Subscribe:

Senin, 26 Desember 2011

SABDA RASULULLAH SAW SEPUTAR JIMA'

Untuk melengkapi daripada pembahasan kita mengenai masalah jima’ ini untuk dapat lebih memahami bahwasanya segala apapun bentuk perilaku dan perbuatan di dunia dalam agama Islam telah di atur tuntunannya oleh Al-Qur’an dan di jelaskan oleh Rasulullah Saw yang di namakan dengan sunnah atau hadist. 
Tujuannya adalah untuk mencapai karunia limpahan hidayah dari Allah Swt dan mendapatkan keridhaanNya, seseorang hamba jika ingin mengenal dan menuju kepada keridhaan Allah Swt tanpa mau untuk mengikuti dan mematuhi segala aturan – aturannya, maka jangan harapkan akan mendapatkan kasih sayang, rahmat dan rahim dari Allah Swt, apalagi yang namanya ridha Allah Swt, maka hal itu sangat jauh di dapatkan, karena jika tidak mau mengikuti perintah dan menjauhi larangan bagaimana pula bisa mendapatkan rahmatNya? Oleh karena itu makanya marilah kita laksanakan bagaimana aturan – aturan peri kehidupan yang baik dan di rahmati tersebut, berikut kita tambahkan dasar ajaran Rasulullah Saw mengenai masalah di atas dari sekian banyaknya riwayat mengenai hal tersebut, dan berikut kami pilihkan yang paling shahih.
Telah menceritakan kepada kami oleh ‘Amru bin Hafsah dan Abu Naar dari Muhammad bin Al-Haitham dari Ishak bin Hanjih, dari Husaif dari Mujahid daripada Al-Khudri yang berkata : “Rasulullah Saw telah berwasiat kepada Saidina Ali bin Abi Talib Ra, yaitu Rasulullah Saw bersabda kepada Ali :

1)         “Wahai Ali, bila pengantin perempuan masuk ke dalam rumahmu, maka (suruh ia) tanggalkan kasutnya ketika ia duduk dan (suruh ia) membasuh kedua - dua kakinya, maka sesungguhnya apabila kamu berbuat demikian Allah mengeluarkan tujuh puluh (70) jenis kefaqiran dari rumah kamu, dan Allah Swt menurunkan tujuh puluh (70) rahmat yang senantiasa menaungi di atas kepala pengantin sehingga senantiasa keberkatan itu meratai setiap penjuru rumahmu dan pengantin itu sejahtera dari penyakit gila, sawan dan sopak selama mana ia berada di dalam rumah tersebut. Laranglah pengantin itu daripada memakan dan meminum empat (4) jenis makanan ini pada minggu pertama perkawinan yaitu : 1. Susu. 2. Cuka. 3. Ketumbar. 4. Apel asam. Ali Ra lalu bertanya : “Wahai Rasulullah, mengapakah empat jenis makanan ini di larang?” Rasulullah Saw menjawab : “Karena rahim perempuan itu kering dan sejuk, dengan sebab dari empat perkara (makanan) ini untuk menghalang dari dapat anak. Sesungguhnya tikar di penjuru rumah adalah lebih baik daripada perempuan yang tidak dapat anak.” Ali bertanya lagi : “Wahai Rasulullah, mengapakah cuka itu di larang? (semasa haid dan semasa minggu pertama perkawinan).” Rasulullah Saw menjawab : “Apabila ia minum cuka! semasa haidh, sesungguhnya haidnya itu tidak akan bersih selama - lamanya secara sempurna. Mengenai ketumbar ia mengganggu haidh di dalam perutnya dan menyukarkan kepadanya kelahiran. Tentang apel asam, ia memotong haidh sebelum masanya maka menjadikan haidh itu berlalu begitu saja dengan sebabnya.”
2)         “Wahai Ali..! janganlah engkau berjima’ dengan isterimu pada awal (hari pertama) bulan, pada pertengahannya (sehari) dan pada akhir (dua hari) dipenghujung bulan, maka sesungguhnya penyakit gila, dan sopak mudah mengenainya dan anaknya.”
3)         “Wahai Ali..! janganlah berjima’ dengan isterimu selepas zhuhur, sesungguhnya jika Allah mengaruniakan kepada kamu berdua anak karena jima’ pada waktu itu, maka ia akan bermata juling dan syaithan sangat suka kepada manusia yang bermata juling.”
4)         “Wahai Ali..! janganlah bercakap - cakap semasa jima’, sesungguhnya jika Allah mengaruniakan kepada kamu berdua anak dengan jima’ yang demikian, maka anak itu tidak selamat daripada bisu.”
5)         “Wahai Ali..! janganlah lihat kepada faraj perempuanmu dan jagalah pandanganmu sewaktu berjima’, (jika tidak) sesungguhnya mewarisi buta, yaitu anak.”
6)         “Wahai Ali..! janganlah berjima’ dengan perempuanmu dengan syahwat terhadap perempuan lain, maka sesungguhnya yang demikian itu jika Allah mengaruniakan kepadamu berdua anak, anak itu akan menjadi yang bersifat benci dan hina.”
7)         “Wahai Ali..! jika kamu berjunub di tempat tidur, janganlah membaca Al-Qur’an, maka sesungguhnya aku bimbang akan turun kepada kamu berdua api (bala) dari langit yang membakar kamu berdua.”
8)         “Wahai Ali..! janganlah berjima’ dengan isterimu kecuali ada padamu satu tuala dan pada isterimu satu tuala.”
9)         “Wahai Ali..! janganlah kamu berdua menyapu dengan menggunakan satu tuala, nanti akan jatuh syahwat keatas syahwat (salah seorang akan kuat syahwatnya daripada yang lagi satu), maka sesungguhnya yang demikian itu akan mengakibatkan permusuhan kemudian membawa kamu berdua kepada berpecah dan talak.”
10)      “Wahai Ali..! janganlah kamu berjima’ dengan isterimu secara berdiri, maka sesungguhnya yang demikian itu daripada perbuatan kaldai, jika Allah mengurniakan kepada kamu berdua anak, maka anak itu sentiasa kencing di tempat tidur seperti kaldai yang suka kencing di merata-rata tempat.”
11)      “Wahai Ali..! janganlah berjima’ dengan isterimu pada malam ‘Aidil Fithri (raya puasa), maka sesungguhnya jika Allah Swt mengaruniakan kepada kamu berdua anak anak itu seorang yang cacat dan tidak mendapat anak baginya kecuali sudah tua.”
12)      “Wahai Ali..! janganlah kamu berjima’ dengan isterimu pada malam ‘Aidil Adha, maka sesungguhnya jika kamu berdua berjima’ pada malam tersebut, apabila Allah Swt mengaruniakan kepada kamu berdua anak aku bimbang ia akan menjadi seorang yang berjari enam atau empat.”
13)      “Wahai Ali..! janganlah kamu berjima’ dengan isterimu di bawah cahaya matahari (secara langsung) dan terkena warna (cahayanya), kecuali kamu mengenakan tutupan (bumbung), jika tidak maka sesungguhnya kalau Allah Swt mengaruniakan kepada kamu berdua anak, nanti anak itu akan menjadi seorang senantiasa hidup dalam meminta - minta dan faqir sehingga mati.”
14)      “Wahai Ali..! janganlah kamu berjima’ dengan isterimu di bawah pohon kayu yang berbuah, maka sesungguhnya jika Allah Swt mengaruniakan kamu berdua anak, nanti anak itu akan menjadi seorang tukang pembengis,”
15)      “Wahai Ali..! janganlah kamu berjima’ dengan isterimu sewaktu antara azan dan iqomah, jika berjima’ pada waktu demikian, sesungguhnya jika Allah mengaruniakan anak pada kamu berdua, nanti ia menjadi seorang yang menumpahkan darah.”
16)      “Wahai Ali..! janganlah kamu berjima’ dengan isterimu semasa ia hamil kecuali kamu berdua berwudhu’, jika tidak maka sesungguhnya jika Allah Swt mengaruniakan kamu berdua anak, nanti ia akan menjadi seorang yang buta hati dan bakhil tangan.”
17)      Wahai Ali..! janganlah kamu berjima’ dengan isterimu pada pertengahan (Nisfu) Sya’ban, maka sesungguhnya yang demikian itu jika Allah Swt mengaruniakan kamu berdua anak,nanti anak itu akan mempunyai tanda yang jelek pada muka dan rambutnya.”
18)      “Wahai Ali..! janganlah kamu berjima’ dengan isterimu pada akhir bulan (yakni tinggal dua hari) maka sesungguhnya yang demikian itu jika Allah Swt mengaruniakan kepada kamu berdua anak nanti anak tersebut menjadi seorang yang sentiasa perlu meminta - minta.”
19)      “Wahai Ali..! janganlah kamu berjima’ dengan isterimu dengan syahwat terhadap saudara perempuannya! (ipar kamu) karena yang demikian itu sesungguhnya kalau Allah Swt mengaruniakan kepada kamu berdua anak, nanti anak itu akan menjadi penolong dan pembantu kepada orang yang dzalim dan pada tangannya membuat kebinasaan kepada manusia.”
20)      “Wahai Ali..! janganlah kamu berjima’ dengan isterimu di atas loteng maka sesungguhnya yang demikian itu jika Allah Swt mengaruniakan anak kepada kamu berdua nanti anak itu menjadi seorang munafiq, pelampau yang melewati batas.”
21)      “Wahai Ali..! janganlah kamu berjima’ dengan isterimu pada malam kamu hendak keluar musafir karena yang demikian itu sesungguhnya kalau Allah Swt mengaruniakan kepada kamu berdua anak, ia akan membelanjakan harta kepada yang tidak Haq,” dan Rasulullah Saw membaca ayat Al-Qur’an : “Innal mubazziriina kaanu – ikhwan nas – Syayathin.”
22)      “Wahai Ali..! janganlah kamu berjima’ dengan isterimu bila kamu keluar bermusafir dalam tempoh tiga hari tiga malam, maka yang demikian itu sesungguhnya bila Allah Swt mengaruniakan kepada kamu berdua anak, nanti ia menjadi seorang pembantu kepada setiap orang yang dzalim.”
23)      “Wahai Ali..! janganlah kamu berjima’ dengan isterimu pada awal malam, maka sesungguhnya jika di kurniakan anak kepada kamu berdua, ia menjadi seorang tukang sihir, sulap, dan menghendaki dunia daripada akhirat.”

ANJURAN DALAM BERJIMA’

1)         “Wahai Ali..! jika kamu berjima’ dengan isterimu bacalah : “Allahumma Jannibnis Syaitan Wajanibis Syaitan Mimma Rozaktani.” maka yang demikian itu kalau Allah Swt mengaruniakan kepada kamu anak, tidak di mudharatkan oleh syaithan terhadapnya selama - lamanya.”
2)         “Wahai Ali..! hendaklah kamu berjima’ dengan isterimu pada malam Senin, maka sesungguhnya jika Allah Swt mengaruniakan kepada kamu berdua anak, ia akan menjadi seorang yang berpegang teguh kepada kitab Allah (Al-Qur’an) dan ridha terhadap segala pemberian Allah Swt (baik dan buruk Qadha’ dan Qadhar Allah).”
3)         “Wahai Ali..! jika kamu berjima’ dengan isterimu pada malam Selasa, Allah Swt akan memberi kepada kamu berdua anak yang mendapat nikmat Mati Syahid sesudah syahadah : ‘Anla ilahaillallah wa anna muhammadaar rasulullah’ dan Allah Swt, tidak adzabkannya (turun bala kepadanya) bersama - sama orang musyrikin, mulutnya berbau harum yang akan melembutkan hati orang, bersih lidahnya daripada mengumpat, berdusta dan mengadu domba.”
4)         “Wahai Ali..! jika kamu berjima’ dengan isterimu malam Kamis, maka Allah Swt akan mengaruniakan kepada kamu berdua anak yang bijaksana, atau seorang yang alim, di kalangan orang - orang yang alim.”
5)         “Wahai Ali..! jika kamu berjima’ dengan isterimu sewaktu matahari di tengah langit, Allah Swt mengaruniakan kepada kamu berdua seorang anak yang tidak di hampiri syaitan sehingga ia beruban (tua) dan menjadi seorang yang faqih serta Allah s.w.t. rezekikan kepadanya keselamatan agama dan dunia.”
6)         “Wahai Ali..! jika kamu berjima’ dengan isterimu pada malam Jum’at dan nanti anak kamu berdua adalah seorang ahli pidato yang berwibawa dan fasih.”
7)         “Wahai Ali..! jika kamu berjima’ dengan isterimu pada hari Juma’t, selepas Ashar, Allah Swt akan karuniakan seorang anak yang terkenal, masyhur dan alim.”
8)         “Wahai Ali..! jika kamu berjima’ dengan isterimu pada malam Jum’at selepas Isya’ yang akhir, maka sesungguhnya di harapkan anakmu nanti menjadi seorang yang abdal (terkemuka).”
Demikian beberapa riwayat shahih yang kami pilihkan untuk sebagai pegangan dalam masalah jima’ ini.

0 komentar:

Poskan Komentar

Ass.wr.wb...Tinggalkan pesan yang sopan dan sifat membangun!!!

Link Sahabat....