Mata Hati Yang Tembus Pandang

Di dalam haditsnya Rasulullah Saw bersabda:

ؾَوًِلاًَأَنًٖاؾشٖقَورٔقِنًَقَوُوِؿُوِنًَعَؾَىًؼُؾُوِبًٔبَـٔىًآَدَمًَؾَـَظَُٖوِاًأؾَىًؿَؾَؽُوِتًٔ
اؾيٖؿَووَاتًٔ.ً

Seandainya syetan tidak mengitari hati anak Adam, pasti ia melihat kerajaan langit, kalau sekiranya syetan tidak meliputi hati seseorang, maka mata hati mereka menjadi tembus pandang, sorot mata hati mereka dapat melihat alam kerajaan langit.


Tembus pandang itu juga disebut dengan istilah firasat tajam, itulah gambaran mata hati seorang hamba yang telah cemerlang, itu bisa terjadi, karena mereka melihat dengan Nur Allah.

Sorot mata hati mereka telah menembus tirai hijab alam batin atau alam gaib, demikianlah yang disabdakan oleh Rasulullah Saw : “Takutlah akan firasat orang-orang yang beriman, karena sesungguhnya ia melihat dengan Nur Allah”.

Seperti pesawat pemancar yang dipancarkan melalui satelit, pesawat penerima di bumi dengan perangkat antena yang dihadapkan ke satelit, meski berada di manapun tempatnya, pesawat penerima itu dapat menangkap pancaran sinyal yang dipancarkan oleh pesawat pemancar tersebut.

Seperti itulah gambaran mata hati seorang hamba yang berfirasat tajam, disaat mata lahir mereka melihat hal yang lahir, mata hati mereka saat itu juga mampu melihat hal yang batin dibalik hal yang lahir tersebut.

Kongkritnya, ketika mata hati (bashirah) manusia sudah mampu dihidupkan dengan ibadah dan dzikir, sebagai buah dari ibadah tersebut, ketika mata lahir (bashara) manusia itu menatap kepada seseorang secara lahir, maka mata hatinya juga melihat orang tersebut secara batin.

Dengan Nur Allah, mata hati itu mampu menembus lapisan hijab gaib, lalu menerobos memasuki alam kerajaan langit sampai kepada Lauh Mahfudz.

Di alam Lauh mahfudz, sorot mata hati yang telah tembus pandang itu, dengan izin Allah membaca situs yang ada di sana, situs yang menampung data-data orang yang sedang dilihat di bumi tersebut.

Yang dilihat oleh manusia dengan mata lahirnya di bumi itu, adalah manusia dalam sosok personal, sedangkan yang dilihat dengan mata batin di “Lauh Mahfud” (situs), adalah manusia di dalam sosok karakter.

Hakikat masing-masing adalah satu, hanya di batasi sementara dengan ruang waktu (barzah), karena saat itu manusia sedang menjalani tahapan kehidupannya di dunia. Padahal, di dunia itu pun, sejatinya manusia setiap hari dapat keluar masuk di antara dua alam itu, hanya saja pintunya adalah tidur sehingga apa yang dilihat oleh mata hati di alam “Lauh mahfudz” itu harus diterjemahkan lagi dengan ilmu takwil mimpi.

Membakar sekat yang membatasi mata lahir dan mata batin, ketika sekat itu sudah terbuka, maka mata lahir itu seakan-akan melihat sesuatu yang sesungguhnya dirahasiakan di alam Lauh Mahfudz tersebut.

Itu hanyalah sebuah ilustrasi, hasil imajinasi yang mampu digambarkan melalui bahasa tulisan yang sangat terbatas, tentang perihal urusan gaib dan rahasia, gambaran tersebut tentunya masih sangat jauh dari keadaan yang sesungguhnya.

Merupakan sebuah i‘tibar, sekedar rekayasa akal dan pikir dalam mengikuti kemampuan imajinasi manusia yang sangat terbatas dalam memadukan antara ayat yang tersurat dengan ayat yang tersirat, oleh karena itu, apabila didalam tulisan ini terdapat kesalahan yang fatal, semoga Allah mengampuni segala dosa dan kesalahan.

Walhasil, manakala sorot mata hati manusia belum mampu tembus pandang seperti gambaran tersebut di atas, mereka belum mampu melihat rahasia di balik alam lahir yang sedang dilihat oleh mata lahir mereka, hal tersebut berarti boleh jadi hati mereka sedang dalam keadaan keruh atau bahkan mati karena ditutupi oleh hijab nafsu syahwat dan syetan jin yang belum berhasil dirontokkan.

Untuk menghapus hijab-hijab tersebut, tidak seharusnya manusia hanya menyalahkan dan mengutuk syetan jin saja, sebab disamping fungsi syetan memang untuk menghalangi jalan hidup dan keberhasilan manusia melalui rongga dada mereka, juga, karena setan tidak akan mampu menguasai isi rongga dada itu sebelum manusia itu sendiri memfasilitasi jalan masuknya dengan nafsu syahwat mereka.

Oleh karena itu, cara memperlakukan syetan sebagai musuh yang paling utama adalah mengenali tipu dayanya supaya dengan itu manusia dapat menyiasati tipu daya yang dilancarkan.

Hal tersebut apabila dikaitkan dengan sabda Rasulullah Saw di atas, ِ ػَضَقٚؼُوِا ًؿَهَورِقَهُ ًبٔوؾْهُوِع yang artinya, Sempitkanlah jalan masuk syetan itu dengan lapar, maka ibadah puasa adalah satu-satunya solusi paling efektif untuk menolak syetan agar tidak dapat memasuki tubuh dan menguasai hati manusia.

Dengan puasa itu jalan-jalan setan dalam urat darah manusia menjadi sempit, manakala hikmah ibadah puasa itu juga untuk menolak syetan jin, yaitu dengan menyempitkan jalan masuknya ke tubuh manusia, padahal syetan jin adalah musuh-musuh Allah, maka dengan puasa berarti seorang hamba menolong di jalan Allah, barangsiapa yang menolong di jalan Allah, maka ia akan mendapat pertolongan dari-Nya, sebagaimana firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong dijalan Allah, niscaya Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad : 47/7).

Dan firman Allah: “Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu.” (QS. Ali Imran : 3/160). Oleh karena itu, meski syetan jin sebenarnya adalah makhluk yang jauh lebih kuat dibanding manusia, karena jin dapat keluar masuk dalam tubuh manusia, sedangkan manusia, melihat saja kepadanya tidak bisa, namun demikian, oleh karena manusia telah mendapatkan pertolongan dari Allah, maka dengan izin-Nya manusia akan mendapat kemampuan (shultaan) untuk selalu dapat mengalahkan tipudaya syetan jin.

0 Response to "Mata Hati Yang Tembus Pandang"

Post a Comment

Terimakasih atas kunjungan anda...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel