Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer
Allah Swt berfirman : "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang di beri ilmu pengetahuan beberapa derajat." (Q.S. Al-Mujadalah : 11). Rasulullah Saw bersabda : "Barang siapa yang menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan dunia, wajiblah ia memiliki ilmu, barang siapa yang ingin selamat dan berbahagia di akhirat, wajiblah ia mengetahui ilmu dan barangsiapa yang menginginkan kedua-duanya, wajiblah ia memiliki ilmu kedua-duanya pula." (H.R. Bukhari dan Muslim).

Penjabaran Martabat Tujuh

Inti dari masalah seputar martabat tujuh yang di kenal di kalangan para sufi adalah menyangkut pada proses asal kejadian manusia itu sendiri, berikut ini secara ringkas :

1. Ahdiyah (Dzat-Nya).
2. Wahdah (Hakikatul Muhammadiyah, Sifatullah);
3. Wahiddiyah (Hakikat Insan, Asma, Ruh);
4. Alam Arwah (Hakikat segala makhluk bernyawa, ruh hayat);
5. Alam Mitsal (Hakikat segala bentuk rupa);
6. Alam Ajsam (Hakikat segala bentuk tubuh/raga), dan
7. Alam Insan (Hakikat segala manusia).

Paham yang terdapat dalam uraian martabat tujuh ini berupa paham bahwa segala sesuatu ini pada hakikatnya adalah af’al Allah yang Maha Menggerakkan, membuat sesuatu di sekalian alam ini hingga pada masa keabadian, namun perlu di ingat bahwa pada setiap yang terlihat secara lahir ini adalah bukanlah Tuhan tapi ciptaan Tuhan yang sedang berproses menuju ke alam keabadian kelak setelah hari kiamat dan proses segala bentuk hisab selesai di lakukan oleh Allah Yang Maha Esa, contohnya adalah es dan salju yang pada hakikatnya adalah air walaupun terlihat bukan semacam air, tapi asal kejadiannya adalah air.

Dalam Al-Fatiha ada inti dari yang di maksud, yaitu Dzat, Sifat, Asma dan Af’al adalah sesuatu yang satu dan bersifat tunggal, artinya adalah inti dari ketauhidan menuju kepada Allah Yang Maha Esa, nah jalan ini senantiasa di baca ketika shalat dan malah bacaan wajib karena semuanya terkandung Surat Al-Fatiha, jalan ini setiap saat dan waktunya di lakukan oleh para hamba Allah menuju kepada-Nya.

Jalan untuk mengenal Allah prosesnya harus dari bawah dan di pahami satu persatu dalam kehidupan beribadah, yakni Dzat, Sifat, Asma dan Af’al Allah yang mana penerapannya mesti sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw, dalam memahami segala sesuatu yang bersifat dzat ini sangat rumit dan terkesan hal yang mustahil, ia hanya bisa di pahami secara bathiniah bukan secara lahir, misalnya adakah yang tahu dzat air? Asal kejadian air dari apa? 

Air sifatnya meliputi pada yang sesuai padanya, bergerak horizontal kebawah dan mengalir kesamping muka depan dan belakang, air dzatnya melumuri tiap sesuatu yang terkena padanya, air namanya banyak, ada air putih, air kopi, air the dan lain sebagainya, air sifatnya mengalir dan memenuhi ruang sesuai banyaknya, air mempunyai perbuatan seperti banjir, kotor dan lain-lain .

Dalam diri manusia bisa di jabarkan secara umum, yaitu dzatnya adalah hidup, sifatnya rasa, asmanya bisa pemarah, pendendam, penyayang dan lain-lain, af’alnya adalah juga banyak dan mirip dengan asma, yaitu bisa pemberi, mengasihi, meminta, mencintai dan lain sebagainya, sudah sedikit berbeda dengan bentuk ciptaan Allah yang lainnya yang bersifat kebendaan. Mengenai perwujudan dir adalah rahasi Allah identik pembagian penjabarannya dengan alam sebanyak 7 (tujuh) alam yang bisa terlihat pemahamannya dari Surat Al-Ikhlas, yaitu :

- Qulhuwallahu’ahad (Ahdah).

- Allahusshamad (Wahdah).

- Lamyalidd (Wahidiah).

- Walamyuuladd (Alam Ruh).

- Walamyakullahu (Alam Mitsal).

- Kuffuan (Alam Ijsam).

- Ahad (Alam Insan).

Adapun alam yang di maksud dengan sebanyak 7 (tujuh) itu adalah :

Alam Lahut, alam ini bersifat tidak ada dalam kenyataan secara lahiriah dan di katakan dengan Dzat Ahadiah, karena ini adalah Dzat Kesucian Allah yang Maha Esa dengan di katakan uraiannya adalah “Hu” adalah bermakna Dzat Tuhan yang Esa semata, “Ghaibul Ghuyub” yang berarti tidak bertempat di manapun juga. “Ahadiah” bermakna pengenalan soal ini para Nabi dan Rasul pun tidak sampai, apalagi manusia biasa, yang mengetahui hanya Allah. “Ghaibul Hawiyah”, bermaksud Ia tidak berakal layaknya manusia, tapi lebih dari segalanya. “’Ujudul Mutlak” yang artinya tiada yang hakiki selain-Nya. “Abadan Abada” maknanya tiada yang mengetahui ujudnya selain-Nya. “Latain” tiada dapat di pikirkan akal manusia. Selanjutnya alam lahut adalah juga martabat Latain, Dialah yang mutlak yang tiada berhimpun dan bertempat, hanya semata-mata Dia yang meliputi segalanya, hanya Dia yang tajalli dengan sendirinya, ghaib sepenuhnya dan semua sangat rahasia dari manusia.

Alam Jabarut, alam ini dalam martabat tain awal, maksudnya kenyataan yang pertama atau awal, selanjutnya di dalam martabat tain awal ini Tuhan bernama :

- Wahdah;

- Aghnaghul Mutlak;

- Ujud Amya;

- Ujud Do’a;

- Nur Allah;

- Nur Ahdiyah, dan

- Nur Syaksani.

*Asma sifat Tuhan dengan nama Allah 9Wahdah) mempunyai aksud dengan Kasrah yang bermakna Huruf dan Huruf itu adalah Asma.

*Sifat Allah dan Dzat Allah juga bersama dengan Hakikatul Muhammadiyah dengan Dzat yang berdiri pada Allah yang menjadi hakikatnya.

*An-Nun, tinta, tapi bukan tinta dari segala huruf, namun adalah rupa dari gambaran segala hakikat yang maujud secara ijmal.

*An-Nuat bermakna benih yang di dalamnya berhimpun secara umum sutau pokok utama semisal batang, dahan, daun dan lain sebagainya untuk perumpamaan hakikat segala sesuatu itu bermula.

*Nuqthah, adalah titik yang satu dan Ia merupakan asal dari segala huruf dan mengandung serta menerima segala huruf yang akan di suratkan. Nurullah, Nur Ahdiyah, Ruh Izapi, Hakikat Ruh, Nyawa Muhammad, Nyawa Ruhani, Qalbiy dan Titik adalah Ba., sewaktu di alam jabarut itu nyata Nur Muhammad yang di ciptakan Allah dari Nur Dzat Allah, maka dari itu di sebut dengan Napi dan Itsbat yang tetap berhimpun tidak terpisah.

3. Alam Malakut, ini adalah alam nyata yang kedua, alam malakut ini di katakan dengan tain sani yang bermakna kenyataan yang kedua, berisikan Dzatul Ahdiyah Sifatul Wahdah, kembali ke tain sani adalah dengan terurai sevagai berikut yang bernama :

- Wahidiah;

- Allah;

- Rahman;

- Rahim;

- Bismillahirrahmaanirrahiim;

- Dzatul Ma’bud, dan

- Laailaahaillallaah.

Muhammad waktu berada di dalam A’yan Sabitah, artinya ciptaan yang wujud sebelum wujud segala yang lainnya. Tidak ada waktu itu melainkan Dzat-Nya dan segala sifatnya adalah Qadim, waktu ini belum keluar kata KUN.

*Al-Kanzul Makhfi, yaitu perbendaharaan yang tersembunyi.

*Al-‘Amma, yaitu yang kelam atau gelap.

*Hal di atas terkandung dalam pengertian Alam Hakikat, Ruhani, Nyawa Adam, Alam Qalbiy, Alam Insan Bathin dan Alam Akhirat, maka jadilah ruhani dengan nama nyawa Adam yang selanjutnya sama dengan nyawa semua manusia, sebelum mempunyai tubuh di namakan dengan Ruhaniah, ruhani inilah yang mendo’akan jasadnya dan terjadilah Adam, Adam inilah awal manusia, di waktu Tain Sani ada Napi Itsbat yang berhimpun dan terpisah, karena itu Tuhan jadikan pula alam dengan sebutan Alam Ruh dari Alam Malakut. Dari Alam Malkut ini hadir beberapa alam, yaitu :

- Alam Ruh;

- Alam Mitsal;

- Alam Ajsam, dan

- Alam Insan.

Selanjutnya adapun ruhani itu adalah af’al Muhammad, Ayan Sabitah nama Muhammad, Insan Sifat Muhammad, Dzatul Muqid Dzat Muhammad, maka semua yang tersebut ini adalah baharu. Af’al Muhammad jadi pohon dunia, dunia ini tempat ruh-ruh yang berjasad dengan lembaganya yang bernama manusia, lembaga dengan tubuh itu di namakan dengan jasad, selanjutnya ruhani bisa beraktifitas secara keseluruhan sebagaimana di katakan Allah : “Adakah Aku ini Tuhan kamu? Berkata mereka dengan jawaban “Bala Syahiduna”.

4. Alam Ruh, arwah, nur Muhammad, tain tsalasa. Nur Muhammad dan sekalian lainnya keluar dari yang berkekalan untuk menjadi alam luar, yaitu dari Nur Muhammad yang meneruskan perkataan “KUN”, jadilah, maka jadilah :

- Alam gaib Arsyur Rahman;

- Arsyur Azim;

- Arsyur Karim;

- Al-Kursi;

- Jabal Qaf;

- Bumi;

- Langit;

- *Alam Ruh yakni arwah segala mursalin, anbiya dan segala mukminin.

- *Ashlul Arwah yaitu Khatamun nabiyy wa syaidul mursalin wa rahmatul lil ‘alamiin.

- *Nur Muhammad, Alam Nyawa, Martabat Wujudiah dan Alama berada di bawah kalimat KUN dengan Alam Saghir dan Kabir, tain tsalasa, alam ruh dan nyawa kita. Adapun alam ruh lebih dulu di jadikan Allah dari dunia, dunia ini adalah perahu untuk berlayar kepada ruhaniah tersebut yang datang ke dunia ini menjalankan segala bentuk tugas pokok dan fungsinya serta sesuai dengan peranan masing-masing setelah di gariskan ketentuannya.

- Sebab adanya ruhani itu, maka ada pula yang namanya jawahir basit, yaitu :

- Fuad;

- Kalbun;

- Labbin;

- Sudur;

- Kabad;

- Sauda’, dan

- Syifap.

- Semua itu adalah anasir ruh yang selanjutnya adalah nafsu dan mujahidah pada masing-masing dengan tempat sesuai maqamnya. Di sebabkan hal ini pula maka hadir jalan nafsu, yaitu hati sanubari dan hati nurani, secara umum bermula ruh-ruh ini taat di sisi Allah, setelah berganti nama dengan nyawa serta mempunyai lembaga dan jasad masing-masing, maka ruh itu mempunyai pula 3 (tiga) martabat, yakni martabat amar, martabat hati nurani dan martabat ubudiah. Selanjutnya ruh yang tidak taat setelah adanya lembaaga dan jasad itu menjadi pula 3 (tiga) martabat, yakni martabat binatang, sejenis dengan syaithan dan bila terlepas bernama martabat hati sanubari.

- Alam ruh jelas alam gaib, gaib dari alam dunia, di sanalah nyawa manusia yang sebelum ada tubuh bersemayam, setelah selama lebih kurang 125 tahun adanya Nur Muhammad terwujud dan semua nyawa manusia di sebut dengan ruh, setelah berjasad ia hidup terlahir ke dunia, maka barulah ada tingkatan dan derajad masing-masing di sisi Allah dan nyawa itu tidak lagi bernama ruh, hanya apabila jasad itu mati kembali (wafat) melebur namanya menjadi jiwa, dengan nyawa ia bernama ruhani pulan bin/binti pulan, dengan naama jiwa ia di sebut pula dengan nama jiwa, yaitu :

- Jiwa Amarah;

- Jiwa Lawamah;

- Jiwa Sawiah;

- Jiwa Natikah;

- Jiwa Mulhammah, dan

- Jiwa Mutmainnah.

Di kala meninggal nama apa yang tertulis maka di sesuaikan dengan amal perbuatannya seperti sifat-sifat di atas.

5. Alam Mitsal, alam segala bentuk rupa, terpisahnya sifat Ruh Muhammadiah, berupa alam khayal atau ardhul haqiqah, di namakan dengan alam mitsal makhluk, yaitu ruh yang suci dengan nama jisim hewan lahir di maqam jantung, jisim mujadi lahir di hati, jisim nabati lahir di hati, jisim insan lahir di otak.

Di alam mitsal ruh Muhammad tercerai dengan ruh-ruh lainnya dengan berbagai nama, tetapi mulanya tetap di namakan dengan ruhaniah, semua ruhaniah itu berasal dari ruh Muhammad. Dari itu maka wajiblah asaz dan dasar ilmu ruhani ini berafiliasi keimanan teguhnya kepada Allah dan Muhammad Rasulullah. Jika tidak berpegang kepada ajaran dari asaz tersebut maka bukanlah ruhaniah dari orang-orang mu’min atau orang-orang Islam, nyawa-nyawa manusia yang bukan dari keimanan dan berketuhanan dan hanya memperturutkan jalan nafsu yang buruk melalui hati sanubari dengan syahwatnya dan jiwa raaga yang memandang dzahir alam ini semata-mata dengan sifat keduniaan.

Alam mitsal adalah tingkat kelima dalam proses untuk menuju kepada tajalli pada diri dalam menyatakan dan menyingkap tabir rahasia diri-Nya untuk di emban oleh setiap manusia yang seterusnya menyatakan dirinya melalui rahasi Allah dengan nyata sesuai pemahamannya. Alam mitsal ini terkandung dalam “walam yakullahu” pada surah Al-Ikhlas dalam keadaan yang tidak boleh di uraikan secara asal, yang mana seterusnya menjadi “di”, “mani” dan “wadi” yang selanjutnya di salurkan kesatu tempat yang bersekutu di antara diri dan rahasi bathin (ruh) dengan diri kasar secara hakiki di dalam tempat yang di namakan dengan rahim (alam rahim), tubuh rahasia ini tetap hidup sebagaimana walnya tetapi dalam keadaan rupa yang elok dan tidak binasa sebagaimana bentuknya sebelum bersatunya ruh, lembaga dan jasad, ruh tetap mengenal hidup dan tidak akan mati.

6. Alam Ajsam (alam mulki), alam mulki artinya barang yang dapat nyata pada penglihatan mata zahir dengan unsur yaitu :

- Ruh Raihan-ruh keluar masuk;

- Semangat/Asa-ruh keluar tanpa masuk atau sama dengan hilang akal;

- Nafsu-berkehendak pada normalnya kehidupan dunia, seperti makan, minum dan lain-lain;

- Ruh Jasmani-berkehendak pada pasangan, dan

- Hati-sarana atau wadah segala sesuatu berbentuk sifat.

Alam ini di namakan juga dengan alam jasmani, alam nafsu dan berunsurkan alam jamad, nabat, hewan, insani dan jin. Bentuk nyata dari alam Adam yang berunsurkan Tanah, Air, Api dan Angin yang selanjutnya berupa terjemahan untuk Tanah-nurani, Air-nurani, Api –Nur Azam, Angin-Nurani. Kalau ada terdengar di sebutkan Alam Maadan, itu adalah Alam Hewan, Alam Tumbuhan dan Alam Galaksi. Hati sangat luas, karena ia menampung segala bentuk alam tersebut dengan tidak berbilang sesuai pemahaman di berikan Allah. Makhluk yang ingin menjadikan dirinya pada derajad yang sebenar-benarnya insan, maka mengisikan pemahaman pada : Insan Rubbubiah, Insan Musup dan Insan Ubudiah. Pada tempat inilah terserapnya tasawuf dan tasawuf adalah sebagai sarana untuk memahaminya.

7. Alam Insan, yang di sebut juga insan kamil, hal ini tempat berhimpunnya segala alam pengertian ruh, yakni :

- Ahdiyah (Nurani yang Qadim);

- Arwah (Hadith), dan

- Wahdah (Tajalli Akhir).

Adapun alam insan ini adalah perhimpunan dari segala martabat, pada sisi Allah martabat insan itu ada 3 (tiga), yaitu :

- Martabat Insan Rubbubiah (Insan Khawwas);

- Martabat Insan Mauzup (Insan Kamil Wa Mukammil), dan

- Martabat Insan Ubudiah (Insan Kamil Mukamil).

Dalam secara umum pada martabat insan di sisi makhluk adalah sangat banyak, seperti martabat presiden, menteri, bupati dan lain-lain. Tersebab demikian maka terjadilah perpisahannya manusia yang kamil walaupun semuanya dulu berasal kamil semuanya di sisi Allah, tapi setelah ada di wujud alam insan maka tidak sama lagi sesuai dengan qadha dan qadharnya (takdir).