SIAPA ZAID BIN THABIT?

Jati Diri Zaid bin Thabit 

Sejak usianya di awal dua puluh-tahunan, di masa itu, Zaid diberi keistimewaan tinggal berjiran dengan Nabi Muhammad dan bertindak sebagai salah seorang penulis wahyu yang amat cemerlang, dia salah satu di antara para huffaz dan karena kehebatan jati diri itulah yang mengantarnya sebagai pilihan mumtaz untuk melakukan tugas tersebut.

Abu Bakr As-Siddiq Ra mencatat kualifikasi dirinya sebagai berikut :

  1. Masa muda Zaid menunjukkan vitalitas dan kekuatan energinya.
  2. Akhlak yang tak pernah tercemar menyebabkan Abu Bakar Ra memberi pengakuan secara khusus dengan kata-kata, "Kami tak pernah memiliki prasangka negatif pada anda."
  3. Kecerdasannya menunjukkan pentingnya kompetensi dan kesadaran.
  4. Pengalamannya di masa lampau sebagai penulis wahyu.
Instruksi Abn Bakr terhadap Zaid bin Thabit 

Masalah yang pernah dikemukakan di hadapan Abu Bakar Ra semasa menjadi khalifah, sekali waktu seorang nenek menghadap minta penjelasan tentang hak waris dari seorang cucu yang telah meninggal dunia, beliau menjawab bahwa bagian seorang nenek dari cucu tidak disebut dalam Al-Qur'an dan tidak pula beliau ingat bahwa Nabi Muhammad Saw pernah memberi penjelasan akan hal itu, dengan minta konfirmasi para hadirin, Abu Bakar Ra menerima jawaban Al-Mughira yang, saat itu, berdiri mengatakan bahwa beliau hadir saat Nabi Muhammad Saw mengatakan, bahwa bagian seorang nenek adalah satu per enam (1/6). Abu Bakar Ra bertanya pada yang lain barangkali ada orang yang tak sepaham dengan Al-Muhgira di mana Muhammad bin Maslama menegaskan secara pasti.

Guna menyelesaikan tanpa sikap keragu-raguan, ini berarti Abu Bakar Ra pernah minta pengesahan sebelum berbuat sesuatu terhadap penjelasan Al-Mughira, dalam hal ini Abu Bakar Ra, semata-mata mengikuti perintah Al-Qur'an mengenai kedudukan para saksi :
"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk
waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya dan persaksikanlah dengan
dua orang saksi dari orang-orang lelaki di antaramu. Jika tak ada dua orang lelaki, maka

(boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai,
supaya jika orang lupa maka seorang lagi mengingatkannya, janganlah saksi-saksi itu
enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil...."

Hukum kesaksian memainkan peranan penting dalam kompilasi Al-Qur'an (juga dalam metode ilmu hadish) dan merupakan bagian penting dari instruksi Abu Bakar Ra pada Zaid bin Thabit. Ibn Hajar melanjutkan, Ibn Hajar memberi komentar tentang apa yang dimaksud oleh Abu Bakar Ra perihal saksi : "Sepertinya apa yang dimaksud dengan dua saksi berkaitan erat dengan hafalan yang diperkuat dengan bukti tertulis atau, dua orang memberi kesaksian bahwa ayat Al-Qur'an telah ditulis di hadapan Nabi Muhammad Saw atau, berarti agar mereka memberi kesaksian, bahwa ini merupakan salah satu bentuk yang mana Al-Qur'an diwahyukan.

Tujuannya adalah agar menerima sesuatu yang telah ditulis di hadapan Nabi Muhammad bukan semata-mata berlandaskan pada hafalan seseorang saja, pendapat ini diperkuat oleh pendapat Ibn Hajar yang mana "Zaid tidak mau menerima sesuatu materi tulisan yang akan dapat dipertimbangan kecuali dua orang sahabat menyaksikan bahwa orang itu menerima ayat Al-Qur'an seperti diperdengarkan oleh Nabi Muhammad sendiri.

Menurut pendapat Profesor Shauqi Daif, Bilal bin Rabah jalan-jalan mengelilingi kota Madinah melakukan pengecekan tiap sahabat yang hadir dan memiliki ayat-ayat Al-Qur'an yang ia tulis setelah menerima apa yang diperdengarkan oleh Nabi Muhammad Saw sendiri.

0 Response to "SIAPA ZAID BIN THABIT?"

Post a Comment

Terimakasih atas kunjungan anda...