Pada ilmu tasawuf bilamana seseorang hamba bila ruhaniahnya telah bersih
dari segala kotoran penyakit bathin yang buruk dan berpindah atau hijrah kepada
sifat – sifat baik yang di ridhai oleh Allah Swt, maka perjalanan bathinnya
senantiasa berpindah dari satu maqam ke maqam lainnya yang lebih tinggi serta
semakin dekat kepada Allah Swt.
Seseorang hamba tersebut naik derajadnya dari muslimin yang awam jadi
mukminin yang berilmu serta shaleh dan muqarabbin, pada tingkat muqarabbin ini
seseorang hamba telah sangat dekat dirinya kepada tuhan, ruh insannya lenyap
dan ruh tauhidnya yang kosong segera terisi dengan segala rahasia ketuhanan
yang meliputi sifat, asma, af’al dan tajallinya Allah Swt terhadap segala
ciptaanNya, secara kasar dapat di saksikan oleh mata jasmani dan secara bathin
dapat di lihat oleh mata hati yang jernih, ini yang di namakan Hulul
menurut pendapat kami.
Pendapat tentang hulul ini kami tidak sependapat dengan para ulama sufi yang
lain, mereka menyatakan pengertian Hulul adalah “Percampuran ruh antara hamba
dengan tuhannya, seperti hal bercampurnya air dengan gula”, pendapat
ini tidak sesuai dengan prinsip syari’ah, karena ini adalah syirik menurut
pandangan syar’i, sebab Allah Swt maha suci dari percampuran dzatNya dengan
segala sesuatu ciptaanNya, ianya berdiri sendiri dan tidak akan bercampur
dengan segala sesuatu ciptaanNya, Wallahu’alam
bissawab.
Pandangan kami pada hulul ini hanya sebatas pada kenalnya ruh tauhid
seseorang hamba akan segala rahasia sifatNya, Af’alNya, AsmaNya dan TajalliNya
pada segenap alam beserta isinya, segala rahasia ini terbuka di sebabkan adalah
karunia, rahmat dan rahim dariNya jua berdasarkan setelah bersihnya penyakit
bathin yang buruk pada seseorang hamba yang di lakukannya dengan perjuangan (riyadhah)
yang berat melawan hawa dan nafsunya sendiri serta berbagai tipu daya sifat
madzmumah (buruk) yang di tiupkan oleh iblis, jin dan syaithan beserta bala
tentaranya, peperangan inilah yang di hadapi dengan membangunkan balatentara
hati untuk menghadapinya dengan istiqamah pada amal ibadah wajib, sunah serta
rutin dalam melaksanakan tawajjuh (berhadap hati) kepada Allah Swt.
Kebenaran yang tersingkap dan yang di maksud pada hulul adalah sesuatu
yang di karuniakan oleh Allah Swt dalam pandang seseorang hamba pada saat syuhud
fil wahdah dan syuhudul fil kastrah (pandang satu atas yang banyak dan pandang
yang banyak atas yang satu) dan musyahadah dan mukasyafah melalui hati
sanubari yang bersih laksana cermin, saat itu hanya berlaku kehendak Allah Swt
saja bukanlah kehendak hamba, sebab segala sesuatu di alam ini adalah diaNya
yang merajai.
Jadi pengertian bahwa ruh ketuhanan
yang turun atau masuk ke dalam ruh hamba atau makhluk (Hulul) adalah kurang
tepat, akan tetapi adalah turunnya karunia dan hidayahNya kedalam hati sanubari
seseorang hamba, sedangkan pengertian Ittihad menurut kami adalah naiknya
derajad akhlak seseorang hamba dari kehinaan (sifat yang buruk) kepada
kemuliaan (sifat yang baik), inilah yang di maksud panggilan Allah Swt terhadap
hambaNya dengan membawa jiwa yang tenang (nafsu muthma’innah) ke hadiratNya,
yang berarti bahwa hamba tersebut telah di ridhai Allah Swt, dan memperoleh
kemenangan di dunia dan akhirat.
Demikian pendapat yang dapat kami
sampaikan secara singkat mengenai Hulul dan Ittihad, yang mana
pengertian mengenai hal ini selalu menjadi pertentangan antar ulama dari dulu
hingga sekarang.
Wassalam…
Yuherman
