia memiliki ilmu kedua-duanya pula." (H.R. Bukhari dan Muslim).

RAGAM HATI

Hati terdiri dari potensi-potensi dan keragamannya, beberapa ragam hati yang disebutkan Al-Qur'an adalah :
1. Hati bisa ditutup rapat, seperti dalam firman Allah : "Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka dan penglihatan mereka ditutup, bagi mereka siksa yang amat berat." (Q.S. Al-Baqarah 2: 7). Bahwa lantaran sikap mereka yang demikian, kesombongan, juhud (menentang), inad (keras kepala), maka hati dan pendengaran mereka telah dicap oleh Tuhan, artinya kekafiran itu telah menjadi sikap hidup mereka dan tidak bisa dirubah lagi.


Inilah gambaran Allah terhadap orang-orang yang tidak mau percaya terhadap seruan Nabi Muhammad Saw untuk memeluk Islam, sikap mereka akan tetap menolak, apakah diberi peringatan atau tidak diberi peringatan, keadaan hati orang-orang di masa ini pun, kafir maupun muslim, bisa ditutup Allah sehingga sulit untuk bisa menerima kebenaran, yaitu orang-orang yang sombong, suka menentang dan keras kepala.

Bagi orang muslim, tandanya bisa jadi dengan tidak mau melakukan kewajiban, malah sebaliknya melakukan hal-hal yang dilarang-Nya, dirinya mudah bergerak untuk kemaksiatan dan merasa berat untuk menjalankan ibadah.

2. Hati dapat diperluas dan dipersempit. Allah berfirman : "Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia akan melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit, begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman." (Q.S. Al-An,am 6 : 125).

Dalam dasar jiwa tiap-tiap manusia itu tersembunyi sesuatu yang baik, kalau bukan karena jiwa telah sakit benar, kebaikan itu bisa dibangkitkan kembali, setiap manusia diberi hati yang bisa menunjukkan kepada manusia bahwa ia harus hidup dalam kebenaran dan menjauhi keburukan.

Jika bukan karena ia menuruti hawa nafsunya, maka setiap seruan kepada kebaikan dari orang lain, sayup-sayup maupun sangat jelas bunyinya, maka orang itu akan kembali ke jalan yang benar, orang yang hidup dalam kesesatan, dengan demikian, jika ia mampu meninggalkan hawa nafsunya, maka pintu rahmat Allah akan selalu terbuka untuknya.

Dalam waktu sekejap mata saja, jika Allah menghendaki, ia bisa berubah menjadi orang taat dan saleh, setelah sebelumnya berlumur kesalahan dan dosa. Menurut Al-Muhasibi, orang yang berdosa besar pun jika mau kembali kepada Allah, maka dia lebih berpotensi untuk diampuni daripada orang yang berdosa kecil namun dikerjakan secara terus-menerus.

Dalam hadis qudsi Allah berfirman,“Aku tidak akan menerima (permohonan ampun) orang yang terusmenerus mengerjakan sebuah dosa, baik ketika di dunia maupun di akhirat. Tidak ada sesuatu pun yang lebih Aku anggap besar dosanya melebihi terus menerus mengerjakan sebuah dosa.” Alasan Allah sangat murka kepada orang-orang yang terus-menerus mengerjakan sebuah dosa adalah karena mereka telah meremehkan dosa-dosa yang telah dikerjakan.

3. Hati bisa menolak sesuatu, seperti firman Allah : "Bagaimana bisa (ada perjanjian dari sisi Allah dan Rasul-Nya dengan orang-orang musyrikin), padahal jika mereka memperoleh kemenangan terhadap kamu, mereka tidak memelihara hubungan kekerabatan terhadap kamu dan tidak pula (mengindahkan) perjanjian. Mereka menyenangkan hatimu dengan mulutnya, sedang hatinya menolak." (Q.S. Al-Taubah 9: 8).

Bisa jadi ada di antara kita berlaku seperti orang-orang musyrikin itu, dengan mulut orang-orang mengaku iman dan Islam, itu termasuk “janji” mereka kepada Tuhan dan dirinya sendiri, tapi janji hanya tinggal janji, jika tidak karena amat terpaksa mereka tidak mau menjalankan ajaran-ajaran Islam, hal ini karena iman itu belum masuk ke dalam hati, atau hati mereka belum benar-benar beriman.

4. Hati bisa berpaling, seperti firman Allah : "Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar, yang mengikuti Nabi Saw dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka." (Q.S. Al-Taubah 9 : 117).

Iman manusia akan diuji, sesuai dengan kondisinya masing-masing, adakalanya manusia merasa putus asa dalam menjalani hidup ini, sebab ujian hidup yang dihadapinya terasa amat berat, akan tetapi, asalkan manusia kemudian menyadari kekhilafan yang diperbuatnya, Allah akan mengampuninya.

Abdullah Yusuf Ali dalam tafsirnya menulis bahwa “menyimpang dari tugas” hanyalah kecenderungan yang terbawa oleh sifat kelemahannya sebagai manusia dalam menghadapi kesulitan-kesulitan baru, pada saat iman kuat dalam hati, manusia mampu mengatasi setiap kesulitan yang menimpanya dalam hidup ini, tapi jika iman sedang lemah, bisa jadi manusia tidak tahan menghadapi kesulitan-kesulitan hidupnya, iman menghendaki perjuangan yang hebat dalam batin.

5. Hati bisa mengingkari, seperti dalam firman Allah : "Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaan Allah),
sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong." (Q.S. Aln-Nahl 16: 22). Tidak sedikit orang yang memiliki sifat seperti mereka itu, ingkar kepada Tuhan Yang Esa atau juga percaya tapi tidak mau menjalankan perintah-Nya, karena alasan yang bersifat duniawi.

Disadarinya atau tidak, manusia telah menjadi hamba materi, sebab hanya kesenangan duniawi saja yang dikejarnya dalam hidup ini, ia tidak peduli bagaimana nasibnya di akhirat nanti, sikap hanya mencari keuntungan duniawi itulah yang mengakibatkan hatinya menolak untuk percaya dan taat kepada Tuhan, padahal kehidupan dunia ini hanya sebentar saja, setelah kematian menghampiri manusia, akan ada kehidupan alam kubur dan alam akhirat, tempat manusia menerima balasan dari setiap amal perbuatannya, mengapa tidak banyak di antara manusia yang bisa mengambil pelajaran dari semua ini.

6. Hati dapat ditundukkan, seperti firman-Nya : "Agar orang-orang yang telah diberi ilmu, menyakini bahwasanya Al-Qur'an itulah yang hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus." (Q.S. Al-Hajj 22 : 54).

Selama manusia hidup di dunia ini tidak akan pernah luput dari ujian dan bujuk rayu setan, ujian itu ada untuk menilai seberapa besar keimanan seseorang terhadap Tuhannya, syetan merayu manusia agar ia berpaling dari percaya dan taat kepada Tuhan, sehingga ia bisa menjadi temannya kelak dalam kesengsaraan yang panjang, oleh karena itu, suatu keharusan bagi manusia untuk belajar menuntut ilmu, baik dengan cara mengembara atau dengan cara mengasah hati untuk merenung dan menghayati segala sesuatu yang terhampar dan terjadi di dunia ini, jika cukup ilmu dalam diri seseorang, maka setiap ujian yang menerpanya malah akan semakin menambah kuat keimanannya dan godaan syetan yang berusaha memalingkannya dari kebenaran itu akan bisa di atasinya.

7. Hati secara sengaja memutuskan untuk melakukan sesuatu, seperti firman-Nya : "Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka, itulah lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama maula-maulamu, tidak ada dosa atasmu terhadap yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu, adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Q.S. Al-Ahzab 33 : 5).

Ayat yang serupa ini terdapat dalam Q.S. Al-Baqarah 2: 225, Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun, inilah yang disebut akhlak Qurani itu, dalam Islam itu nyata bahwa tidak boleh memanggil seseorang dengan sebutan yang buruk, apalagi menghinakan mereka karena perbedaan warna kulit, suku, aliran, bangsa atau golongan, sebab manusia di sisi Allah mempunyai derajat yang sama.

Terlebih lagi jika perbuatan menghinakan itu dilakukan dengan sengaja hati sadar sepenuhnya, bukan karena ketidaktahuan atau kekhilafan, ini juga pelajaran buat kita semua, bahwa bisa jadi jika kita melanggar aturan seperti ini, yang mungkin dianggap sepele, akan berakibat buruk bagi masyarakat, dari sentimen kesukuan, aliran, atau golongan itu, jika tidak segera diatasi akan timbul situasi chaos dan anarkis, yang akan merintangi terwujudnya masyarakat yang damai dan tenteram.

8. Hati merasa kecewa dan kesal, seperti firman Allah : "Apabila hanya nama Allah saja yang disebut, kesalahan hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama-nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati." (Q.S. Al-Zumar 39: 45). Dalam ayat ini bertemu kalimat “isyma-azzat”, yaitu mendongkol. Mujahid memberi arti “kecewa”, Al-Suddi memberi arti “menjauh”, sedangkan Qatadah memberi arti “kafir dan menyombong.”

Di dalam ayat ini nampak sikap orang-orang kafir itu, bahwa mereka bukan saja tidak mau menerima ajaran Nabi Muhammad Saw, tapi juga mereka sangat membenci ajaran itu, bahwa Tuhan itu Esa, tidak mungkin lebih, oleh sebab itu, jika sampai ke telinga mereka tentang ajaran Nabi Muhammad Saw, hatinya merasa kesal, sebaliknya, mereka merasa telah berada dalam kebenaran dengan menyembah patung-patung yang dibuat oleh sesama mereka sendiri, bahkan berbahagia hati karenanya.

Sifat mereka ini menurut Ali mirip dengan sifat syetan, sikap mendongkol yang timbul dari rasa benci itu tidak akan timbul kalau bukan karena hati mereka memang telah diselimuti oleh hawa nafsu, dalam kondisi ini setan amat mudah membuatnya bersikap buruk atau nampak seperti orang yang an-educated (tidak berpendidikan) atau biasa disebut jahiliyah.

9. Hati dapat berprasangka, seperti dalam firman-Nya : "Tetapi kamu menyangka bahwa Rasul dan orang-orang mukmin tidak sekali-kali akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya dan syetan telah menjadikan kamu memandang baik dalam hatimu persangkaan itu, dan kamu telah menyangka dengan sangkaan yang buruk dan kamu menjadi kaum yang binasa." (Q.S. Al-Fath 48 : 12). Mereka menyangka kaum muslimin lemah tidak berdaya, tidak mempunyai kesanggupan berdiplomasi dan kalau telah berhadapan dengan musuh akan kalah saja terus, sebab musuh itu banyak, dalam pandangan Yusuf Ali sikap seperti ini hanya akan menimbulkan kekecewaan dalam hati.

Ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang enggan ikut serta bersama Nabi Saw dan rombongan pergi ke Hudaibiyah, karena cintanya kepada keluarga dan harta, pertimbangan duniawi sering menimbulkan prasangka buruk dalam hati manusia, di kiranya ia akan mendapatkan kesengsaraan dan kesulitan dalam hidup jika berjuang di jalan Allah.

Kalau bukan karena percaya kepada Tuhan, misalnya, bershadaqah dan berzakat itu akan dianggap mengurangi harta, tapi Al-Qur'an meyakinkan bahwa hal itu akan malah membuat rezeki yang bersangkutan makin bertambah, bahkan dalam Islam, rezeki itu bisa datang dengan tanpa diduga sama sekali sebelumnya (min haitsu la yahtasib).

Jadi sebaiknya orang berprasangka baik (husnuzh-zhan) atau percaya, bahwa barangsiapa yang berjuang di jalan Allah, niscaya Allah akan memberikan petunjuk kepada kebaikan, Allah tidak akan membiarkan ia hidup dalam kesempitan dan kesengsaraan.

10. Hati dapat diuji, seperti dalam firman Allah : "Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah Saw, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertaqwa, bagi mereka ampunan dan pahala yang besar." (Q.S. Al-Hujurat 49 : 3).

Penting memahami etika dalam belajar, diskusi, seminar, pengajian dan lain semacamnya, jika hendak bertanya, sebelumnya dipikirkan apakah masalah itu penting untuk diketahui dan ia sendiri benar-benar belum tahu jawabannya, jika tidak ada dua syarat tersebut, lebih baik buatnya untuk tidak bertanya, melainkan mendengarkan saja apa yang dibicarakan orang lain itu, sebab hal ini merupakan ujian bagi kejernihan hatinya, apakah dirinya mampu menahan dorongan untuk berkata hal-hal yang sebenarnya tidak perlu, seperti dibisikan kata hatinya sendiri, apalagi jika pertanyaan itu bermaksud menyudutkan atau mencari kelemahan orang lain, ini jelas dilarang.

Dari uraian tentang potensi-potensi hati di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa hati itu kadang berpotensi baik, seperti dapat ditundukkan dengan ilmu, tapi hati juga bisa berpotensi buruk, seperti bisa ditutup rapat dari kebenaran, menolak, mengingkari, kesal, dan berpaling dari kebenaran.

Di sisi lain, hati pun mengandung dua potensi, baik dan buruk, seperti bisa diperluas dan dipersempit, memutuskan sesuatu, dan dapat diuji, jadi hati itu memiliki potensi baik dan buruk, positif dan negatif, oleh karena itu, manusia harus berjuang untuk mengembangkan dan mengeluarkan potensi-potensi hatinya yang baik, sehingga menjadi sikap atau karakter hidupnya, sebaliknya, ia harus berusaha pula mengalahkan dan mematikan segala potensi buruk yang ada dalam hatinya, sehingga ia terjaga dari bisikkan syetan dan hawa nafsu, bahwa iman itu menghendaki perjuangan yang hebat dalam batin.

Posting Komentar untuk "RAGAM HATI"