Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer
Allah Swt berfirman : "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang di beri ilmu pengetahuan beberapa derajat." (Q.S. Al-Mujadalah : 11). Rasulullah Saw bersabda : "Barang siapa yang menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan dunia, wajiblah ia memiliki ilmu, barang siapa yang ingin selamat dan berbahagia di akhirat, wajiblah ia mengetahui ilmu dan barangsiapa yang menginginkan kedua-duanya, wajiblah ia memiliki ilmu kedua-duanya pula." (H.R. Bukhari dan Muslim).

TEMPAT PULANG

Manusia senantiasa bepergian bersama nafasnya sejak Allah Swt menciptakannya di dunia dan diakhirat, tak dibenarkan manusia diam selamanya, jika ia diam lebih dari satu tarikan nafas untuk ingat kepada Allah Swt, maka hilanglah fungsi illahiyah daripadanya, yang Maha Haq mempunyai peranan sangat penting dalam setiap nafas makhluk-Nya.

Peranan tersebut merupakan bekas-bekas-Nya pada setiap dzat yang ada dengan cara yang khusus didunia ini, karena itu seseorang yang lalai dalam kehidupan dunia dan untuk kehidupan akhirat dengan mengabaikan nafas-nafasnya sepanjang hidup untuk ingat kepada Allah Swt, maka ia akan kehilangan sangat banyaak kebaikan pada dirinya.

Manusia pada kehidupan akhirat, senantiasa masih berpindah-pindah dari satu keadaan kepada keadaan lainnya seperti mereka hidup didnuia juga, sedang dzat-dzat makhluk tetap dalam kandungan pemeliharaan Allah Swt, yang Maha Haq tiak lain adalah yang Maha Berbuat dan inilah yang dinamakan dengan kalimat “Ilahun”, Pencipta dan Pemberi selama-lamanya, berdasarkan pengertian sifat-sifat ini, kami katakan bahwa Dia senantiasa berpindah-pindah, Memberi dan Mencipta.

Allah Swt berfirman : “Semua yang ada dilangit dan bumi selalu meminta kepada-Nya, setiap waktu Dia dalam kesibukan.” (Q.S Ar-Rahman : 29). Kesibukan-kesibukan tersebut sepadan dengan unsur-unsur alam semesta berikut segala isinya sampai kepada unsur yang tidak bisa dibagi, bahkan mungkin setiap detik sampai kepada satuan waktu terkecil, semuanya bergantung kepada Allah Swt sebagaimana kita juga bergantung kepada-Nya, dialam semesta hanya ada orang yang memohon dan meminta, dan dialam semesta hanya ada kefakiran kecuali diberikan Allah Swt berupa rizki.

Semua hal adalah terbatas, selamanya berada dalam penciptaan yang baru, tetapi manusia masih senantiasa keliru dalam memandang masalah ini, Allah Swt berfirman : “Maka apakah Kami letih dengan penciptaan yang peertama? Sebenarnya mereka dalam keadaan ragu-ragu tentang penciptaan baru.” (Q.S Qaaf : 15). Apakah sulit bagi Kami menciptakan kamu seperti penciptaan pertama ini? Dan letihkah Kami dalam hal ini, hingga kamu bertanya-tanya tentang bagaimana Kami memperbaharui ciptaan?

Dari sisi inilah semestinya orang-orang yang beriman berfikir dalam tafakkurnya dan merasa sangat takjub akan kebesaran tuhannya, taklif manusia masih senantiasa berkelanjutan hingga ia melintasi “Ash-Shirat” yaitu jembatan menuju syurga atau neraka di akhirat kelak setelah proses kematian dan proses-proses lainnya setelah kematian, ketika itu manusia bersifat dzat yang merupakan keharusan bagi dirinya untuk menempuh hal itu, bukan lantaran dorongan perintah atau larangan lagi yang mengandung konsekwensi hukum-hukum sebagaimana didunia, seperti wajib, sunnat, mubah, makruh dan haram, tetapi masanya adalah hasil ibadah sebagai refleksi sebab dan akibat setelah melihat tersingkapnya semua hakikat.

Mengenai keberpindahan derajat di akhirat, kita temukan isyarat mengenai hal-hal tersebut didalam Al-Qur’an, yakni ketika Dia berfirman tentang keadaan kaum mu’minin dan mu’minat yang sedang berjalan di syurga, sedangkan cahaya mereka ada di hadapan dan di seputarnya, yakni : “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya), mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia, sedangkan cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan : "Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami, Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu." (Q.S At-Tahrim : 8). Ayat ini menunjukkan secara jelas, bahwa kenaikan masih senantiasa berlangsung, dan di sana memang ada perpindahan, dan perjalanan itu ada yang dari kekurangan kepada penambahan atau pertambahan yang lebih lagi.

Al-Qur’an berulang kali menyebutkan di berbagai tempat, bahwa hari di kumpulkannya semua makhluk, Allah Swt membukakan hakikat-hakikat makhluk-Nya secara jelas dan nyata, melenyapkan kesamaran dan memutuskan segala perkara mereka, yakni Allah Swt berfirman tentang hal ini, yaitu : Katakanlah : "Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri, dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan." (Q.S Al-An’am : 164).

Pengertiannya adalah, bahwa proses belajar tetap berlangsung dan pembukaan hijab-hijab berjalan terus, dunia adalah halan, akhiratpun jalan, dan perjalanan berlangsung terus tak pernah berhenti, ilmu bertambah terus dan penghasilanpun terus bertambah pula, akan hal gambaran yang polos tentang syurga, bahwa di sana manusia saling merebahkan diri bersantai di pinggiran sunga-sungai syurga sambil menggauli biadadari-bidadari syurga dan memakan buah-buahannya, maka itu adalah gambaran yang dangkal dan hanya sebatas pemahaman pada teks-teksnya saja, gambaran dan pemahaman itu tidak di sertai dengan upaya menembus apa yang ada di baliknya berupa isyarat-isyarat yang sarat dengan pengertian yang kaya ilmu dan keimanan.

Ini sama sekali tidak berarti bahwa kami mengingkari nikmat berupa raga dan nikmat berupa rohani serta siksaan berupa raga secara mutlak, kenikmatan berupa raga atau jasmani adalah suatu kenyataan yang telah di tetapkan, seperti halnya siksaan jasmani juga merupakan kenyataan yang akan di terima dan telah di tetapkan pula, jika Allah Swt berfirman bahwa di akhirat itu ada neraka, maka benarlah di situ ada api yang membakar, tetapi mengingat akan kehidupan antara seorang satu dan seorang lainnya akan saling berlainan, maka di sana orang-orang yang berdosa mampu menahan api dan bisa berbicara, namun rasa siksaan akan di rasakannya sangat pedih, kita akan melihat bahwa di neraka ada pohon zaqqum yang tumbuh dari dasar neraka dan juga terdapat air yang mendidih, semua ini menunjukkan bahwa api tersebut mempunyai sifat ghaib yang berbeda dengan api yang kita kenal sifat-sifatnya di bumi ini sekarang.

Kemudian bukankah buah-buahan yang yang di syurga di gambarkan sebagai tidak akan adanya berhenti untuk berbuah serta kekal? Dan yang tak akan di larang untuk memetiknya dan memakanya, sedangkan buah-buahan di bumi kita kenal sifatnya adalah berdasarkan pada musim-musiman, ada busuk dan ada baik serta ada pula kerdil dan rusak, lalu taman manakah yang luasnya melebihi luasnya langit dan bumi? Maka semuanya itu adalah gambaran berupa isyarat-isyarat yang mengandung kegaiban, kemudian di samping kenikmatan bersifat jasmani ini, di syurga juga terdapat keridhaan Allah Swt yang Maha Agung, dan keridhaan ini juga merupakan satu rahasia lagi yang belum pernah di lihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga dan belum pernah pula terdetik dalam hati manusia merasakannya, dalam kaitan ini, Allah Swt berfirman : “Masukilah syurga itu dengan aman, itulah hari kekekalan. Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki, dan pada sisi Kami ada tambahannya.” (Q.S Qaaf : 34-35). Yang di maksud dengan tambahan di sini adalah melihat kepada Dzat Allah Swtdan berbicara langsung kepada-Nya, ini adalah kenikmatan tersendiri bersifat bathiniah atau rohani, yang tak bisa di gambarkan manusia selama di dunia secara apapun juga, derajat tertinggi di syurga adalah wasilah, yakni yang hanya di miliki oleh seorang saja, yaitu Nabi Muhammad Saw, dengan wasilah beliau kita berdo’a dalam pembukaan shalat, yaitu : “Yaa Allah, semoga Engkau datangkan dan jadikan Muhammad sebagai wasilah dan utuslah beliau pada derajat yang terpuji seperti yang telah Engkau janjikan.” Ini adalah maqam syafa’at teragung yang membuat beliau berhenti di hari Kiamat guna memberikan syafa’atnya pula bagi umatnya.

Dia menampakkan diri dengan penampilan yang belum pernah tergambarkan dalam hati manusia, hingga mereka sangat takjub dan terkesima, Dia bermaksud memberitahukan kepada mereka, bahwa di balik semua gambaran itu ada Dia, tetapi Dia tidaklah seperti sesuatu, tidak ada sesuatupun yang menyamai-Nya dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya, ini adalah sebagian kecil gambaran yang di berikan Allah Swt kepada hamba-hamba-Nya untuk di akhirat selama di dunia ini.

Al-Qur’an menegaskan, yang berupa perkataan Allah Swt dalam Al-Qur’an, yaitu : “Kecuali jalan ke neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Q.S An-Nisa’ : 169). “Mereka kekal di dalamnya, tidak diringankan siksa dari mereka, dan tidak (pula) mereka diberi tangguh.” (Q.S Ali Imran : 88). “Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti : "Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami." Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka, dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (Q.S Al-Baqarah : 167). “Mereka ingin keluar dari neraka, padahal mereka sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya, dan mereka beroleh adzab yang kekal.” (Q.S Al-Ma’idah : 37). “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa kekal di dalam adzab neraka Jahannam. Tidak diringankan adzab itu dari mereka dan mereka di dalamnya berputus asa.” (Q.S Az-Zukhruf : 74-75). “Mereka berseru : "Hai Malik, biarlah Tuhanmu membunuh kami saja." Dia menjawab : "Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)." (Q.S Az-Zukhruf : 77). “Dan mereka berteriak di dalam neraka itu : "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan." Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.” (Q.S Fathir : 37).

Pemikiran tentang keumuman rahmat Allah Swt tidak bisa di mengerti oleh kalangan mereka orang-orang yang berdosa kecuali oleh orang-orang yang beriman saja, Al-Qur’an menegaskan tentang hak mereka dengan lafadz yang terang dan pasti, yang tidak memerlukan interpretasi lagi.

Memahami pengertian kelanggengan di neraka bagi sebagian jiwa manusia, karena sesungguhnya sebagian mereka yaitu orang-orang yang berjiwa angkara murka dan berjiwa buruk terhadap kebenaran adalah senjata dan bahan bakarnya neraka kelak, sifat keapian mereka sama dengan api, bahkan lebih panas lagi untuk menerima kebenaran pada hatinya dan selalu saja ingkar, bukankah Al-Qur’an telah banyak menggambarkan pedihnya nereka bagi manusia dan jin yang lalai dan ingkar terhadap kebenaran? Allah Swt berfirman : “Maka jika kamu tidak dapat membuatnya, dan pasti kamu tidak akan dapat membuatnya, peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (Q.S Al-Baqarah : 24).

Demikianlah kata Allah Swt, mereka adalah bahan bakarnya neraka yang membuatnya semakin menyala-nyala dan semakin hebat, lantaran manusia lebih hebat dari api dan tentu menyalanya lebih hebat lagi, sebagian manusia dan jin lebih hebat sifat keapiannya ketimbang sifat api itu sendiri secara pembawaan dan sikap perilakunya.

Dalam kehidupan akhirat maka mereka adalah bahan bakar dan menjadi bara-baranya api neraka jahannam, hingga nasib mereka adalah kekal di dalamnya sebagai keputusan dari sang Maha Haq dan Maha Memutuskan dengan seadil-adilnya, dan bagi yang berbuat baik dan beramal shalih akan mendapatkan rahmat dan rahim-Nya, maka perolehannya adalah syurga yang penuh dengan kenikmatan yang tiada tara. Berfikirlah!

Posting Komentar untuk "TEMPAT PULANG"