Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer
Allah Swt berfirman : "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang di beri ilmu pengetahuan beberapa derajat." (Q.S. Al-Mujadalah : 11). Rasulullah Saw bersabda : "Barang siapa yang menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan dunia, wajiblah ia memiliki ilmu, barang siapa yang ingin selamat dan berbahagia di akhirat, wajiblah ia mengetahui ilmu dan barangsiapa yang menginginkan kedua-duanya, wajiblah ia memiliki ilmu kedua-duanya pula." (H.R. Bukhari dan Muslim).

RAJAA’ (Harap) dan KHAUF (Takut) PADA ALLAH Swt

“Mereka berseru dan mencari perantaraan ke Tuhan mereka siapakah di antara mereka yang lebih dekat, mereka menghadapkan rahmat-Nya, mereka takut terhadap siksa-Nya, karena siksa Tuhanmu itulah yang pantas di takuti.” (Q.S Bani Isra’il : 57).“Katakanlah (Hai Muhammad) : Saya hanya manusia seperti kamu yang di beri wahyu kepadaku bahwa Tuhanmu hanya Tuhan Yang Esa, maka barangsiapa yang berharap akan menemui Tuhannya, hendaklah mengerjakan pekerjaan yang baik, dan jangan mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (Q.S Al-Kahfi : 110). Rasulullah Saw bersabda,”Janganlah mati seorang kamu, malahan hendaklah ia membaikkan sangka terhadap Tuhannya.” Lalu pada Hadist Qudsi,“Berfirman Allah Swt; Aku menurut sangka hamba-Ku terhadap Aku, maka sangkalah terhadap-Ku apa yang ia kehendaki.” (H.R Bukhari dan Muslim).

Bila seseorang berbaik sangka terhadap Allah Swt, maka baiklah yang akan terjadi, tetapi bila seseorang berburuk sangka terhadap Allah Swt, maka buruklah yang terjadi atas dirinya, berharap kepada Tuhan tidak sama dengan mengangankan (berkhayal), namun berharap kepada Tuhan adalah dengan berjuang (mujahadah) dengan memeras tenaga dan fikiran, peras tenaga terhadap gangguan bersifat nyata (keduniaan) memeras fikiran adalah menghimpunkan akal, fikiran dan hati dari melawan atau berjuang melawan hawa dan nafsu dan segala sifat madzmumah (buruk) yang senantiasa bersumber dari godaan dan hasutan iblis dan syaithan pada kalbu atau hati manusia melalu rasa atau sifat was-was, berbeda dengan khayal atau angan identik dengan mengharapkan sesuatu dengan bermalas-malasan tanpa ada suatu perjuangan untuk meraihnya.

Harap dan takut adalah laksana dua sayap burung, harus sama kuat dan geraknya, bila tidak amaka mungkin burung itu tak dapat terbang, bila salah satu sayap itu patah, apalagi kalau kedua-duanya, maka mautlah yang menghampiri burung tersebut, tidak sedikit jumlah ayat-ayat dalam Al-Qur’an dan hadist-hadist shahih Rasulullah Saw yang menyuruh umat manusia supaya berharap dan takut terhadap Allah Swt, atau memuji orang-orang yang berharap dan takut kepada Allah Swt.

Perkataan dan pendirian tentang ini adalah karena sudah mencapai tingkat kecintaan kepada Allah Swt (mahabbah) serta ma’rifat atas diri dan tuhannya, tetapi tingkat yang paling tinggi yang di miliki manusia biasa hanyalah para Nabi dan Rasul-Nya, sedangkan mereka ini saja sudah sedemikian takut dan harap kepada Allah Swt mengapa pula kita yang umat biasa daripada Nabi dan rasul tersebut tidak pula mencontohnya?

Dengan demikian maka hendaklah selalu mawas diri akan segala tindak tanduk dan perbuatan sehari-hari, perbuatlah selalu apapun bentuk kegiatan dan perkataan adalah ibadah, jaga lisan dari perkataan yang tidak bermanfaat, laksanakan ibadah yang fardhu dan tertibkanlah segala syarat-syarat dan rukunnya, tambah dengan inadah-ibadah sunnat, gunakan sepertiga malam untuk beribadah kepada-Nya, terjaga di kala malam, berwudhu’lah dan laksanakan ibadah tahajjud, istikharah, membaca Ql-Qur’an dan lain sebagainya, perlakukan sesama dengan sopan, jaga adab dan akhlak sehari-hari, atas kesemuanya itu maka istiqamahlah, niscaya Allah Swt akan cinta kepada kita dan akan di anugerahi-Nya dengan rahmat dan rahim-Nya serta kebahagiaan dunia dan akhirat.

Posting Komentar untuk "RAJAA’ (Harap) dan KHAUF (Takut) PADA ALLAH Swt"